Apa yang sebenarnya kau lakukan?

1

Saat kau istighfar, mana yang kau ingat: Dosamu atau TUHAN yang Mengampuni dosamu?

Saat kau bertahmid, mana yang kau puji: nikmatNya, Pemberinya, atau diri sendiri?

“Alhamdulillah, kalo bukan karena aku rajin dhuha, sedekah, sholat, pasti ga dikasih rejeki kayak gini.”

“Alhamdulillah, Allah masih sayang. Aku yang banyak maksiat kayak gini aja masih ditolong. Aku curiga sebenarnya aku punya amal soleh yang tidak aku sadari atau diam-diam banyak orang mendoakanku.”

2.

Benarkah kau bersedekah untuk mereka?

Bukannya kau sedang menafkahi egomu?

Mengapa kau marah saat pemberianmu ditolak. Kau jengkel saat uang sedekahmu dipakai tidak sesuai keinginanmu. Tidakkah kau rasakan, dermamu sering ternoda dengan dorongan ingin merasa lebih mampu?

Tidakkah kau sadari, kau memberi sekaligus diam-diam merendahkannya?

Sudah seberapa sering kamu memberi uang, barang, tenaga, sekaligus memberi tuntutan halus bahwa si penerima harus bersikap lemah, memuji-muji pemberianmu, berterima kasih bahkan kalau perlu.. menangis terharu bersujud padamu?

3.

Atau memang seperti itulah dirimu: “Ingin tampil kuat dan menguatkan sekaligus membuat penerima merasa lemah.”

Tidak inginkah  kau coba rela dianggap lemah agar mereka kuat?

Apakah saat bersedekah tidak melipatgandakan rejekimu, menolak bala musibahmu, kau tetap melakukannya?

4.

Jadi, siapa yang lebih butuh fadhilah sedekah? Dirimu atau dirinya?

5.

Sudah berapa lama kau terpenjara,”Kau tak usah bayar aku. Ilmu ini gratis. Kau anggap aku pintar dan kau sebarkan kepintaranku ini, itu sudah lebih dari cukup.”

Lalu, sebenarnya apa yang kau lakukan? Mencerdaskan orang sambil diam-diam membangun kesan dirimu lebih, makin, dan paling pintar hingga suatu saat kau bisa membodohinya?

6.

Rendah hatikah kau? Atau dirimu merendah hanya untuk meninggi? Pura-pura menunduk, tawadhu’, bahkan bersujud hanya untuk memakaikan mahkota keangkuhan di kepalamu?

7.

Setiap orang itu egois. Mereka, aku, Anda bertindak untuk keselamatan dirinya sendiri. Orang menolong orang lain karena ingin melepaskan diri dari kekangan rasa tidak enak,”Masa ga bantuin?”

Orang mengasihi orang lain karena tindakan mengasihi itu menyenangkan dirinya. Coba kalau tidak. Masih sayang?

Orang sanggup dan memilih menjadi korban bukan karena kuat tapi sebab di situlah enaknya – banjir simpati.

8.

Jadi, aku menulis ini bukan untuk menanyaimu. Tapi diriku sendiri. Maaf.

 

Iklan

2 pemikiran pada “Apa yang sebenarnya kau lakukan?

  1. versi saya:
    ooo…jelas kayak gitu. saya ini lak diri sendiri-sentris.

    versi orang lain:
    malah gang koyo ngene iki le nyenengke. nek durung iso tekan level 2, 3, opo 4, level 1 yo keno dilakoni sik. seperti kata pakdhe gimin yang sudah sampai level ma’rifat 1, “kalian makhluk fana tidak tahu apa-apa.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s