Menemukan Jiwa Jawa Sejati

Judul di atas merupakan adaptasi tema “Taman Sari Art Fest 2015”. Tampil pada pertunjukkan itu adalah Wayang Hiphop dan Kiai Kanjeng. Diskusi dipantik dengan uthak-athik Cak Nun seputar asal-usul suku Jawa.

Beliau menduga orang-orang kepulauan Hawai masih ada hubungan perkerabatan dengan orang Jawa. Mengingat, kata Cak Nun, orang Hawai tak bisa mengucapkan “J”. Abjad hanya ada 12 di sana. Apalagi, konstruksi wajah orang Hawai mirip sekali dengan orang Jawa. Hanya fisiknya lebih tinggi besar.

Jawa dilempar lagi kemungkinan asal-usulnya; siapa tahu suku Jawa masih berkerabat dengan orang Israel sana. Apa ibu kota Israel? Tel-Aviv? Ternyata yang lebih tepat adalah Java Tel-Aviv.

Cak Nun juga curiga, jangan-jangan Rasul bukan orang Arab. “Orang Arab kok suka semedi?” Mengingat hobi (calon) Nabi Muhammad SAW dalam ber-tahannuts di gua Hira’. Dari sekian usul tentang asal-usul Jawa, inilah yang paling asal. Biografi Nabi sudah begitu jelas.

Tapi, uthak-athik ini menarik. Membuat kita bertanya dan berimajinasi. Dua hal yang menjadi bibit pengetahuan, tapi sering tidak kita tanamkan. Bertanya muasal jawaban. Imajinasi-fiksi adalah pengembara dengan fakta sebagai peneliti jejaknya.

Dua hal ini pula yang belum disajikan dua dalang yang menjadi narasumber. Pak Seno dan saya lupa fakta nama dalang kedua. Saya juga tidak sempat bertanya. Maka, imajinasikan saja beliau bernama Ki Batik Merah. Sesuai ageman yang dipakainya malam tadi.

Cak Nun sudah memancing dengan pertanyaan-pertanyaan imajinatif. Berupaya melumerkan sekat-sekat. Namun, sayang sekali Duo Dalang tidak menangkap pancingan-pancingan itu. Jawaban-jawaban beliau tidak memberi kebaruan. Mungkin karena terbiasa berkarya sesuai pakem. Mungkin juga memang tugas beliau berdua; memberi JAWAban atas pertanyaan. Memberi batas pada liarnya imajinasi.

Di sisi lain, pertanyaan-pertanyaan Cak Nun pada Duo Dalang juga hanya untuk mengarahkan jawaban dalang. Saat beliau menanyakan panakawan, nakula-sadewa, manunggaling kawula gusti, terlihat sekali bukan untuk bertanya. Pertanyaan yang diawali rasa ingin tahu murni, berbeda dengan pertanyaan terarah untuk membangun diskusi. Tapi tak apa, toh diskusi memang harus diberi kepastian mau di bawa kemana. Tidak cuma hubungan kita. #halah

CN: Mana yang bener, punakawan atau panakawan?

DD: Panakawan Cak. Pana itu tepat dan benar. Kawan itu teman. Jadi Panakawan adalah kawan yang benar. Kawan sejati.

CN: Jadi bukan badut atau pembantu ya? Tapi sahabat. Jadi relasi Pandawa dengan Panakawan bukan satria dengan abdinya, tapi egaliter seperti nabi dan sahabat.

CN: Seperti apa urutan tingkat di pewayangan?

DD: Paling bawah ya wong cilik, atasnya Satria. Atasnya Ratu. Atasnya Brahmana. Atasnya Dewa.

CN: Nah, sekarang ada Semar. Semar itu kan Sang Hyang Ismaya juga. Semar itu abdi, di bawah. Tapi juga dewa, di atas. Ini artinya, “kasta” itu dinamis. Dan berarti, hubugannya itu melingkar. A > B > C > D > A lagi. Bukan vertikal. Jadi bukan berarti saat sudah jadi ratu, bahkan dewa, bisa seenaknya melupakan wong cilik. Inilah bukti tidak ada demokrasi yang lebih baik dari demokrasi jawa.

