Slank, Iwan Fals, Wiji Thukul, dan Mati Ketawa ala Soeharto

Pernah ada masa-masa musisi pemberontak semacam Iwan Fals dan Slank menjadi pahlawan kita. Mereka mengambil peran “penyambung lidah rakyat” lewat lagu-lagu dan aksi panggungnya.  Rakyat boleh dibungkam, tetapi tidak dengan karya. Sekejam-kejamnya Soeharto, dia izinkan mereka menggelar konser, menyebar lagu-lagu dan protes, ketimbang memboikotnya. Prinsip menerima “mudharat” kecil demi “maslahat” lebih besar diterapkan Soeharto di sini. Soeharto sadar. Pelarangan justru menimbulkan perlawanan lebih dari rakyat.

Pernah ada masa-masa penyair cadel seperti Wiji Thukul ditakuti penguasa karena puisinya bukanlah puisi. Melainkan kata-kata gelap yang menerangi rakyat akan kebobrokan penguasa. Dan tangan besi Soeharto perlu turun tangan demi membungkam mulut-mulut api seperti penyair Wiji Thukul serta saudara seperlawanan lainnya: pelawak.

Yap. Pelawak.

Pernah ada masa-masa pelawak menuliskan joke-joke penyindir kekuasaan. Pada masa itu, pelawak adalah sekaligus pelawan. Konon, komedi ini jalan terakhir penjaga kewarasan rakyat atas ketidakmampuannya melawan penguasa. Kalau tidak bisa menggulingkan, paling tidak menertawai – secara diam-diam. Di masa itu, naskah kumpulan joke yang menyoal Soeharto dan kroninya seperti “Mati Ketawa Ala Daripada”, “Mati Ketawa ala Rusia”, menyebar secara bawah tanah seperti Bumi Manusia-nya Pramoedya Toer. Meski pemerintah waktu itu tidak sampai menggelari kumpulan humor tersebut sebagai komedi subversif.

Soeharto sadar. Tangan besinya sudah membungkam mulut, kenapa pula harus mencegah rakyat tertawa? Bicara sudah tidak boleh. Masak ketawa juga dilarang?

Memang unik sejarah perlawanan ini. Pada awal kudeta, Soeharto mewarisi inflasi 650%. Kelaparan di mana-mana. Maka, di awal masa Orde Baru, bolehlah kita merasa berhutang budi pada Pak Harto yang telah mengenyangkan perut jutaan warga Indonesia. Meski boleh saja kita anggap “pengenyangan perut” itu adalah cara Soeharto membungkam kita. Prinsip sosialisme dipakai. Saya (negara) siap mengenyangkan Anda, tapi Anda tidak boleh protes.

Urusan perut beres, sekarang waktunya memberi gizi pada otak. Program-program pencerdasan digenjot. Dan pada titik inilah benih-benih perlawanan itu dimulai.

Orang cerdas akan cenderung mempertanyakan banyak hal. Nalar kritis mulai tumbuh. Mata rakyat lalu melihat kekurangan-kekurangan sebagai akibat dari kecurangan-kecurangan. Di sinilah jalan buntunya. Mata orang-orang mulai melihat ketidakberesan. Telinga rakyat mendengar banyak keluhan. Tapi mulut mereka, tidak bisa menyuarakan tuntutan-tuntutan.

Di situlah Iwan Fals, Slank, Wiji Thukul, dan pelawak-pelawan hadir. Mereka mengisi apa yang tidak dimiliki rakyat. Mereka berani naik panggung menyuarakan protes-protes. Mereka bisa melakukan apa yang kita tidak bisa. Dari situlah kekaguman pada mereka tumbuh dan memuncak.

Sampai tibalah masa reformasi.

Masa di mana setiap orang boleh bersuara. Dalam kondisi ini, juru bicara tidak diperlukan. Kita pelan-pelan merasa tidak butuh lagi Iwan Fals dan Slank. Kita mulai bisa menyuarakan kepentingan kita sendiri tanpa perlu diwakili. Mereka mulai tersingkirkan. Karya-karya mereka tak lagi laku.

Generasi 90-an yang pada waktu reformasi baru berumur 8 tahunan, tidak terlalu dalam menyadari betapa bangsa ini pernah dibungkam sedemikian dahsyatnya sampai kita memerlukan juru bicara. Lagu-lagu Slank dan Iwan Fals tidak akan menghasilkan daya gedor yang sama bila diperdengarkan pada generasi ini.

