TITIK.JENUH

 

Setiap kita akan menghadapi satu titik kecil bernama kejenuhan. Dan berkebalikan dengan kesan negatifnya, sebenarnya banyak perubahan hidup didasari oleh titik jenuh ini. Titik jenuh, adalah titik awal perubahan.

Banyak orang yang ‘jadi baik’ bukan karena semata-mata ‘hidayah’. Tapi bisa saja ‘sekedar’ bosen jahat. Meski tentu, ‘bosen nakal’ juga bisa kita artikan sebagai hidayah dalam wujudnya yang paling awal bukan?

Anda pasti pernah mendengar dan mengamati orang-orang di sekitar Anda. Atau mungkin, ini pengalaman Anda sendiri?

Lihat..
Ada orang yang paragraf hidupnya diisi kemarahan. Lalu, dia sampai pada titik jenuh. Maka, kalimat kehidupan berikutnya ia isi dengan penuh kesabaran. Mungkin belum layak disebut penyabar. Tapi paling tidak, sudah tidak seemosional dulu.

Yang bosen konservatif, tergoda jadi liberal.

Yang capek kompetisi, ingin kolaborasi.

Yang jenuh gonta-ganti pacar, akan bilang “Cari yang siap halalin aja.”

Yang bosen pake rok mini, akan bercadar pada waktunya.

Yang bosen makan pizza, akan mencari bakmi jowo pinggir jalan.

Yang bosen lihat gedung pencakar langit, akan takjub melihat pohon sengon, jati, dan angsana.

Yang bosen jalan-jalan di mal, gembira luar biasa saat kakinya menginjak-injak lumpur, menyebrangi sungai dan menunggangi kerbau.

Yang miskin, bermimpi jadi kaya.

Semua terjadi karena orang itu sedang jenuh dengan kondisinya sekarang. Dan tergoda untuk meninggalkan posisinya sekarang karena menganggap kondisi ANTI-TESIS itu lebih menarik dan KEREN. Seperti peribahasa,”Rumput tetangga lebih hijau.”

Selain itu tentu karena PENASARAN. Gimana sih rasanya?

Makanya…

banyak yang bosen hidup lurus-lurus saja, akan mencari lika-liku hidup.

Suami yang sedang bosan ‘masakan di rumah’, bisa saja jadi hobi jajan.

Yang capek sabar, penasaran gimana rasanya jadi orang agresif, temperamen, dan doyan cari keributan.

Wanita yang capek ‘dipingit’, akan terobsesi pria yang mungkin miskin, masa depan ga jelas, tapi mampu menawarkan petualangan.

Yang bosen jadi Phlegmatis, akan bereksperimen dengan mencari sensasi dan kontroversi.

Yang capek bertualang, akan pulang.

Yang lelah jadi liberal, bisa jadi kembali puritan.

Bosen menjalani hidup sufistik, pengen mendalami fiqh dan syariat.

Orang lemah yang bosen kalah, akan bangkit semangat perlawanannya.

Contoh lainnya, di film-film Hollywood.

Setelah dulu “Super-hero” laris manis, berubah jadi jualan kisah ANTI-HERO (The Dark Knight, Wolverine, DeadPool). Lalu kini, mulai dimunculkan keterkaitan antar Super-hero ini.. menjadi semacam Super Team (The Avengers, Spiderman Homecoming)

Termasuk dalam memilih PRESIDEN.

Bosen dengan pemimpin yang hobi plesir dan banyak bicara, muncul pemimpin yg hobi ‘bobo siang’ dan sangat irit bicara.

Bosen dengan pemimpin yang kharismatis, gagah, tapi terkesan lamban.. Muncul-lah presiden yang apa adanya, cungkring, dan terkesan cekatan. Bosen dengan pemimpin sipil, nanti cari pemimpin dari militer.

Bila kondisi ‘dulu’ adalah TESIS, maka saat sudah jenuh, dia akan menjadi ANTI-TESIS. Anti tesis ini adalah kondisi “Apapun yang penting ga kayak sekarang.”

Ibarat menambang. Eksplorasi anti-tesis ini bisa dengan menggali lebih dalam, atau mencari area lain.

