Mengapa Saya Membela Pemkot Magelang?

Saat Anda baca tulisan ini, Anda merasakan gumpalan rasa peduli pada kawula alit yang menggelegak. Anda ingin berkontribusi pada kota kita tercinta. Anda ingin Magelang menjadi kota yang berkemajuan tanpa menelan kebudayaan.

Dan kita pun telah sepakat bahwa Magelang haruslah menjadi kota yang maju, cerdas, santun, bersih, dan agamis. Seperti jajaran pemerintahnya. Kalau Anda jagong manten, Anda akan mendengar si MC mengatakan bahwa aparat pemerintah adalah satriyaning nagari. Mereka adalah pandam pandoming para kawula dasih; penerang dan petunjuk arah kita semua rakyat kecil.

Saya pernah nyetatus “Suatu kota akan makmur bila Wali Kota rangkap jabatan sebagai Wali Allah.”

Dan tulisan ini, adalah tulisan dari remah-remah rempeyek yang ingin membuktikan bahwa Pemkot Magelang telah berhasil mengikuti teladan rasul kita, Nabi Muhammad SAW. Kebijakan relokasi Pasar Pahingan menurut saya sudah sangat ittiba’ ur rasul.

Tentu hal ini karena wali kota kita juga wali Allah. Dan selayaknya waliyullah, belio akan mengajari kita banyak hal dalam hidup ini. Jadi, plis deh. Kita ini yang bodo, sok nyeni, sok berkepentingan pada wong cilik, tidak usahlah sok menggurui, apalagi mengoreksi langkah Pemkot.

Kok bisa?
Saya ceritakan pelan-pelan ya.

“Ilmu” ini saya sarikan dari Prof Zaim Saidi. Beliau adalah Intelektual Islam plus-plus. Karena tidak hanya berjihad dengan pena, Prof Zaim dikenal “orang lapangan”. Tidak pernah lelah mengunjungi berbagai daerah di Indonesia (tanpa gila ‘bayaran’, gila popularitas).

Kalau Anda merasakan akhir-akhir ini di Indonesia makin banyak orang memakai Dinar Dirham, meninggalkan Riba, menjauhi bank kecuali darurat, insya Allah itu sedikit banyak karena perjuangan beliau.

Mari kita mulai. Kepada Prof Zaim, kami persilakan.

Pasar, sejak sebelum maupun sesudah Islam, adalah lembaga publik. Mereka milik masyarakat. Mereka milik rakyat. Bukan milik pribadi. Dan Rasul, sallalahu alayhi wa sallam benar-benar mewariskan pada kita bahwa suq, pasar, adalah sedekah bagi masyarakat.

Pasar itu  wakaf. Artinya lembaga yang ngatur pasar adalah perwakafan. Merupakan hak dasar setiap warga masyarakat untuk memiliki tempat (ruang) untuk berdagang tanpa ada pembatasan, tanpa ada sewa. Monopoli pasar swalayan menghancurkan kebebasan dasar masyarakat untuk berdagang ini. Privatisasi pasar telah membunuh perdagangan.

Suqqa adalah orang2 pasar. Suqqa dominan  kaum perempuan. Tujar adalah para pedagang, orang2 yang berada di kafilah,  kebanyakan laki2. Tentu, ini tidak eksklusif sama sekali. Di Madinah juga diketahui sejumlah laki-laki berdagang di pasar.

Dua institusi pertama yang dibangun oleh Rasul SAW sesudah berhijrah ke Madinah adalah masjid dan pasar. Rasul SAW menyatakan:

“Sunnahku di Pasar sama dengan sunnahku di Masjid”.

Aturan main di pasar, serupa dengan aturan main di masjid. Dalam arti, entah di pasar entah di masjid, semuanya harus sama-sama jujur dan bersih. Jadi, mendekatkan pasar ke masjid adalah upaya Rasul supaya pasar (tempat godaan untuk curang dan menipu sangat kuat) tetap dilindungi berkah masjid. 

Keduanya merupakan institusi publik, sarana umum yang tidak boleh dimiliki secara pribadi, dan harus terbuka untuk setiap orang.