Kawan seangkatan penulis malah pernah ada yang komentar,”Apaan sih? Lagu kok isinya protes melulu.” Saat disodorkan kumpulan puisi Wiji, dia tak mengerti,”Puisi kok ga ada romantisnya sama sekali?”

Dia tidak sadar.

Bahwa sebelum dia dilahirkan, hanya orang pilihan yang bisa menjadi “kaum protestan” alias tukang protes. Memutar lagu-lagu dan membaca puisi subversif sama saja mencicil jalan menuju penjara. Saat diterangkan padanya berbagai kekejaman Pak Harto, penulis hanya mendapat jawaban,”Oh. Masa’ sih?”.

Apalah lagi bila karya-karya kaum protestan tersebut dibawakan ke generasi Y. Di mana mereka terbiasa menyuarakan apa saja; jalanan macet, pemerintah ga becus mengatur harga, memprotes sensor KPI, pemblokiran internet, atau kenapa pesan mereka hanya centang dua. Alam pikiran mereka akan heran,”Kenapa untuk protes saja perlu musisi dan sindiran halus?”

Humor perlawanan yang kontroversial tersebut sangat garing bila dibandingkan lawakan haha hihi masa kini. Punch-line sindirannya kelewat halus untuk ukuran sekarang. Punchline sesopan itu tidak akan mempan memetik tawa penonton generasi milenial karena dua hal. Pertama, sindirannya terlalu halus. (hanya memakai simbol-simbol). Kedua, generasi Y tidak memiliki kepedulian lebih pada pemerintah. Selama kuota dan wifi gratis tersedia, mereka merasa tinggal di negara yang sempurna. Beruntung, mereka tidak memakai kemudahan akses internet ini untuk mendapatkan informasi sebagai bahan perlawanan terhadap pemerintah.

Di sinilah pemerintah boleh merasa tenang.

Generasi yang waktunya habis untuk menonton video kucing lucu dan sampai membuat Young Lex Awkarin viral, pastilah generasi yang tidak akan bertindak subversif. Sempat berpikir melawan pemerintah pun tidak. Sekaligus memunculkan kecurigaan baru: “Jangan-jangan, Young Lex adalah antek pemerintah untuk pengalih isu di generasi muda.”

Kecurigaan ini bukan tanpa dasar.

Noam Chomsky pernah membeberkan bagaimana manipulasi informasi mampu membuat tirani berkuasa – dan menjaga kekuasaannya. Pertama, dengan memblokir informasi. Ini yang dilakukan Soeharto. Kedua, dengan memberikan informasi berlebihan untuk menguras perhatian. Inilah yang terjadi saat ini.

Kembali lagi ke generasi 90an atau sebelumnya.

Maka, saat ada yang memprotes tukang protes (Iwan Fals dan Slank) yang tidak segarang dulu, saya sedikit geli.

Pertama, karena musuh mereka (pemerintah) pun tidak segarang dulu. Tidak ada larangan ini itu. Padahal, kawan.. Sadarlah. Iwan Fals dan Slank besar, terhormat, memiliki nama harum karena ada larangan-larangan. Bayangkan saja kalo jaman Pak Harto semua orang boleh protes seperti sekarang. Apakah Iwan dan Slank bakal jadi legenda?

Ingat jaman Anda sekolah. Apa yang membuat perokok terlihat keren? Karena merokok itu dilarang. Secara psikologis, manusia akan sedikit banyak menganggap keren orang yang BERANI melanggar. Syarat jadi cowok keren di SMA pada umumnya dua hal ini: Merokok dan baju dikeluarkan. Sekarang, saat teman-teman Anda memang dibolehkan merokok, masihkah Anda menganggap dia keren?

Kedua, di mana Anda saat mereka melawan?

Apakah Anda membeli kaset-kaset mereka? Datang ke konser-konser mereka?

Ketiga, di mana Anda saat mereka menganggur?

Mereka adalah pemberontak. Saat musuh sudah dikalahkan, aturan sudah dilonggarkan, mereka kehabisan pekerjaan. Tidak perlu mengundang mereka konser karena rakyat sudah bisa menyuarakan protes secara mandiri. Mereka menganggur.

