Katakan Amin


Kelak di akhirat akan ada segerombolan orang dari suatu masa yang bertanya,”Kenapa saya tidak dimasukkan surga padahal sudah klik like dan katakan amin?”

Dan sayang sekali…
… Akun-akun klik like dan katakan amin tersebut tidak mampu memberi syafa’at sedikitpun.

Iklan
Read more "Katakan Amin"

Miliarder


Dalam sebuah sesi motivasi, sang pembicara berkata,”Saya ingin jadi miliarder. Karenanya, saya tempel kata miliarder ini di mana-mana. Hape, kamar, dasbor mobil, ruang kerja, kamar mandi.. di mana pun. Bahkan.. saya jadikan password fesbuk saya.” Belum ada seminggu, saya dengar kabar.. Dia belum jadi miliarder. Tapi konon, dia kehilangan akses ke akun fesbuknya. Malang sekali. […]

Read more "Miliarder"

Niche


Setelah bertahun-tahun baca kata ini.. baru tahu pengucapan “niche” yang bener tu gimana. Sebagai orang yang bergiat di dunia start up dan marketing, sudah pasti saya sering baca dan beberapa kali denger istilah ini. Sayangnya… Selama ini ga cari tahu yang bener. Cukup puas dan cukup tau dg asumsi pribadi. Karena ‘niche’ lebih sering saya […]

Read more "Niche"

Ustadz Kondangan, Jama’ah Prasmanan


Biarlah Ustadz Adi Hidayat tergelincir karena data Zakir Naik terjebak retorika Aa Gym ‘tergoda’ wanita Ust Yusman terpesona harta Alm. Zainuddin MZ terpikat tahta saya terperangkap Pevita.. Kami akan tetap mendengarkan ceramah mereka, menonton video-videonya, menghadiri kajian-kajiannya bila diundang. Bahkan, kalau perlu kami akan membesarkan hati mereka. Mereka boleh gagal sebagai da’i, tapi kami jangan sampai takluk menjadi mad’u. […]

Read more "Ustadz Kondangan, Jama’ah Prasmanan"

Apa yang sebenarnya kau lakukan?


1

Saat kau istighfar, mana yang kau ingat: Dosamu atau TUHAN yang Mengampuni dosamu?

Saat kau bertahmid, mana yang kau puji: nikmatNya, Pemberinya, atau diri sendiri?

“Alhamdulillah, kalo bukan karena aku rajin dhuha, sedekah, sholat, pasti ga dikasih rejeki kayak gini.”

“Alhamdulillah, Allah masih sayang. Aku yang banyak maksiat kayak gini aja masih ditolong. Aku curiga sebenarnya aku punya amal soleh yang tidak aku sadari atau diam-diam banyak orang mendoakanku.”

2.

Benarkah kau bersedekah untuk mereka?

Bukannya kau sedang menafkahi egomu?

Mengapa kau marah saat pemberianmu ditolak. Kau jengkel saat uang sedekahmu dipakai tidak sesuai keinginanmu. Tidakkah kau rasakan, dermamu sering ternoda dengan dorongan ingin merasa lebih mampu?

Tidakkah kau sadari, kau memberi sekaligus diam-diam merendahkannya?

Sudah seberapa sering kamu memberi uang, barang, tenaga, sekaligus memberi tuntutan halus bahwa si penerima harus bersikap lemah, memuji-muji pemberianmu, berterima kasih bahkan kalau perlu.. menangis terharu bersujud padamu?

3.

Atau memang seperti itulah dirimu: “Ingin tampil kuat dan menguatkan sekaligus membuat penerima merasa lemah.”

Tidak inginkah  kau coba rela dianggap lemah agar mereka kuat?

Apakah saat bersedekah tidak melipatgandakan rejekimu, menolak bala musibahmu, kau tetap melakukannya?

4.

Jadi, siapa yang lebih butuh fadhilah sedekah? Dirimu atau dirinya?

5.

Sudah berapa lama kau terpenjara,”Kau tak usah bayar aku. Ilmu ini gratis. Kau anggap aku pintar dan kau sebarkan kepintaranku ini, itu sudah lebih dari cukup.”

Lalu, sebenarnya apa yang kau lakukan? Mencerdaskan orang sambil diam-diam membangun kesan dirimu lebih, makin, dan paling pintar hingga suatu saat kau bisa membodohinya?

6.

Rendah hatikah kau? Atau dirimu merendah hanya untuk meninggi? Pura-pura menunduk, tawadhu’, bahkan bersujud hanya untuk memakaikan mahkota keangkuhan di kepalamu?

7.

Setiap orang itu egois. Mereka, aku, Anda bertindak untuk keselamatan dirinya sendiri. Orang menolong orang lain karena ingin melepaskan diri dari kekangan rasa tidak enak,”Masa ga bantuin?”

Orang mengasihi orang lain karena tindakan mengasihi itu menyenangkan dirinya. Coba kalau tidak. Masih sayang?

Orang sanggup dan memilih menjadi korban bukan karena kuat tapi sebab di situlah enaknya – banjir simpati.

8.

Jadi, aku menulis ini bukan untuk menanyaimu. Tapi diriku sendiri. Maaf.

 

Read more "Apa yang sebenarnya kau lakukan?"

“Jadi orang mati itu capek, dik!”


Saya mengenal Mbah Darmo justru setelah dia meninggal. Saat dia masih hidup, saya hanya dengar namanya tapi tidak tahu persis seperti apa wajahnya, siapa saja anaknya, dan apa pekerjaannya. Lagi pula, kenapa saya harus mengenalnya? Apa gunanya mengenal kakek yang tinggal sendirian di gubuk belakang rumahnya, ditinggal pergi istri, anaknya enggan merawatnya, dan cucunya sudah dididik […]

Read more "“Jadi orang mati itu capek, dik!”"