“Jadi orang mati itu capek, dik!”

Saya mengenal Mbah Darmo justru setelah dia meninggal.

Saat dia masih hidup, saya hanya dengar namanya tapi tidak tahu persis seperti apa wajahnya, siapa saja anaknya, dan apa pekerjaannya. Lagi pula, kenapa saya harus mengenalnya?

Apa gunanya mengenal kakek yang tinggal sendirian di gubuk belakang rumahnya, ditinggal pergi istri, anaknya enggan merawatnya, dan cucunya sudah dididik agar tidak mengasihi kakeknya?

Orang yang dibenci oleh keluarganya sendiri pasti memiliki masalah tersendiri yang membuat saya, orang yang ternyata rumahnya berdempetan dinding, tidak perlu tahu lebih dalam kenapa dia meninggal dan apa nasehatnya untuk saya yang masih hidup.

Saya tidak tahu kenapa Mbah Darmo dibenci keluarganya. Kalo boleh saya tebak, mungkin karena satu hal ini: dia suka menasehati. Dan itu menyebalkan bukan? Tidak ada orang yang mau mendengar petuah dari orang yang penyakitan dan gagal membangun wibawa di mata istri dan keluarganya. Mbah Darmo juga tidak terkenal, tidak kaya, tidak pintar, dan untuk itu keluarganya tidak punya alasan untuk mendengarnya. Apalagi saya yang cuma tetangga.

Tapi seperti semua orang di dunia ini, ketiadaan pendengar tidak membuat kita berhenti berbicara. Alih-alih introspeksi, kita akan tetap mengoceh. Penulis tetap penulis, anak twitter tetap kultwit dan mengomentari segala hal, fesbuker tetap nyetatus menyindir Ahok Jokowi bos, kantor, dan tetangga yang tidak berteman di fesbuknya. Pun dengan Mbah Darmo. Tetap menasehati.

Seperti 11 Maret lalu.

Saat saya nyekar ke makam ibu saya demi “merayakan” wafatnya ibu 4 tahun lalu, Mbah Darmo dari dalam kuburnya yang sesempit gubuknya di dunia itu menyapa saya. Sebelumnya dia memperkenalkan terlebih dahulu karena dia tahu saya adalah perwakilan pemuda era tekhnoloji dan informasi yang biasanya tidak mengenal warga kampungnya sendiri.

Sebuah era di mana pemuda seperti saya diberikan tuntutan sosial untuk kuliah lalu menghabiskan waktu-waktu produktif di kota. Pulang hanya untuk istirahat. Tiduran di kamar, nge-gadgdet, maraton film dan drama downloadan, atau membaca buku-buku yang makin hari makin tidak bermutu.

Sebuah masa di mana pemuda seperti saya tidak lagi punya cukup waktu, tenaga, dan kedekatan untuk saling srawung dengan tetangga atau sesama pemuda kampung. Akhir pekan tidaklah perlu saya habiskan untuk mengenal kampung. Lebih baik bertemu teman-teman dari berbagai daerah di alun-alun kota yang lebih cepat nyambung karena diikat oleh hobi yang sama. Karena memang, sosial media membuat generasi kami lebih cepat erat kepada temen-temen komunitas dari berbagai daerah ketimbang temen kampung. Inilah generasi pemuda yang diikat kesamaan ideologi dan hobi. Bukan sekedar kedekatan geografis.

Jauh dekat sebuah hubungan tidak lagi berdasar jarak fisik tetapi kemiripan aktivitas dan kegelisahan. Anda boleh sekampung dengan saya. Tapi kalau kita beda hobi, beda sekolah, mohon maaf aja. Masih untung saya mau sholat di masjid kampung. Tidak seperti kawan saya yang demi sholat di masjid sefikrah saja dia rela melintasi sawah padahal dua puluh langkah di belakang rumahnya ada masjid.

“Nabi takkan sholat di masjidnya orang-orang munafik.”, katanya sambil membersihkan jejak-jejak lumpur di kakinya. Tiba-tiba hujan deras seusai sholat jama’ah.

“Sungguh, terendam lumpur itu lebih kusukai ketimbang harus menjejakkan kaki  di masjid fitnah itu dan terkena sebutir debu darinya! Itu sama dengan debu neraka!”, lanjutnya saat kami masih SMA dulu.

Lalu beberapa waktu lalu, di fesbuk saya melihat dia mengunggah foto undangan pernikahannya dengan akhwat cantik putra kiai ta’mir belakang rumah itu. Saya lihat di mana prosesi ijab dilakukan. Ternyata, di masjid yang sebutir debunya saja dia hindari. Mungkin, saat ijab, masjid itu sudah disterilkan dari debu, pikir saya. Tapi tentu saya belum yakin apakah peristiwa itu benar-benar terjadi atau hanya fitnah sebagaimana label yang ia sematkan pada masjid itu.

“Saya mbah Darmo, dik.”

Mbah Darmo menyalami saya dengan takzim. “Dulu, saya murid mbah Kakung sampeyan.” Lalu, dia menyebut nama kakek saya. Demi mendengar nama itu, saya lalu urung bermuka masam dan mengabaikannya. Saya mencoba memasang topeng sopan dan grapyak semanak sebisa mungkin. Kalau tidak begini, kasihan kakek saya. Sudah meninggal, namanya dinodai cucunya yang tidak tahu tata krama.