Dinamika itu pula yang ada di dalam Islam. Nabi Muhammad pernah dideskripsikan,”Dia hanya manusia biasa seperti kamu.” Namun, saat kita mulai merendahkan Nabi, Allah pun mengingatkan.”Jangan begitu, dia NabiKu”. Saat kita mulai menuhankan Nabi, kita pun dijewer lagi.

Di sesi awal Cak Nun juga menyatakan bahwa Jawa itu dikesankan feodal. Padahal, ga gitu-gitu juga. Tata krama bahasa yang bertingkat-tingkat itu, sering dijadikan bukti feodalisme Jawa. Menurut Cak Nun, perbedaan krama inggil, madya, dan ngoko itu bukan soal hirarki sosial yang vertikal. Tapi hanya kategorisasi rasa yang horizontal.

Anda ngomong sama temen rasanya beda dengan ngomong ke Presiden. Perbedaan rasa ini menimbulkan perbedaan kata. Anda pakai basa krama ke orang tua atau pejabat bukan karena dia lebih tinggi derajatnya. Cuman karena rasanya beda aja.

Nah, kalau mau pakai perbedaan rasa ini, saya ingin menambahkan. Bahasa ngoko, konon menimbulkan nuansa akrab. Bahasa krama, menimbulkan rasa menghormati. Ini makanya, meski ngomong dengan ratu pun, Anda bisa ngoko kalau Anda memang kawan akrabnya. Anda ngomong ke temen pun, pakai krama atau bahasa Indonesia bila dia masih terasa asing.

Lalu, apakah tidak bisa pakai krama tapi tetap akrab? Apakah ngoko selalu berfungsi mengakrabkan? Tidak kan. Anda bisa krama tapi guyub, Anda bisa ngoko tapi nesunan. Karena kalau bicara rasa, faktor yang menimbulkan nuansa akrab tidak hanya pilihan kata. Tapi ekspresi.

Jadi, mari coba kita berbahasa krama inggil tapi dengan ekspresi ceria dan haha hihi. Semacam,”Ah, panjengenan niku. Sageeedd… kemawon.” Sambil centil menyentil lawan bicara.

Poin menarik lainnya dari diskusi gayeng antara Dalang Kondang dan Cak Nun adalah:

  • Nakula Sadewa dalam Pandawa berfungsi ngreksa dan ngrenggani. Menjaga dan mengangkat. Meski si Kembar ini paling muda, tapi mereka punya peran yang “tua”. Pandawa tidak akan bertindak atau bertindak tanpa ‘restu’ mereka. Nakula Sadewa pula yang menjaga dan mengangkat Pandawa.
  • Arjuna mewakili watak Nabi Isa as yang lekat dengan nilai-nilai keindahan dan kasih.
  • Bima mewakili Musa as yang selalu jelas antara ya dan tidak. Kebenaran selalu tegak. Ketegasan ini pula yang membuat Bima alias Wrekudara alias Bratasena terpilih memasuki telinga Dewa Ruci. Dan Jawa, Indonesia, memerlukan lebih banyak orang-orang seperti Bima. Yang tegas menegakkan kebenaran. Iya ya iya. Tidak jelas tidak.
  • Manunggaling Kawula Gusti merupakan istilah yang berani. Di dalam kitab Al Quran pun tidak ada pernyataan yang eksplisit menyatakan kebersatuan Gusti dengan KawulaNya. Karena ini pula banyak tafsir tentang statement ini. Salah satu tafsir paling aman ialah; Manunggaling Kawula Gusti berarti Raja dan Rakyat telah menyatu. Cak Nun menambahi, “Gusti itu bisa diartikan Raja atau Tuhan. Nah, Raja, Presiden yang baik itu yang telah mampu menyatukan Tuhan dan Rakyat dalam hatinya. Jadi, dia tidak akan tega menyakiti rakyat. Tidak akan tega melanggar Tuhan.”

Malam tadi juga dibuka sesi pertanyaan juga. Saya ada pertanyaan, tapi belum dapet kesempatan. Karena itu, saya bertanya pada Sabrang “Noe” Damar Panuluh usai forum.

Saya ingin bertanya,

“Ngapain sibuk nyari-nyari definisi Jawa. Jangan-jangan memang seperti inilah definisi Jawa sekarang ini. Kita tidak perlu kembali pada definisi Jawa dengan pakaian, adat, dan segala falsafah hidupnya. Jawa yang telah tercampur inilah definisi Jawa yang kita ugemi.

