Isolasi Informasi – Prie GS dan Cak Nun

Sekarang jamannya hoax. Bahkan saat tulisan ini dibuat, saya baru saja dapat kabar heboh dari status Puthut EA. Apa itu?

Goenawan Mohammad menyebarkan gambar Hoax!

Bayangin, tokoh sastra cum jurnalis sekelas GM aja kena hoax! Wow… Detil tentang berita itu saya kutip di tulisan asfdasdfasf. Kali ini, saya akan menyajikan tulisan yang berkaitan dengan judul. Saya menemukan tulisan ini sangat cocok dengan kondisi sekarang. Di saat kita kebanjiran informasi, kita lebih perlu menahan diri. Ini adalah masa-masa “kudet” menjadi nilai keutamaan.

Mari kita mulai.

BOHONG – PRIE GS

Salah satu dari sekian banyak penderitaan manusia ialah ketika ia terpaksa berbohong. Bohong dan terpaksa adalah dua hal yang berbeda. Yang satu dilakukan oleh pembohong profesional, yang lain dikerjakan oleh kaum amatiran. Yang satu menganggap berbohong tidak lebih dari pekerjaan biasa, yang lain menganggapnya sebagai musibah. Para pembohong amatir itu biasanya terdiri atas orang-orang kepepet dan jenis manusia bernasib sial lainnya.

Pembohong jenis kedua itulah yang sekarang dicurigai tengah ramai bermunculan. Mereka setiap kali ramai berkata-kata tapi, sayang, meski iba, kita tak tertarik lagi mendengarnya. Ketika kata dan keindahannya ternyata bisa menjadi alat untuk (sejenak) mengubur kenyataan, kita mulai terancam bosan terhadap dia. Orang boleh ramai bicara, tapi kita tak lagi berminat memasang telinga.

Saat ini adalah saat yang baik untuk mengistirahatkan kuping. Ia telah demikian lelah menampung beban buniy-bunyian yang cuma mengacaukan otak dan pikiran. Bagaimana kita mau menyeleksi kebenaran jika semua orang, baik yang dicurigai sebagai bandit maupun yang tengah disangka sebagai pahlawan bisa sama-sam muncul di koran dan televisi secara memesona: sigap gayanya, tangguh keyakinannya, mantap aktingnya. Baik yang tengah dipuja maupun dimaki, sama-sama memiliki kehebatan berargumentasi. Lhah! Lalu siapa malingnya! Siapa biang hura-hura ini?

Ini negara sudah porak poranda. Ini keadaan sudah begitu menyiksa, tapi betapa mengherankan ketika penghuni negara celaka ini semuanya mengaku pejuang. Ini betul-betul teka-teki yang bisa merontokkan rambut dan melebarkan jidat. Bahkan orang yang kemarin kita curigai sebagai konspirasi tingkat tinggi, hari ini sudah kembali menjadi orang terpuji karena keberaniannya membuka diri. Wooo, apakah karena ini semua akibat kesuksesan teori PR modern, kehebatan seni retorika, atau karena memang huru-hara ini adalah kasus ajaib, musibah yang bisa terjadi dengan sendirinya?

Bagaimana kita bisa percaya, jika apapun mutu pembicaraan itu toh tidak menghapus kenyataan bahwa kerusakan ini ada, kejahatan ini nyata.

Hanya di Indonesia ditemukan banyak sekali barang jarahan tapi penjarahnya  sendiri tidak pernah benar-benar kelihatan. Banyak orang merasa kecolongan tapi si maling tidak pernah benar-benar bisa ditemukan. Maka, ayo berhenti berspekulasi sebelum kita terancam menjadi gila. Mari sejanak puasa menonton televisi, membaca koran, mendengar debat dan diskusi, sepanjang mereka tetaplah menjadi media propaganda, alat yang tak pernah bisa berkelit dari kutukan standar ganda. Alat yang bisa menyiarkan kebenaran dan kebohongan secara berbarengan. Dan apadaya kita jika yang bohong dan yang benar itu disiarkan dengan cara yang sama-sama hebatnya?

Mari kita berdiam diri sampai kebohongan itu kemudian menelanjangi dirinya sendiri.

dikutip dari buku the Great Spirit; Wisdom, Inspiration, and Reflection hal 79.

Sekarang, mari kita masuk ke sumber kedua. Cak Nun. Harap dicatat bahwa yang saya ringkas ini bukan berasal dari Cak Nun sendiri. Tetapi catatan mas Nanang yang meringkas paparan Cak Nun dalam helatan Kenduri Cinta. Poinnya tentang puasa informasi, sangat layak kita baca.

Ini dia.

Strategi Khandaq Hadapi Era Globalisasi

……

Strategi khandaq adalah strategi kesabaran, strategi puasa, strategi mengisolasi diri. Strategi khandaq adalah strategi membentengi diri dari pengaruh-pengaruh jahat dari dunia luar. Hanya manusia yang memiliki niat lurus dan tekad yang kuat yang akan berhasil memenangkan pertempuran. Jika di masa Rasulullah, Perang Khandaq benar-benar beradunya dua pasukan yang saling siap menyerang, maka perang khandaq-perang khandaq di masa kini menjelma menjadi berbagai serangan ideologi yang semakin menyudutkan dan melemahkan ummat Islam.

kc-edisi-februari-2017-3

Kemajuan jaman di era globalisasi saat ini juga menghadirkan serangan dusta, hasutan, bahkan fitnah. Sehari-hari, berjuta-juta informasi hadir di dunia internet, khususnya media sosial. Setiap detik, setiap waktu, bahkan setiap saat kita dapat mengupdate status, membaca berita dan status orang lain, bahkan mengunduh data dan informasi yang sangat beragam. Jika di masa lalu, dusta kata hanya sebatas celotehan lidah dan ucapan mulut, hari ini huruf, kata dan kalimat terangkai dalam suatu kedustaan, kebohongan dan fitnah yang menyebar demikian hebatnya dalam selang waktu yang sangat singkat. Hasutan dan fitnah tersebut bagaikan setitik api yang tersulut bensin dan menyala semakin besar, semakin menjalar, membakar apapun benda yang diterjangnya.

Di tengah gempuran informasi kedustaan dan fitnah, lalu bagaimana ummat Islam menyikapinya? Strategi khandaq bisa kita jadikan rujukan dari sejarah masa silam. Membatasi diri, membentengi diri, mengisolasi dalam konteks yang setepat-tepatnya. Bukan berarti kita sama sekali tidak mempedulikan kemajuan teknologi informasi yang semakin deras, tetapi setiap diri kita harus punya disiplin diri untuk menyaring, untuk senantiasa sebisa mungkin men-tabayuni informasi yang datang, kemudian memilah dan memilih informasi yang berguna untuk kemajuan kita. Dengan demikian ummat Islam tidak akan terlarut atau hanyut dalam jaman edan yang salah-salah dapat menjadikan manusia yang mulia akhlaknya menjadi wong edan yang lupa jaman.

Demikian sedikit catatan yang sedikit dapat saya ingat dari diskusi bulanan Kenduri Cinta edisi Februari 2017 yang mengambil tema Fundamentalisme Khandaq. Strategi khandaq tentu bisa kita kontekstualisasi terhadap berbagai permasalahan lain yang kini mendera ummat muslim. Salam maiyyah!

 

Itulah dua catatan tentang puasa informasi. Jangan anggap remeh godaan informasi di era ini. Bahkan, Goenawan Mohammad dan Aa Gym pun tak imun darinya!

 

Iklan

Satu pemikiran pada “Isolasi Informasi – Prie GS dan Cak Nun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s