Meskipun, sekali lagi, saya mengenal Mbah Darmo justru setelah dia meninggal. Saat ayah saya menyampaikan kabar duka itulah saya baru tahu penyakit apa yang diderita mbah Darmo, kapan dimakamkan, dan sebenarnya siapa dia di mata orang-orang kampung.

Saya bertanya-tanya. Mau sampai kapan saya harus menunggu orang meninggal dulu baru saya mengenalnya? Mau sampai kapan cara saya mengenal orang adalah lewat berita kematian? Kapan saya akan mulai srawung?

Pertanyaan itu masih menggedor hati saat tanpa saya tanya apapun, Mbah Darmo curhat. “Jadi orang mati itu capek, dik.”

Sebelum saya tanya kenapa, si mbah sudah menjelaskan. “Lha gimana enggak? Udah mati aja masih dituntut ini itu oleh orang-orang yang masih hidup.”

Mbah Darmo lalu menceritakan betapa capeknya dia mendengar komentar orang tentang cara kematiannya, kisah hidupnya, sampai peristiwa apa yang terjadi saat kematiannya.

Mbah Darmo menceritakan komentar yang sempat ia dengar,”Kalo mbah Darmo emang baik, seperti nasehat-nasehatnya selama ini, kenapa makamnya ambles?”

“Padahal, ya dik ya. Wajar kan kalo tanah ambles? Apalagi tanah makam sini memang cukup gembur. Lha bawah tanah sini aja ada aliran air cukup deras sebenarnya. Subur. Kenapa malah dimaknai jadi azab?”

Mbah Darmo menuturkan komentar orang lainnya. Datang dari penggemar mistik agama.

“Justru hujan deras sampai makamnya ambles itu tanda kewalian Mbah Darmo. Tanda langit bersedih. Kamu tidak lihat? Mbah Darmo kebagian tempat di bawah pohon yang membentuk posisi orang rukuk!”

Sambil menyesap ududnya, Mbah Darmo menjelaskan,

“Mbok ya udah. Orang mati ya mati aja. Doakan. Jangan malah dikomentari ini itu. Kalo memang sayang dengan yang sudah mati, ya ndak usah bebani dengan ilusi kemuliaan pribadi. Jasad kiai tidak harus awet. Makam maling tidak harus ambles. Dari kubur muncul air tidak berarti si almarhum punya dosa berat.”

“Apakah kalo makam istri, suami, kakek, sampeyan itu sepi peziarah, bau busuk, muncul air, ambles, Anda lalu berhenti mencintai almarhum almarhumah? Apakah sedangkal itu rasa kasih dan penghormatan Anda? Tidakkah itu sebuah ujian ketulusan bahwa meski orang yang Anda sayang mati seolah dengan cara dan keadaan yang hina pun, Anda tetap bangga dan mengasihi?”

Mbah Darmo melanjutkan,

“Orang mati tidak mengenal konsep mulia hina seperti orang yang masih hidup. Kawan saya ada yang meninggal dengan dicincang-cincang tubuhnya. Korban mutilasi. Tuh, di makamnya saja tubuhnya tidak utuh. Kakinya entah ke mana. Orang sekampung menggunjingkan kematiannya. Keluarganya pun termakan omongan. Sedih saya. Karena tidak ada yang tahu dulu sebenarnya dia rajin sedekah diam-diam. Amal jariyah mas! Karenanya setiap hari, malaikat menaburinya dengan cahaya, kesejukan, dan minyak wangi. Mau saya ajak sowan mas?”

Saya dengan cepat menggeleng.

“Sudahlah.. Kalian-kalian ini yang masih hidup ndak usah ngributin kami-kami yang udah sibuk mempertanggungjawabkan amalan kami. Saat mendengar berita kematian, apa yang langsung muncul di benak kalian? Ribet nyiapin amplopan, males harus capek-capek ngurus hajatan, sibuk menelusuri jejak hidup kami, atau malah teringat kematian yang makin mendekat?”

Setelah ngoceh, terlihat mulut mbah Darmo komat-kamit. Dia seperti mewiridkan sesuatu. Tapi bukan kalimat thoyyibah. Saya coba memasang telinga. Dia sibuk melantunkan namanya sendiri! “Mbah Darmo…Darmo.. Darmo… Darmo..”

Keringat dingin mulai terasa di telapak tangan dan kaki. Jantung berdegup lebih kencang. Saya kemudian melangkah mundur. Perlahan-lahan. Setelah mengangguk berpamitan, saya balik badan lalu melangkah cepat. Saya harus segera meninggalkan tempat ini.

“Jadi orang mati itu capek, dik!”

Saya mempercepat langkah. Samar-samar, saya mendengar Mbah Darmo masih mewiridkan namanya dalam ritme lebih cepat.

“Darmo. Darmo. Darmo. Darmo.”

yang kemudian terdengar seperti

Modar…modar…modar..modar..modar…

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s