Manusia Mulia yang Mati Mengenaskan

Dia adalah seorang raja yang keagungannya berlipat ganda; wilayah kekuasaannya meluas tak terbendung, musuhnya tergetar oleh kesederhanaannya, orang paling miskin di kaumnya merasa kaya dan tentram hanya dengan mengingat namanya, dan iblis-iblis akan menyingkir untuk memberinya jalan. Sebuah kemuliaan yang hanya mampu disaingi Sulaiman as.

Dan hari itu pun tiba.

Umar bin Khattab tewas. Dibunuh saat mengimami subuh. Darahnya mengalir deras. Sederas air mata istri, anak, sahabat, dan rakyatnya.

Fragmen sejarah itu mengganggu saya sejak SMA di mana saya pertama kali mengetahui keganjilan itu di lewat LKS agama. Akal dan rasa kekaguman saya berontak: Bagaimana mungkin seorang mulia seperti Umar bin Khattab, matinya mati dibunuh?

Dan yang membuat saya makin tidak rela, dia dibunuh oleh orang yang hina – seorang penyembah matahari yang menaruh dendam.

Saya geram mengapa Khalifah umat Islam itu bisa tidak dikawal. Dan seolah dibiarkan terbunuh oleh tangan najis Abu Lu’luah.

Saya tidak rela membayangkan ada banyak noda di jenazahnya. Tubuhnya haruslah suci!

Beberapa tahun setelah membaca LKS tipis itu, guru ngaji saya, meninggal. Kala itu Ramadhan. Beliau baru saja menyelesaikan tarawih dan wiridnya. Dia lalu keluar masjid. Menyeberang jalan raya nasional ke kampung sebelah untuk membeli sesuatu.

Usianya yang sepuh, gelapnya malam, dan jalanan yang diperlebar jadi dua kali lipat sehingga motor lebih terpicu ngebut – paduan yang tepat untuk takdir malam itu.

Guru yang saya muliakan, tanpa saya duga, tewas karena kecelakaan. Ditabrak motor besar yang melaju kencang. Hal yang membuat saya benci ngebut sampai bertahun-tahun setelahnya. Teman saya pernah menertawai,”Kamu, naik tiger. Tapi ga berani jalan lebih dari 100 km.”

Dia tidak tahu peristiwa itu.

Kecelakaan tidak bisa diremehkan. Seperti yang dialami guru ngaji saya, Pakde Sahono.

Dari cerita anak-anaknya, kondisi jenazah memang mengerikan. Tulang patah dan banjir darah. Beruntung, saya “hanya” mengangkat jenazah setelah dimandikan dan dikafani. Perlu Anda tahu, darahnya masih mengalir sampai almarhum dikebumikan. Saya bisa membayangkan betapa ngerinya kondisi tubuhnya.

Dan lagi-lagi, saya tidak terima.

Bagaimana bisa orang sholeh tewas mengenaskan?

Tapi, beberapa tahun sebelum guru ngaji saya meninggal, Pak Dhe saya lainnya meninggal. Sebelum Pak Dhe Sahono seda, Pak Dhe saya yang beneran, juga meninggal karena sebuah penyakit. Tubuhnya menjadi sangat kurus di hari-hari terakhirnya. Saya tidak tega melihatnya.

Bagaimana pegawai DPR yang bersih ini, yang murah hati ini, yang rajin mengaji ini, bisa meninggal dalam keadaan memprihatinkan?

Terakhir, ibu saya.

Ada banyak hal yang membuat saya terkejut tidak terima. Ibu saya begitu baiknya. Tapi kenapa begini? Dibanding proses meninggalnya Pakde-pakde yang saya ceritakan sebelumnya, apa yang dialami ibu lebih memelas lagi.

Sampai-sampai saya tidak bisa menuliskannya di sini karena saya belum bisa berjarak dari kesedihan sehingga tak mampu menjelaskannya. Meski peristiwa itu telah terjadi bertahun lalu.

Tapi, intinya…

“Kenapa Allah tega?”

Orang mulia seperti Umar, guru ngaji, saudara, dan ibu saya mestinya mati dengan bersih. Minimal, seperti yang sering diceritakan orang-orang, digambarkan di majalah-majalah dan kisah-kisah.

“Orang saleh itu meninggal dalam sholatnya sambil tersenyum.”

“Kakekku, seorang kiai yang disayangi warga, meninggal dengan tenang dalam tidurnya.”

Ya,

Menurut saya, orang soleh mestinya mati mulia – tersenyum, tenang, tidur atau sholat. Sebenarnya ini fenomena wajar manusia saat mengagumi orang lain. Dia ingin orang yang dikaguminya bersih, anggun, dan tanpa noda.

Kalau Anda tidak percaya, lakukan tes sederhana ini:

Coba bayangkan orang yang Anda kagumi.

Sudah? Bayangkan dia ngupil, kentut, atau berak. Bisa? Sulit kan?

Nah, kurang lebih seperti itulah.

Kita ingin orang yang kita hormati itu lebih dari manusia biasa. Dia tidak boleh marah, galau, atau sekedar kentut. Dalam hal meninggalnya, kita ingin mereka meninggal tenang, tersenyum, bahkan kalo perlu.. memberi firasat bahwa dia akan meninggal.

Bukan tragis seperti Umar dan guru ngaji saya. (Oya, juga Uje. Ustadz seleb yang meninggal kecelakaan). Maka, kembali ke pertanyaan:

“Kenapa orang baik banyak pahala dimatikan dengan cara-cara seperti itu?”

Saya akhirnya menemukan jawabannya.

Setelah secara tidak sengaja membaca riwayat lebih detil tentang wafatnya Umar ibn Khattab ra.

Ringkasnya, ketika Umar selesai melaksanakan ibadah haji pada tahun 23 H beliau sempat berdoa kepada Allah di Abthah, mengadu kepada Allah tentang usianya yang telah senja, kekuatannya telah melemah, sementara rakyatnya tersebar luas dan la takut tidak dapat menjalankan tugas dengan sempurna.

Ia berdoa kepada Allah agar Allah mewafatkannya dan berdoa agar Allah memberikan syahadah (mati syahid) serta dimakamkan di negeri hijrah yaitu Madinah.

Ini sebuah doa yang membingungkan.

“Ya, Umar. Apa maksud doamu? Kau ingin meninggal di Madinah, sekaligus ingin mati syahid. Apakah kau berharap musuh mampu menembus Madinah agar kau syahid? Apa kau tidak memikirkan nasib warga Madinah?”

Di usia tuanya, Umar menjawab dengan lembut,”Allah itu bisa mengabulkan doa seorang hamba, tanpa menyusahkan yang lainnya.”

Lalu, terjadilah.

Allah memberi takdir yang menjawab keinginan kekasihNya itu. Umar sahid, tanpa peperangan di Madinah.

Akhirnya saya mengerti.

Dibunuhnya Umar, mengalirnya darah Umar, justru jawaban atas doa-doanya. Justru hadiah paling indah dari Allah untuk hamba yang disayanginya itu. Pembunuhan Umar adalah cara paling elegan dari Tuhan yang Maha Indah dan Penyayang,untuk menjemput kekasih Nya.

Karena Allah memang lebih tahu (bahkan paling dan Maha Tahu) cara paling indah dalam mengambil nyawa seseorang.

Dan sekarang…

..akhirnya saya bisa menerima.

Atas cara Allah mengambil orang-orang yang saya sayangi.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s