Biasa pake rok selutut, akan berubah jadi pake rok mini atau malah sarungan sekalian (eh, jadi lelaki?)

Penulis, pelukis, musisi, sering mengalami ini. Antara karya imajinasinya makin dalam, gelap, “nyeni”, dan tak dapat kita pahami. Atau malah jadi nge-pop sekalian.

Yang bosen sarungan, mungkin akan mencoba cingkrang. Lalu beralih ke jeans. Lusa bilang pengen nyoba celana bahan. Dan berakhir dengan kain kafan.

Yang dulu hanya ‘pengamat’, tergoda untuk jadi praktisi. Untuk kemudian jadi ‘pengajar’ atau malah sekedar ‘peminat’.

Dulu orang mengenalnya sebagai ‘begawan’. Tapi lalu turun gunung di politik praktis. Menjelang masa tua, tahu-tahu dia jadi peternak lele.

dan seterusnya.

Menyadari titik jenuh ini, kita jadi tidak tergesa menilai. Kita sadar, apa sih yang hadir setelah titik? Spasi. Jeda. Seperti yang sedang Anda baca ini.

Maka, kita perlu berterima kasih pada titik jenuh. Tanpa titik, kalimat akan menjadi panjang dan kita akan kehabisan napas membaca kalimat-kalimat tanpa titik koma seperti ini.

Tanpaspasi,kitakerepotanmembacaapasebenarnyapesanhidupyangingindisampaikanSangPenulisSkenarioHidup?

Atau, seperti tutur Ali bin Abi Thalib kw,”Hiburlah hati suatu ketika, karena jika dipaksakan terus menerus pada suatu hal, ia akan menjadi buta…”

Maka, berterima kasihlah pada titik dan spasi.

Setelah spasi, apakah kalimat hidup berikutnya senada dengan kalimat sebelumnya, lebih emosional, atau lebih teduh, adalah PROSES hidup masing-masing.

Kita bisa saja memberikan penghapus karena melihat ada yang salah dalam tulisan hidupnya. Tapi tetap, tangannya sendirilah yang bisa menggerakkan penghapus itu.

Kita bisa saja meminjamkan pena agar dia tidak menghentikan kalimatnya. Tapi tetap, dialah yang akan menulis.

Kita mungkin mencoba jadi EDITOR hidup orang lain, tapi faktanya, keputusan berada di tangan penulis itu sendiri.

Menyadari hal ini, kita jadi terbiasa untuk tidak gumunan sekaligus tidak arogan. Melihat yang sedang di lembah, tidak menertawai bahwa dia rendah. Menatap yang sedang di bukit, tidak mengagumi ketinggiannya.

Sedang di bawah, tidak merasa rendah. Sedang di atas, tidak merasa tinggi.

Karena yang kecil, bisa tumbuh. Yang sudah besar, bisa tergelincir.

Setiap penjahat punya masa depan. Setiap pendeta punya masa lalu.

Dan setelah melewati Anti-Tesisnya, orang akan masuk pada SINTESIS.

Setelah TIDAK LAGI PENASARAN dan sadar bahwa “ANTI-TESIS” TIDAK SEKEREN yang dia bayangkan… Dia akan masuk ke tahap selanjutnya.

Yang ‘baru MULAI NAKAL’ dan merasa keren karena itu.. Akan malu sendiri saat diketawai,”Haha. TELAT NAKAL neh kowe.” Oleh orang yang mengaku “Wis TUTUG NAKAL e.”

Dulu terlalu ngalah. Lalu terlalu agresif. Kini pas di tengah – asertif. Dulu pendekar arogan penguasa lautan. Kini menjadi pertapa – tapi nek kon gelut, isih iso.

Dulu minion, lalu pengen jadi monster. Setelah jadi monster, sadar yang kecil tapi banyak bisa mengalahkan yang besar – asal kompak.

Tesis, Anti-tesis, Sintesis.
Dengan menyadari tahapan hidup yang berulang ini, saya lebih bersyukur. Apalagi saat menyadari, SIAPA yang MENGGERAKKAN saya (dan jutaan manusia lainnya) untuk menuju tesis, anti-tesis, sintesis selanjutnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s