Senjakala

Aku baru terbangun saat ibu sedang memotong-motong senja di dapur. Akhir-akhir ini senja susah didapat. Ibu terpaksa mengiris kecil-kecil senja hasil perburuan Ayah supaya cukup untuk sarapan kami bertujuh. Sebagai anak pertama dari keluarga pemakan senja, aku harus mendapat penjelasan. Mengapa senja sampai mengalami “senjakala”. Akankah dia punah?

Waktu itu Ayah yang kelelahan memintaku untuk memijatnya. Dan tentu mendengar keluhannya. O.. Tuhan. Mengapa kau berikan aku ayah pengeluh?

“Ayah akhir-akhir ini susah mendapatkan senja, Nak..”

Memang kenapa, Yah?

“Yah.. kau tahu Nak. Dulu senja begitu mudah didapat. Tapi, sejak Sukab memotong Senja untuk Alina.. hampir seluruh kaum manusia berpikir bahwa memberi oleh-oleh pacar sepotong senja adalah hal yang romantis. Dan apa yang lebih menggerakkan manusia daripada romantisme?”

Aku ingin mendebat Ayah bahwa ada isme lain yang lebih berdaya ketimbang romantisme. Tapi biarlah si Tua ini berpikir dialah yang paling benar. Bukankah yang muda selalu salah?

Supaya Ayah senang, aku bertanya,”Jadi… sejak itu senja banyak diburu manusia, Yah?”

“Betul anakku. Awalnya hanya bangsa penyair yang melakukannya. Kini, semua kaum muda melakukannya. Mereka memburu senja lalu mengerangkengnya di instagram. Kadang kerangkeng instagram itu digembok. Membuat senja semakin sulit membebaskan diri dari dunia maya itu.”

Perhatianku tersita senja yang baru selesai digoreng ibu. Aku tak tahu apa yang dibicarakan ayah. Dunia maya? Bukankah “dunia” ini sendiri sudah maya? Bukankah tidak ada yang nyata sama sekali selain Yang Maha Nyata? Tapi biarlah.. Aku biarkan ayah merasa khayalannya paling nyata dan dustanya paling benar.

“Tidak hanya itu Anakku… Setelah diikat di instagram, manusia masih memberinya pagar-pagar.. Memberinya mantra-mantra… semacam ajian yang membuat manusia merasa lebih unggul, gaul, dan paling paham keindahan dibanding lainnya. Padahal, kalau memang mereka mengakui keindahan senja.. Mengapa mereka menangkapnya?”

Aku memasang raut prihatin. Ayah pun ingin dimengerti perasaannya.

“Kau tahu apa yang lebih kejam dari itu semua, Anakku?”

Aku menggeleng sambil mengunyah senja terakhir yang disediakan ibu.

“Manusia rela membunuh senja demi tanda hati semu dari manusia. Semakin banyak hati yang mereka dapat, semakin banggalah mereka.”

Jadi, mereka membunuh hanya untuk kesenangan?

Ayah mengangguk. Hening kemudian.

Setelah cukup lama, Ayah berkata lagi,“Senjamu, sudah kau habiskan, Nak?”

Sudah, Ayah.

“Kalau begitu, pergi dan panggil Bulan sekarang. Sampaikan pujianku padanya. Aktingnya begitu hebat sehingga anak-anak manusia itu sering mengira Bulan mengejarnya kalau berlari sambil menatap Bulan.”

Aku mengangguk dan bila kau bertemu denganku seminggu lagi.. Kau akan membaca surat yang nantinya akan kukirimkan untuk manusia. Ini isinya.

“Wahai pembaca, kau sudah mendengar semuanya. Jadi, bila kau kenal bangsa manusia yang suka menangkap senja.. Bilang padanya untuk jangan rakus. Jangan rebut senja kami. Biarkan senja menjadi makanan kami… anak-anak Hari.”

Dan di akhir hari ini aku ingin memperkenalkan diri. Namaku Senin. Sebentar lagi aku akan membangunkan adikku, Selasa. Semoga masih tersisa senja untuknya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s