Potongan Pikiran

Selamat datang di serial Potongan Pikiran.

Pernahkah Anda mengalami ini:

Baca buku. Ada bagian tertentu yang bagus. Lalu, beberapa hari kemudian, Anda ingin menuliskannya. Tetapi, Anda sudah lupa detilnya. Anda hanya ingat garis besarnya saja. Misalnya, Anda sedang baca buku Soekarno Muda karya Budhi Wuryanto terbitan Delokomotif. Anda menemukan bagian-bagian yang mencerahkan. Salah satunya, tentang betapa revolusionernya Soekarno sejak muda. Sayangnya, Anda hanya ingat bahwa Soekarno di masa muda ternyata sudah revolusioner. Menikah muda, menguasai banyak bahasa, dan mendirikan partai. Anda tidak ingat lagi kapan persisnya Soekarno menikah, berapa bahasa yang dia kuasai, dan di umur berapa dia mendirikan parta. Padahal..

Angka dan data itu penting bila Anda ingin menulis. Anda tidak bisa meremehkan daya gugah angka-angka. Anda tidak bisa puas dengan,”Detilnya saya lupa tapi yang jelas….”

Kita tahu, secara pribadi, gagasan dari buku yang Anda baca itu sudah cukup untuk mengubah pemikiran Anda. Karena memang, untuk konsumsi pribadi, ingatan samar seperti itu tentu sudah mencukupi.

Tapi, bagaimana kalau Anda ingin menuliskannya untuk orang lain? Bagaimana kalau Anda ingin meyakinkan orang lewat tulisan Anda? Ingatan dan inti gagasan saja tidak cukup. Anda perlu sekali dua kali memberi kutipan yang persis seperti pada buku atau sumber Anda. Terlebih, saat Anda ingin menulis untuk media. Anda butuh referensi yang valid.

Anda perlu kliping.

Anda perlu ringkasan.

Anda perlu memindahkan paragraf-paragraf yang Anda stabilo ke tulisan Anda.

Anda butuh catatan berisi paragraf-paragraf penting, poin-poin menarik, kutipan pernyataan dari buku yang Anda baca.

Tapi..

Anda tidak menyimpannya.

Apa dampak buruknya?

Saya tidak tahu dengan yang Anda alami. Tapi, inilah yang saya rasakan:

  • Merasa sia-sia sudah luangkan waktu, uang, pikiran untuk membaca. Begitu gagasan itu dibutuhkan, kita sudah lupa (detilnya). Seperti Anda sudah mengonsumsi makanan bergizi, tapi sayang.. Mineral dan vitamin yang Anda butuhkan tidak diserap, tidak disimpan, tapi langsung dibuang.
  • Sudah berapa tahun Anda sudah suka buku? Sudah berapa buku yang Anda baca? Sudah berapa banyak gagasan cemerlang menghinggapi otak Anda? Tapi…
    • Sudah berapa tulisan yang Anda hasilkan? Kalau Anda seperti saya, Anda mengalami penyakit banyak baca kurang nulis. Padahal, Anda sudah tahu kan manfaat menulis? Anda sudah sering kan nyesek kenapa pikiran, ide-ide, dan kalima-kalimat yang quotable hanya ada di otak Anda?
  • Saya ingin berhenti jadi orang yang “pintar” tapi sia-sia. Saya ingin mulai berguna. Saya ingin orang bisa membaca gagasan saya yang semoga bermanfaat.

Serial ini berawal dari saya yang suka banyak membaca, menemukan mutiara-mutiara gagasan yang menarik, untuk kemudian langsung terlupa bahkan sebelum buku itu selesai saya baca. Dulu saya tidak mempermasalahkannya,”Yang penting inti gagasannya sudah paham. Kata-kata persisnya tidak usah.” Saya pun sudah bisa menulis esai-esai tanpa dokumentasi tersebut. Tapi…

Saya merasa ada yang kurang.

Saya mulai merasa akan sangat menarik kalau kita punya catatan-catatan. Semacam kliping – hasil kita menggunting pikiran sang penulis yang tercetak di lembar-lembar buku. Saya tidak tega menggunting buku-buku dan koran-koran. Saya enggan menstabilo poin-poin yang menarik.

Tapi, saya tetap butuh catatan.

Entah karena pada dasarnya saya malas atau memang karena sudah jamannya digital.. Saya merasa lebih praktis kalau saya menulis ulang potongan-potongan bagian buku itu di laptop. Lebih cepat, lebih tersimpan (istilah apa ini), dan yang jelas.. buku-buku saya tetap bersih. Karena itulah sejak semalam saya mulai mencatat di laptop bila ada bagian buku yang menarik. Saya mulai keasyikan. Saya merasakan manfaatnya.

Dan ternyata, saya temukan ide yang lebih menarik.

“Kenapa tidak potongan itu dipublikasikan?”

Selain tersimpan dengan baik, tulisan ini bisa dengan mudah saya baca lagi. Saya tidak perlu membawa jurnal ke mana-mana. Cukup buka hape, buka blog pribadi. Dengan diblog, saya juga bisa lebih mudah mengkategorisasikan catatan itu. Ini penting bagi orang yang malas mendokumentasikan seperti saya. Proses dokumentasi harus dibuat semudah dan semenyenangkan mungkin.

Dan inilah hasilnya.

Kategori baru di blog lama saya: “Potongan Pikiran

Berisi part-part menarik dalam buku yang saya baca. Saya kumpulkan. Kelak, saat saya ingin menulis esai saya sendiri, saya tinggal longok catatan ini. Saya yakin, saya pasti lebih produktif menulis tahun ini. Karena saya percaya, tulisan yang kuat berasal tidak hanya dari kecerdasan. Tapi juga catatan yang lengkap.

Akhir kata,

Mari mencatat.

Iklan

5 pemikiran pada “Potongan Pikiran

      1. kalo gitu, passwordnya dicatet di buku catatan aja. haha. malah ribet amat yak. Dah.. intinya dirimu lebih cocok pake imajinasi joker. Tapi bener sih.. makanya catatannya itu.. ane publish di sini aja.. biar ga kebanyakan inget password.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s