Orang Jogja? Cintai MOGE!

“Pit onthel juga arogan lho! Itu anak-anak JLFR sering bikin macet jalan. Tiap bulan malah.”

Begitu komentar kawan saya. Pasti sedang sempit hatinya. Sudah benci oknum pemoge, sentimen juga ke kawan-kawan gowes.

Kalo saya sih kasihan ke pemoge kemaren. Hanya untuk ugal-ugalan saja, mereka harus merogoh kocek jutaan dan datang jauh-jauh ke Jogja. Sementara saya, cukup keliling kampung bisa war wer wor pakai Supra prethelan.

Mau bikin polusi suara? Mereka harus beli semotor-motornya. Itu aja impor. Kasihan kan? Lha saya cukup ganti knalpot blombongan. Itu aja seken.

Mereka juga perlu pengawalan polisi untuk ngeblong. Sedang saya cukup dikawal kecerobohan saya sendiri.

Dan uniknya, kemarin banyak yang konvoi ke jalan-jalan kampung. Tentunya sempit dan di beberapa titik ada yang sedang mengadakan genduren.

Moge memang luar biasa. Mobil aja kalo ada hajatan sampai nutup jalan lebih memilih putar balik. Lha ini kemaren nekaaat aja nerabas. Untung warga tidak ada yang mencegat dengan kursi dan besek sambil acung-acung lemper.

Jadi ya memang kita perlu mengasihi Jama’ah Harley itu. Mereka harus menembus sempitnya gang hanya untuk membuktikan bahwa masih ada orang-orang yang hatinya lapang.

Mereka tidak seberuntung saya yang bisa sewaktu-waktu bercengkrama dengan warga di warung. Bercerita ini itu dan tahu-tahu permasalahan kita ada yang bantu.

Dan untuk merasa berkontribusi pun, mereka harus (lagi-lagi) beli moge, bayar pajek, nyewa hotel hingga katanya menaikkan tingkat okupansi (plus kemacetan) sampai 90%.

Sedangkan saya, yang tidak mbayar apa-apa ke Jogja, tidak nyewa hotel, (mentok kos-kosan) ternyata sudah merasa bisa mengatur-atur Jogja. Bahwa Jogja harus sepi, aman, tanpa macet, tanpa pembacokan.

Saya berhak memaksa Jogja bebas maksiat dan kejahatan padahal saya bisa jadi saya investor terbesar buramnya moral Jogja.

Saya sendiri salah menginginkan Jogja tetap berhati nyaman saat Kanjeng Sultan sendiri memerintahkan Jogja untuk dinamis dan peka perubahan.

Saya harus berani menembus tradisi. Tidak boleh-boleh memaksa Jogja tetap tradisional. Apa hak saya melarang tanah-tanah dibangun hotel dan mal? Wong sepetak tanah pun saya tidak punya.

Lagipula, bukankah ini sejalan dengan visi Hamemayu Hayuning Bawono? Sehingga semua harus dirangkul, termasuk pencaplok tanah dan perampok ketenangan?

Jadi, monggo sedulur-sedulur moge dateng lagi ke Jogja. Anda orang kota, saya sarankan kalo ke Jogja jangan di kota-nya. Apa ndak bosen ketemu mal dan hotel? Eksplorlah sampai Gunungkidul, Bantul, Kulonprogo.

Tengoklah gua-gua dan pantainya. Karena jalanan di sana lebih sepi, tata krama masyarakatnya lebih nJogjani, dan pastinya… tidak ada Elanto Wijoyono.

Atau mungkin Anda pesan ke pabrik moge. Bikinlah knalpot vibrator. Aktifkan silent mode saat di keramaian. Kan asyik, nonton Anda mbleyer-mbleyer motor, tapi tidak ada suara. Hanya badan Anda yang bergetar.

Akhirul kalam, arogansi di jalanan ternyata tidak hanya milik pemoge. Saya pernah kesal karena sedang muter-muter tak tahu jalan di kampung teman, tiba-tiba jalanan ditutup karena ada acara warga.

Padahal, warga pun paham itu jalan milik bersama. Termasuk saya yang orang asing, yang ga tahu jalan, yang kesel karena harus nyasar-nyasar lagi.

Kalau soal kemacetan, Parade Tauhid dan tabligh akbar pun bisa bikin macet dan kotor jalan. Meski tentu kita tidak bisa samakan macet karena acara hajat orang banyak dengan macet karena acara “kenegaraan” tujuh belasan.

Ingat juga Fun bike, nite run, atau jalan santai. Dari pesepeda sampai pejalan kaki pun merasa menguasai jalan kalau sedang berombongan.

Tidak seperti bebek Pak Tani yang meski keroyokan, bisa dikendalikan hanya dengan tongkat bambu.

Dan ternyata, siang tadi, saya juga hampir ribut dengan pesepeda motor sesama AB hanya karena dia kurang hati-hati nyelip saya.

Dari situ saya tahu. Arogansi tidak peduli dia rombongan atau sendirian. Arogansi, ternyata, juga tidak mengenal plat nomor.

NB:
Moge khas Jogja: Jiwa MOmong-e GEde.

 

Iklan

Satu pemikiran pada “Orang Jogja? Cintai MOGE!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s