Ustadz Kondangan, Jama’ah Prasmanan

Biarlah

  • Ustadz Adi Hidayat tergelincir karena data
  • Zakir Naik terjebak retorika
  • Aa Gym ‘tergoda’ wanita
  • Ust Yusman terpesona harta
  • Alm. Zainuddin MZ terpikat tahta
  • saya terperangkap Pevita..

Kami akan tetap mendengarkan ceramah mereka, menonton video-videonya, menghadiri kajian-kajiannya bila diundang. Bahkan, kalau perlu kami akan membesarkan hati mereka.

Mereka boleh gagal sebagai da’i, tapi kami jangan sampai takluk menjadi mad’u. Saya orang awam agama. Kalau jadi simpatisan agama saja kami tidak berhasil, mau jadi apa kami?

Ulama sedunia boleh diboikot, digagalkan, atau khilaf hingga dicabut “izin mengajar”nya. Mereka boleh (di)berhenti(kan) mengajar, tapi kami tidak akan berhenti belajar.

Muballigh sepelosok negeri boleh dimata-matai, didekatkan dengan fitnah-fitnah, dan dibungkam suaranya. Tapi asal Anda tahu, bahwa ruhiyah mereka telah berbisik lembut menggedor-gedor hati kami yang membatu dan tuli.

Ustadz selebritis tidak saya larang pasang tarif dan menjaga citra karena memang itulah yang kami butuhkan: kami kehabisan anutan hingga topeng pun kami berhalakan.

Tokoh-tokoh agama boleh Anda bentur-benturkan tapi kami tidak boleh gagal sebagai jama’ah. Kami rela bergabung dengan ikhwah yang selama ini berseberangan karena kami punya prinsip baru: “Meski berbeda-beda aliran, muaranya ke comber… eh samudera jua.”

Lembaga keagamaan boleh Anda obrak-abrik wibawanya tapi itu tidak menyurutkan ghirah kami dalam membela fatwa-fatwa. Silakan Anda bela kepentingan Anda, dan biarkan kami membela ulama dan lembaga kami.

Para kiai dan cendekiawan boleh saja dibunuh karakternya, dicabut ‘karir keteladan’nya, tapi itu tidak akan menyurutkan langkah kami. Jangan dikira semangat kami ini hanya bergantung pada kharisma perseorangan. Kami tulus bekerja untuk umat dengan penuh independensi. Anda boleh culik pemimpin kami. Tapi kami terus ada dan berlipat ganda.

Kami adalah jama’ah prasmanan.

Allah telah menjamu kami dengan berbagai varian paham. Lengkap dengan lauk pauk metode dakwah, sayur mayur ustadz, buah-buah harokah, dan sari pati susu ma’rifah. Betapa 4 itu sehat dan 5 itu sempurna!

Begitu lengkap sajian di pesta ini hingga kami bebas memilih mana pun yang sesuai nafsu beragama kami.

Kami tidak akan batal mengambil es dawet meski Anda bilang “Itu ada racunnya!”. Kami tetap menyendok soup cream meski kami tahu itu kadaluwarsa. Kami tetap mengambil bertusuk-tusuk sate meski daging sate itu telah berbelatung, meski lalat-lalat telah menghinggapinya, dan meski aroma basi telah menusuk-nusuk hidung.

Kami tidak berubah keyakinan meski Anda tunjukkan dalil-dalil bahwa yang kami kunyah bukanlah daging rendang — tapi jahe. “Jahe ini adalah daging bagi lidah kami, usus kami, dan darah kami!”

Bahkan, sebagian dari kami adalah pegiat religifood-combining; kuahnya ambil dari Soto Madura, dagingnya ambil bakso bakar malang, nasinya nasi kebuli!

Sebagian lainnya mengaku menerapkan hidup beragama berbasis kebosanan: Sedang bosan makan nasi berkat, kami ambil gamis dan sorban untuk makan nasi kebuli. Jenuh sate kambing, kami mendadak vegetarian!

Maka, lihatlah di piring kami. Ada sayur Tarjih dengan kuah Tahlil. Krupuk Tarbiyah kami cocol ke sambel Tahzir. Minumnya milkshake Tabligh dengan toping sepotong Tafsir.

Rica-rica boleh kami ambil dagingnya saja dan kami singkirkan bumbunya. Nasi goreng kami pisahkan dari telur, kecap, dan cabainya. Mie godhog hanya kami minum kuahnya saja. Tergantung lidah kami ingin merasai apa.

Kami selalu mengaku mencari kebenaran tapi yang kami temukan adalah pembenaran-pembenaran.

Maka, sia-sialah upaya seluruh langit dan bumi untuk mencegah kami membela figur ustadz idola kami. Kami ingin menjadikan mereka sebagai penghalang alias hijab kami dalam perjalanan kami menuju Allah.

Tidak banyak yang tahu bahwa kami belum lelah bergonta-ganti “nge-idol” ustadz yang mewakili ambisi kami. Jangankan orang lain. Kami sendiri pun lupa bahwa kami kalah konsisten dibanding WOTA JKT48 yang tidak gonta-ganti idol. Apalagi dibanding kesetiaan Liverpudlian yang…… Ah, sudahlah.

Maka…

… silakan lempar tuduhan bid’ah, menyimpang dari sunnah, ustadz pemecah belah, kiai ahli zina, ulama korup, apapun..!

Kami tidak berhenti memuja-muja mereka. Karena inilah rahasia kami:

“Kami akan meninggalkan mereka saat mereka tidak lagi sesuai selera kami.”

Iklan

2 pemikiran pada “Ustadz Kondangan, Jama’ah Prasmanan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s