Sang Penulis Besar

Seandainya penerbangan menuju Lizardium tidak dibatalkan, Odia tidak akan bertemu dengannya, Sang Penulis Besar. Sebagai seorang jurnalis, dia terbiasa memburu tokoh untuk dijadikan berita. Kali ini, dia tidak perlu jauh-jauh. Sang Penulis Besar itu menghampirinya.

Odia sedang merapikan catatannya di executive lounge saat Sang Penulis Besar menepuk pundaknya,”Kau wartawan, heh?”

Dan inilah yang terjadi selanjutnya. Sebagaimana diceritakan Odia pada penulis.

Jadi begini…

Waktu itu aku segera menoleh. Aku belum tahu bahwa dialah yang kuburu bertahun-tahun. Seorang Penulis Besar yang menghilang begitu saja sejak Banjir Hoax menenggelamkan 3/4 bumi.

Aku hanya melihat sosok pria tinggi besar dengan brewok yang tidak pernah disisir. Terkesan berantakan, tapi jelas dia tidak miskin. Pakaiannya terlihat mahal meski aku tidak tahu apa merknya. Pria itujuga tidak bau. Mungkin orang kaya yang sedang depresi atau mabuk. Tetapi, bagaimana dia tahu kalau aku wartawan?

“Sudah berapa lama kau jadi wartawan Kempes?” Pria itu menunjuk ID cardku yang ternyata masih kutaruh dekat segelas Americano yang tinggal setengah.

“Ikut aku.” Dengan agak serak, dia mengajakku keluar. Aku masih belum memahami apa yang terjadi dan mengapa tiba-tiba dia datang, menepuk pundak, dan memintaku pergi?

Aku belum mengiyakan tapi dia sudah balik badan dan melangkah dengan sedikit terhuyung. Tanpa kusadari ternyata aku sudah melangkah mengikutinya dengan patuh. Karena memang, ada sesuatu dalam suaranya yang menghipnotisku. Seolah dia bisa memerintah siapa saja untuk melakukan apa saja padahal dia hanya mengucap satu dua kalimat yang itu saja tidak jelas apa maksudnya. Apakah aku kena gendam?

Terlebih saat kami sudah sampai di satu-satunya toko buku di bandara, Periplaz. Penjaga toko menyambut pria ini dengan takzim begitu juga dengan tumpukan buku-buku di belakangnya. Mendadak buku-buku itu bergetar. Seperti ada Maha Raja yang wibawa pengetahuannya tak sanggup ditampung buku manapun. Rak-rak bergeser merapat ke dinding. Menyisakan lorong di tengah toko yang kecil ini yang kemudian disusurinya dengan langkah-langkahnya yang lemah.

Siapakah pria di depanku ini? Bagaimana bisa kedatangannya membuat buku-buku kehilangan cahaya ilmunya, rak-rak lumpuh, dan tinta-pena luntur? Setelah kuperhatikan lagi, ada nama-nama pengarang yang tadinya tertempel di sampul buku, mendadak berhamburan. Nama-nama itu meloncat dari sampul buku dan lari entah ke mana. Mereka seperti ketakutan. Apakah mereka punya kesalahan? Apakah mereka pernah berhutang atau menipu pria di depanku ini?

Hanya ada beberapa nama penulis senior yang masih tetap menempel. Sebagian nama-nama itu menunduk takzim lalu lenyap secara perlahan dari pandangan lelaki tua yang kelak kuketahui biasa disebut Sang Penulis Besar.

Aku mengikuti pria ini.

Beberapa langkah kemudian, aku melihat ada sebuah singgasana yang tersusun dari tumpukan buku-buku tua, tebal, dan sedikit berdebu. Aku mencoba mengamati buku-buku itu dan kusadari satu fakta yang entah penting atau tidak. Tertulis nama yang sama pada buku-buku itu. Aku langsung terkejut karena teringat nama penulis itu adalah nama paling suci dalam dunia literasi. Tidak ada satu pun sastrawan besar abad ini yang menulis nama itu kecuali dia akan menulis dengan penghormatan yang agung. Tidak ada satu pun ilmuwan di dunia yang menyebut nama itu kecuali dengan ketundukan yang anggun. Nama yang begitu sakral sehingga malaikat pun akan memuji Tuhannya sebelum memberkati Sang Penulis Besar dalam naungan sayap-sayapnya yang jernih dan meneduhkan.

Dan kini, aku baru tahu aku sedang berhadapan siapa.

Dialah Sang Penulis Besar. Anak ketiga dari Bapak Ilmu Pengetahuan. Juga anak paling membanggakan, ahli waris paling masyhur, yang lahir dari rahim Ibu Bahasa.

Setelah duduk dengan tenang, Sang Penulis Besar itu berkata,”Tanyakanlah sesuatu.”

Lagi-lagi pria itu memberiku perintah. Dan otakku tiba-tiba langsung memunculkan pertanyaan yang remeh temeh.

“Siapakah dirimu sebenarnya?”

“Ah, pertanyaan itu lagi.”, dia tampak bosan dan membuang muka. Aku merasa bersalah. Sudah kususun daftar pertanyaan bila bertemu tokoh ini dan dari hasil riset aku tahu pertanyaan ini paling dibencinya. Tapi kenapa aku malah menanyakannya? Melihat kegusarannya mendengar pertanyaanku itu, aku menjadi bertanya-tanya. Akankah karir jurnalistikku tamat?

Aku harus segera memperbaiki situasi. Ingin kuajukan pertanyaan lainnya tapi dia sudah bersuara lagi.

“Bila kau ingin tahu aku, bukalah buku ini.”

Dia melemparkan sebuah buku yang langsung terbuka pada halaman 71. Entah dunia macam apa ini, tapi hukum gravitasi tidak bekerja sebagaimana mestinya. Buku yang ia lemparkan melayang-layang sebentar di udara, menujuku. Lalu seperti kucing yang ingin dimanja, buku ini secara perlahan mendarat di pangkuanku.

Aku mulai membaca huruf demi huruf. Kudapati sebuah judul yang menarik diikuti kalimat pembuka yang memikat disambung paragraf-paragraf menakjubkan. Membuatku hampir terlupa bahwa aku ada di dunia yang entah apa.

Aku terhanyut dalam kisah yang ditulis di halaman itu. Sampai aku tak menyadari sesuatu yang sedang terjadi. Ini mustahil!

Sedikit demi sedikit bagian tubuhku terserap ke dalam halaman buku ini! Mulanya adalah kakiku yang menjadi serbuk kemudian terhisap dalam halaman-halaman yang aku baca. Semakin aku membaca, semakin tubuhku terhisap seperti pasir yang dihisap lubang tanpa ujung.

Tubuhku tinggal pinggang ke atas. Pinggang ke bawahku sudah menjadi kisah dalam buku. Aku masih terkejut dengan semua ini dan terus membaca yang berarti… Aku membiarkan tubuhku  dihisap lembaran-lembaran buku.

Aku terus membaca dan terus terhisap.

Dan sekarang…

…aku sudah berada di dalam buku!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s