Selain susah mencari seperti apa itu Jawa yang murni, bisa jadi Anda kecewa. Ternyata Jawa jaman dulu, yang kita anggap murni dan asli, jugalah hasil asimilasi budaya bangsa-bangsa lain. Bisa jadi, kan?

Bila kita terus merunut ke belakang, melakukan langkah purifikasi, saya khawatir ada dikotomi. Ini tradisional, ini modern. Ini salaf, ini khalaf. Ini wayang modern, ini wayang asli. Seperti wayang hip-hop yang tadi dipentaskan. Sekarang kita anggap wayang hip-hop hanyalah bentuk adaptasi.

Disebut langkah nguri-nguri kabudayan juga aneh. Memahami Jawa kok pake kacamata hip-hop? Mempelajari gamelan kok sampai Leiden, Belanda? Karena memang dokumentasinya ada di sana, atau supaya kita lebih mantep karena berbau londo? Tapi berandai-andailah kita kembali ke jaman Jawa yang dulu. Contoh budaya paling monumental adalah wayang.

Kita lihat wayang juga tidak monopoli milik Jawa. Para pujangga menganggit kisah-kisah epos ternyata juga mengambil dari budaya-budaya non-Jawa. Hingga setelah sekian lama, kita bisa menganggap wayang kulit yang ini asli Jawa.

Sebaliknya, sekarang kita melihat Wayang Hip-hop yang aneh. Menampilkan Petruk, Bagong, Gareng, 2 rapper, 1 penyanyi, 1 dalang, 1 pelawak. Bukan tidak mungkin 100 tahun lagi mereka dianggap pakem. Orang-orang kursus untuk menjadi rapper wayang hip-hop.

Kostum Petruk Bagong yang modern (pakai celana dan kacamata), bukan tidak mungkin nanti dianggap seperti itulah pakaian tradisional Jawa. Jadi, cukuplah mencari, mulailah beraksi. Toh, Jawa juga punya prinsip nut jaman kelakone.

Namun, yang keluar dari mulut saya hanyalah paragraf pertama. Ya, karena kondisi ribet waktu itu. Mas Sabrang sudah diseret-seret untuk foto dan wawancara. Mas Sabrang menjawab dengan singkat pula. “Ya, karena kita ga akan tahu jaman sekarang dan nanti kalau ga tahu jaman dulu Jawa itu kaya apa.”

Meski ingin mendebat, Saya memilih menanyakan pertanyaan kedua dan ketiga.

Orang Indonesia umumnya, maupun Jawa khususnya, kini disibukkan berbagai isu. Setiap hari, ada aja yang seru. Mulai dari

“Nah, menurut mas Sabrang, apa cara pandang dan sikap hidup yang tepat berdasar falsafah Jawa?” Tapi, melihat sikon yang kemrungsung, saya mesti bijak dan cerdas. #elusjenggot.

Pertanyaan saya ringkas menjadi pertanyaan yang benar-benar berbeda. ”

Tadi Cak Nun bilang,’Indah sekali kalau Mesir juga nyanyi langgam Jawa.’ Itu akan sangat susah selama kita berpedoman jawa kuwi nut jaman kelakone. Ada baiknya Jawa mulai berlandasan, “Lelakone jaman kuwi manut Jawa.”

Manakala Jawa jadi panutan dunia, Mesir dan Saudi-lah yang akan meng-arab-kan Jawa. Bukan hanya Jawa yang “menjawakan” Islam, Kristen, dan Hindu. Jawa yang akan diadaptasikan seluruh jagad. Bukan kita yang mengadaptasikan semuanya.”

Jawaban Sabrang: “Yo ga usah. Ra sah mekso.” Dan masih ada beberapa kalimat yang tetap membuat saya bersebrangan dengan mas Sabrang sekaligus mengingatkan saya pada ceramah Cak Nun di awal.

“… Hamengku Buwono tegese wong Jawa kudu iso mangku bumi. Nek Hamengku Bawana artine mangku jagad kabeh, kuwi Malaikat Jibril. Dadi nek ana sing Hamengku Bawana, kuwi Malaikat Jibril..”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s