Nyoba Nulis

Sudah lama saya endak nulis. Saya ingin kmbali nulis. Bukan. Bukan sekedar kembali nulis. Tapi mencoba hal baru. Yaitu: Menulis dengan RUTIN.

jadi, ke depan, blog ini tidak akan lagi saya anggap sebagai etalase karya. Tapi justru dapur laboratorium. Anda jangan berharap tulisan-tulisan yang sudah rapi. Tapi di sisi lain, Anda beruntung karena akan membaca “bahan mentah” gagasan yang semoga bisa Anda olah sendiri.

Nah, untuk memulai rutinitas baru ini, saya akan menulis semacam diary hari ini.

Dimulai dengan tadi siang.

Seminggu ini, saya berburu videografer. Lalu tadi siang, datanglah Habib. Kawan Mufid. Youtuber asli Madiun. Dari gesturenya, dia bukanlah social butterfly tapi juga bukan introvert yang kaku. Bisa bersosialisasi, tapi kurang luwes. Dan itu tidak jadi soal. Orang-orang ini justru menjadi tantangan tersendiri bagi saya. Bagaimana membuat mereka benar-benar nyaman?

Sebagai editor, dia jelas lebih sering di depan komputer. Tapi, saya mengapresiasi upayanya menciptakan obrolan. Berinisatif menanyai saya beberapa hal, menanggapi omongan saya dengan cherry picking, dan menjaga kontak mata. Hal-hal yang sudah cukup membuat Habib dikategorikan memiliki kecerdasan sosial yang bagus.

Tapi, saya sendiri yang kurang nyaman.

Diawali dengan rasa kaget tahu-tahu Habib sudah sampai kantor Rumah Warna. Saat itu saya sedang sibuk mengegas semangat tim konten, brainstorming sesi pemotretan besok bersama mas Omen, dan hal-hal besar lainnya. Saya tidak menyangka saat saya dipanggil,”mas Bondan, ada telepon.”

Setelah turun satu lantai, berjalan ke telepon, lalu mendengar suara Mas Herdi (Satpam yg ramah) dari ujung sana,”Mas Bondan ya? Ada tamu mas. Dicari mas Habib.”

Kekejutan saya bertambah. Setelah tadinya berjalan sambil bertanya-tanya,”Emang siapa yang telpon? Kok ga WA aja? Hari gini gitu!” Lalu saya dikagetkan,”Oiya ya. Hari ini mas Habib mau datang untuk ngobrol/interview.”

Sambil berjalan menemui mas Habib di lantai 1, saya mempersiapkan segalanya. Dalam pikiran saya. Seperti apa yang akan saya omongkan, bagaimana presentasinya, dan apa saja yang ingin saya tanyakan.

Tapi karena masih “kaget”, ide-ide kasar yang muncul saya simpan begitu saja tanpa perlu saya rinci lagi – Urutan omongan, di mana ngobrolnya (kafe, kantor, atau ruang tamu?), perlu alat bantu visual kah untuk presentasi visi, dan apa saja persisnya yang ingin saya tanyakan. Poin-poin kasar itu segera saya masukkan ke bawah sadar untuk kemudian dipercayakan pada insting.

“Saya tinggal membuatnya nyaman, menelusuri kepribadiannya, visinya, titik sentuhnya, titik lukanya, lalu setelah itu, jelaskan visi saya. Dan kita akan tahu apakah dia cocok dengan project ini atau tidak.”

Begitulah kira-kira yang akan saya lakukan sebelum Ashar. Karena nanti ashar, saya harus sudah meluncur ke ngayomi. Ngayomi adalah perusahaan yang didirikan dua kawan baik saya. Mas Teguh dan Mas Anto.

Alhamdulillah, proses screening berjalan cukup lancar. Satu-satunya “kendala” adalah karena kami lalu pindah ke kafe Rumah Warna. Saya sudah bawa dompet. Tapi begitu duduk, saya baru ingat — saya belum ambil duit.

Lagi-lagi saya memutar otak – sambil menginterview mas Habib – bagaimana solusi elegan dari hal ini. Plan A, tuntaskan interview ini. Lalu bilang ke kasir,”Berapa mas? Saya ke ATM dulu ya?” tapi saya batalkan karena kemarin saya pernah mengalami kejadian memalukan. Saya lupa bayar sampai mas Eko, manajer kafe, telpon ke kantor.

Dan akhirnya, cerita sudah terlalu panjang. Mungkin belum. Tapi saya sudah lapar dan ingin baca buku Creative Director Budiman Hakim yang baru saja saya beli secara spontan di sebuah toko buku yang sepi. Yang herannya ternyata sudah buka sejak 4 tahun lalu tapi kok saya tidak tahu?

Toko buku ini searah kalo Anda berjalan dari bangjo Jakal menuju kantor RW. Toko buku ini dan pengalaman saya di dalamnya akan saya ceritakan.

Tapi tidak sekarang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s