Seperti menganggurnya Dokter karena di suatu daerah sudah tidak ada orang sakit. Seperti menganggurnya polisi di Belanda karena saking sedikitnya penjahat.

Mereka seperti Superhero yang pensiun. Agar kita memuja mereka, tentu kita butuh musuh. Sekarang musuh sudah tidak ada. Si Superhero nganggur.

Iwan Fals dan Slank butuh pekerjaan. Ingat, mereka juga manusia. Punya keluarga. Punya perut. Tapi, di mana Anda?

Tidak adil rasanya kita kecewa mereka mulai “jinak” dengan menyanyikan lagu cinta. Padahal, di saat yang sama kita tidak menyediakan musuh baru baginya.

Tanpa bermaksud mengurangi rasa hormat.. Mereka “memprotes” negara karena dari situlah perut mereka kenyang. Mereka sudah mewakili suara Anda. Tugas Anda mengenyangkan perut mereka dan mengelu-elukan namanya. Fair enough.

Tapi ingat, zaman sudah berubah.

Indonesia tidak lagi resah oleh pembungkaman. Bisa kita lihat, buku-buku perlawanan tidak lagi menempati rak best seller. Kalaupun ada yang beli, mereka tidak membeli untuk melawan. Melainkan hanya nostalgia. “Saya pernah bertemu Gie. Tapi tak pernah sempat membaca gagasannya karena pergerakan bawah tanah menyita waktuku. Kubeli catatan harianya untuk bacaan di sela-sela momong cucu.”, tutur seorang tua saat kami bertemu di shopping (tempat beli buku legendaris di Jogja).

Di jaman ini, buku-buku laris adalah buku tentang cinta. Entah itu novel, cerpen, ataupun pengembangan diri. Musik dan film pun sama. Pelawak juga. Ngomongin soal galau mulu. Minimal ada kata mantan di tiap bit stand up comedian sekarang. Wajar. Karena memang itulah keresahan para muda jaman ini. Peningkatan kesejahteraan, runtuhnya pembungkaman, membuat generasi ini tak lagi resah soal pengusiran dan kelaparan meski itu masih terjadi.

Sastra kita sastra romantis. Film kita film romansa. Bahkan ustadz kita pun ada yang melabeli diri dengan ustadz cinta. Semua bergerak ke arah cinta karena di sanalah uangnya. Di sanalah selera rakyat sekarang.

Kenapa Iwan fals dan Slank tidak boleh melacurkan diri dengan ambil tema cinta?

Ini seperti Anda mengharuskan ustadz dan kiai harus tampil sederhana (kalau perlu, miskin). Tapi di saat sang ustadz kesulitan, Anda tidak membantunya. Ini menyebalkan.

Ada ustadz buka usaha supaya tidak perlu terima amplop dari jamaahnya, dicap ustadz matre. Ada ustadz tetap sederhana dan hanya fokus dakwah, Anda protes,”Ustadz kok masih terima duit?”. Ustadz poligami, dibenci. Selingkuh? Apalagi! Ustadz konsisten dakwah di luar sistem dibilang,”Ah, bisanya cuma protes. Coba terjun ke politik dulu.” Begitu masuk politik,”Ih, ustadz gila jabatan!”

Ustadz tidak perlu capek-capek resah kenapa umat mereka belum sesuai keinginan Allah karena umatnya pun sudah cekatan menuntut ustadz-ustadz agar sesuai dengan selera umat.

Sekarang, apa yang Anda inginkan?

Tetap melihat Iwan dan Slank memprotes penguasa? Kalau iya, belilah karya-karya garang dan galau mereka. Bantulah mengenyangkan perut mereka sehingga mulut mereka masih bisa bernyayi – atas nama Anda.

Kalau tidak, pemerintahlah yang akan mengenyangkan perut mereka.

Iklan

3 pemikiran pada “Slank, Iwan Fals, Wiji Thukul, dan Mati Ketawa ala Soeharto

  1. Terima kasih atas tulisannya. Saya senang sekali membacanya. Menarik !
    Pemikiran yang jarang ada di masa-masa sekarang. Mungkin ada yang bertanya, “Mas, lahir digenerasi mana?”, dan pecahlah gelak tawa pembaca.
    Teruslah menulis!
    Salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s