Pria yang Menggunting Pikirannya

Kenalkan Darvin, pria yang menggunting pikirannya.

Seperti anak TK, dia sedang asyik duduk di ruang pikirnya. Ruangan ini terlalu sederhana bagi orang seliar Darvin. Tidak banyak perabot. Juga tidak ada lampu. Tak kusangka kamar gagasan Darvin seperti rumah makan padang: Sederhana. Atau kelakuan rumitnya itu justru lahir dari ruang pikir yang sederhana ini?

Pertama kali masuk ruangan ini, Aku menertawakannya.“Beneran ini ruang pikir Darvin? Pria yang polah tingkahnya tanpa pola itu? Yang konon Tuhan pun tak mampu menebak jalan pikirannya itu?”

Darvin hanya mengangguk dan tersenyum. “Tuhan tak perlu menebak, Sayang…”

Sayang?

Sekian ratus tahun aku mengenalnya. Baru kali ini aku mampu memasuki pikirannya. Dan baru kali ini aku mendengarnya dia mengucap kata itu… Di ruang pikirnya. Apa aku tidak salah dengar? Cepat aku menggeleng dan menyadarkan diri.

Ah, ini kan baru di ruang pikirnya. Di ruang hatinya, mungkin dia akan berkata lain.

“Aku tak punya ruang hati, Alea. Aku sudah merobohkannya berabad-abad lalu. Kau lupa?”,”Darvin mendengar pikiranku. Bukan hal yang mengejutkan.

Oh iya aku baru ingat. Tapi kau belum cerita alasannya.

Darvin menghela napas. Sejenak dia berhenti menggunting-gunting pikirannya lalu menatapku.

“Sebelumnya aku minta maaf. Aku berbohong. Aku tidak merobohkannya. Sebenarnya ruang hati itu kukilokan ke tukang rosok. Dan kau tahu apa yang dikatakan tukang rosok itu, Alea? Ah.. kau takkan mau mendengarnya. Dan kau juga penasaran berapa harganya bukan?”

Ya.. Berapa kau jual ruang hatimu?

Darvin meneguk segelas sirup. “Aku tak menjualnya. Kuberikan saja pada tukang rosok itu. Untuk orang yang takkan lagi punya hati, kurasa itulah kebaikan terakhir yang bisa kulakukan.”

“Aku pikir itu keputusan yang tepat. Ternyata salah.”, Darvin melanjutkan.

“Kukira, ruang pikiranku akan lebih luas setelah aku tak lagi punya ruang hati. Aku pikir, tidak lagi merasakan sedih, kecewa, bahagia, membuatku mampu berpikir lebih jernih. Ternyata.. Beginilah sekarang ruang pikiranku. Seperti yang kau lihat.”

Tak ada nada penyesalan di kata-kata Darvin barusan. Dan sebagai Pembaca, apakah Anda ingin tahu seperti apa yang aku lihat? Baiklah… Kuceritakan pelan-pelan ya.

Satu-satunya sumber cahaya di ruang pikir ini hanyalah kertas-kertas yang berpendaran. Kertas-kertas ini berserakan di seluruh lantai, dinding, dan atap. Ada juga sobekan-sobekan gagasan yang melayang-layang. Lembaran-lembaran pikiran ini semuanya berkelap-kelip. Duduk di ruangan ini, seperti sedang duduk di langit gagasan Darvin dengan dikelilingi bintang-bintang.

Dan bila kau melihat Darvin sekarang, dia telah kembali asyik dengan pikiran-pikirannya. Kadang dia memotong, melipatnya jadi dua, atau membentuknya jadi pesawat-pesawatan, angsa, atau boneka. Setelah menjadi suatu bentuk, oleh Darvin pikiran itu ditaruh di dalam suatu kotak kecil di sebelah kirinya.

Di dalam kotak itu, pikiran-pikiran itu akan saling berbicara dan menghujat. Kadang-kadang ada pertarungan. Seperti yang saat ini terjadi. Perkelahian antara Panda kertas dengan Manusia kertas. Lalu datang Gajah kertas dari belakang Manusia itu. Serta merta dia menindih. Manusia itu tidak jatuh. Gajah itu tidak lebih berat dari Manusia. Mereka sama-sama kertas tipis hasil pikiran Darvin. Tapi Gajah itu berhasil mencabut hidung manusia. Mengambil gigi taring Manusia. Dalam pikiran Darvin, Gajah itu berhasil membalas dendam.

Di sudut lain, ada yang diam-diam keluar dari kotak kecil itu. Yaitu selembar kertas hitam yang terbakar. Dia berdiri ke atas kotak. Lalu terbang terbawa angin. Asapnya ke mana-mana. Apinya makin besar. Membakar semua gagasan-gagasan yang beterbangan di kamar pikiran Darvin. Menjadikannya abu.

Lalu keluarlah pemadam kebakaran pikiran. Belum berhasil api dipadamkan, orang-orang di alam pikiran Darvin kembali dihebohkan dengan teriakan,”Copeeet! Copeeet!”

Tidak butuh waktu lama, datang polisi pikiran dengan senjata lengkap untuk menangkap pencuri gagasan yang lincah itu. Lalu ruangan yang semula hening itu semakin rusuh dengan sirine, suara ledakan, asap, dan teriakan-teriakan.

Lalu..

“Duaarrr…!”

Bom meledak di salah satu taman pikiran. Membunuh orang tua dan anak-anak yang sedang merehatkan pikiran mereka.

“Duaarrr…!”

Bom meledak di ujung ruangan.

Memanglah Darvin tidak bisa diterka. Setelah ruangan ini menjadi terang karena api, barulah kulihat sebuah miniatur kota di kamar pikiran Darvin. Lengkap dengan gedung, jalan, taman, dan manusia-manusia. Tampak modern namun asri.

Ingin kuselamatkan kota pikiran itu. Tapi ruangan yang semula sunyi ini terlanjur menjadi penuh asap, api, darah. Orang, Gajah, Angsa, Boneka, berlarian menyelamatkan diri dari gedung pencakar pikiran yang roboh. Jembatan-jembatan roboh. Debu-debu material gagasan beterbangan. Membuat sesak siapapun yang menghirupnya. Termasuk aku dan Darvin.

Darvin terbatuk-batuk dan mulai lemas.

Aku segera mengambil masker. Aku harus tetap tenang dan mencari pintu keluar. Aku harus menemukan ruang hati Darvin dan membawanya kembali. Kalau tidak, Darvin akan mati dibunuh gagasannya sendiri.

 

Iklan

2 pemikiran pada “Pria yang Menggunting Pikirannya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s