Seperti masjid, pasar tidak boleh ada sekat-sekat permanen, serta tidak boleh ada pembebanan sewa maupun pajak. Tidak ada riba juga. Dalam tradisi Islam pasar itu “bergerak” berpindah-pindah tempat, seperti di Jawa misalnya dikenal “hari pasaran”, Legi, Pahing, Pon, dst. Di Jakarta kita masih mengenal sisa nama2nya: Pasar Senin, Pasar Rabu, Pasar Jumat, dan Pasar Minggu. Penjual bergerak. Rezeki berputar

Ketika Rasul SAW ingin dirikan pasar di Madinah, beliau pergi ke pasar [Yahudi] Bani Qainuqa dan kemudian kembali datangi pasar Madinah. Nabi jejakkan kaki ke tanah dan bersabda, ‘Ini pasar kalian. Jangan biarkannya berkurang dan jangan biarkan pajak apa pun dikenakan.’”

Di pasar yang terbuka umum perdagangan dapat dilakukan dengan distorsi pasar  minimal, hukum fitrah pasokan dan permintaan berlangsung. Kewajiban para pemimpin Muslim untuk menyediakan pasar-pasar terbuka ini. Bukan seperti yang terjadi hari ini, justru dibangun mal-mal.

Masjid dan pasar harus disandingkan. Keduanya adalah wakaf. Bebaskan pedagang dari pajak, sewa, dan riba. Hari ini lihatlah, pedagang kececeran di trotoar, di gang-gang becek, di emper-emper toko pinggir jalanan. Tak ada yang melayani mereka.

Ini ironi umat Islam. Masjid ratusan ribu jumlahnya, meski umumnya kosong. Pasar, yang mendampingnya,  hampir tak ada. Sedangkan Allah SWT menyandingkan salat dan berdagang, masjid dan pasar, dalam satu ayat Qur’an yang sama. Ibadah dan Muamalah sejajar.

Karenanya marilah kita kembalikan Sunnah di Pasar ini. Kita bangun pasar-pasar terbuka, bebas sewa, bebas pajak ini.

Sekian dari Prof Zaim Saidi.

Jadi pripun para sedulur? Kita pertahankan pasar Pahingan. Pasar terbuka, Islami, dan berbasis ekonomi kerakyatan ini yuk!

Dan sekarang, Anda akan mulai melihat bagaimana kesamaan putusan antara Pemkot Magelang dengan Rasulullah SAW. Kita bedah satu per satu ya.

SUNNAH RASUL:

Masjid dan pasar perlu disandingkan.

PEMKOT:

Pasar dipindah ke Rindam. Pasti karena di area Rindam juga akan dibangun masjid Jami’ bukan?

“PEMKOT” ARAB SAUDI:

Pasar seng dihilangkan demi perluasan masjid.

PEMKOT MAGELANG:

Pasar Pahingan direlokasi karena masjid kauman akan diperluas(?)

Dan masih banyak lagi kesamaannya. Silakan baca penjelasan Prof Zaim Saidi di atas.

Sekali lagi, itulah kesimpulan saya. Pemkot Magelang benar-benar membuat kebijakan yang mampu mengarahkan magelang menjadi kota yang cerdas, bersih, agamis.

Simpulan berikutnya adalah..

Bagaimana menciptakan pasar terbuka (karena yang ini lebih mendekati syariat) yang dekat dengan masjid tetapi tidak mengotori sarana publik. Tidak di trotoar. Menurut saya ini pertanyaan yang lebih mendesak kita temukan jawaban ketimbang kita terjebak pada ad hominem. “Perangnya” bukan lagi perang ide dan rasa tapi saling menjatuhkan kepribadian.

Kalau kesimpulan saya salah, mohon dimaafkan. Di atas sudah saya ungkapkan bahwa pemerintah adalah pandam pandoming kawula dasih. Mereka pencerahnya, saya rakyat kecilnya.

Saya tentu tidak mungkin benar. Nggih nopo nggih Bu?
*khas pengajian Pahingan

Sebagai bonus, saya unggah obrolan singkat Mangun dan Umar Kayam ya.

romo mangun dan umar kayam.jpg

Untuk lebih dalamnya, silakan klik link-link berikut;

http://zaimsaidi.com/pilar-kedua-muamalah-pasar-terbuka/

http://zaimsaidi.com/pilar-ketiga-muamalah-karavan-dagang/

http://chirpstory.com/li/171986 (yang saya sadur untuk tulisan)

http://chirpstory.com/li/297442 (yang saya sadur untuk tulisan)

http://zaimsaidi.com/mengembalikan-ruh-masjid/

http://zaimsaidi.com/lima-pilar-muamalat/

http://mastonie-go2blog.blogspot.co.id/2011/04/kisah-pasar-seng-yang-legendaris-itu.html (menjawab “Pasar Seng aja sekarang udah tidak ada!”)

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s