Haruskah Kita Menghormati Pak Menag “Hormati yang TIDAK Puasa”?

Kemaren sempet rame soal ucapan Menag,”Hormati yang TIDAK puasa.” Banyak yang mengecam beliau. Harusnya hormati yang puasa. Mana yang benar? Menurut saya, itu tinggal yang ngucapin siapa.

Kalo orang puasa bilang,”Hormati yang puasa, tutup warung-warung!” tentu akan terkesan gila hormat. Bayangkan saat upacara bendera dulu komandan Anda ngasih aba-aba,”Hormati sayaaa… grak!”

Tangan Anda mungkin hormat. Hati Anda pasti muntah-muntah. Karena ya, orang yang gila hormat itu njijiki.

Tolong bedakan respect dengan ngemis. Orang ngemis tidak dihormati. Anda ngemis untuk dihormati sama seperti kayu meminta api yang akan menjadikannya abu.

Sadarilah bahwa penghormatan tidak bisa diminta. Orang menghormati Anda karena Anda melakukan tindakan-tindakan terhormat. Dan menghormati yang tidak puasa adalah salah satu tindakan itu.

Tapi misal saya umat Kristen. Tentu lebih pas kalo bilang,”Hormati yang puasa!” Sinterklas pun tidak pernah protes kenapa rumah-rumah di Indonesia tidak ada cerobong asapnya. Sinterklas, setahu saya, tidak pernah teriak-teriak,”Hormati Sinterklas, buka atap rumahmu!”

Namun, yang bikin aneh di Indonesia karena seringnya yang ribut adalah orang Islam sendiri. Kawan-kawan saya yang Kristen dan Katolik bahkan Hindu rata-rata sudah sadar sendiri. Mereka malah adem ayem. Memberi penghormatan pada saya yang (insya Allah) puasa.

“Eh, lagi puasa ya? Sori bro.”, kata kawan saya lalu menyembunyikan es cendolnya.

Saya pun balas menenangkannya,”Ndak pa-pa bro. Aku ga tergoda kok. Lagi ga haus. hehe.”

Bukan saya sok kuat iman. Cuman kebetulan perut bukanlah titik lemah iman saya. Setan akan lebih mudah menyerang saya lewat mata.

Saya bisa tahan meski perut keroncongan, tapi susah menahan mata untuk tidak jelalatan. Perlu kuota iman unlimited untuk menjaga pandangan di era kita harus bayar untuk menikmati paha KFC sedang paha manusia, dipapakke begitu saja.

Pornografi bahkan proaktif mendatangi genggaman kita. Dulu perlu googling, sekarang di facebook dan instagram banyak mbak-mbak semok proaktif mengunggah foto-foto asoynya. Baik itu akun real atau klonengan.

Hormati yang pamer paha dan ga puasa?

Ringkasnya bagi saya, paha ayam tetep kalah kremes dibanding paha dedek-dedek gemes. Karena itulah, waktu diajak kawan saya yang kristen itu untuk jalan-jalan sore alias ngabuburit, saya menolak.

Saya lebih kuat menemani dia makan sambil tiduran di kosan. Karena saat ngabuburit, ada aja yang gemes tapi ujungnya bikin lemes. Ada aja yang bening di mata tapi bikin burem hati. Dan kalau sudah burem ni hati kita, meski pandangan sudah ditahan, otak akan tetap membayangkan.

Susah kan?

Dan jangan dikira tulisan saya ngalor ngidul kok sampe bahas nafsu perut vs nafsu mata. Selain memang slogan blog ini, “NNKK” alias Ngalor-ngidul Ketemu Kiblat, juga sejalan dengan tuturan Iqbal Aji Daryono.

Nafsu debat lebih bahaya dari nafsu perut dan syahwat

Dan kita sudah menyusurinya, nafsu ingin dihormati, nafsu perut, dan syahwat. Nah, untuk mengendalikan nafsu debat, mari kita menuju simpulan:

Perkataan “Hormati yang puasa” vs “Hormati yang tidak puasa” itu tergantung posisi Anda.

Dialog saya dan kawan saya tadi akan jadi kacau bila kaya gini:
“Eh, aku lagi puasa tahu. Sana jangan minum di depanku!”
“Ye… lu orang puasa juga mesti hormati gue yang ga puasa dong!”

Ringkasnya, yang puasa hormati yang ga puasa. Ndak usah merasa lebih mulia. Ndak usah gila hormat dan manja.

Yang ga puasa juga tak perlu menggoda. Karena akan datang gilirannya Anda ingin dihormati.

Sama seperti yang terjadi di keluarga-keluarga Islam. Misal ibu Anda puasa sedang Anda tidak, ya ga ribut kaya gini kan? Ibu ndak minta dihormati. Ibu justru menghormati Anda yang tidak puasa. Dia mungkin tetap memasak untuk Anda.

Anda juga sadar diri. Makannya sembunyi. Anda juga ndak protes,”hormati yang ga puasa dong!”

Tepat tidaknya ucapan itu tergantung posisi Anda. Yang jelas, bakal lebih konstruktif bila kita saling menghormati. Bukan saling minta dihormati.

Saat kita tidak kehabisan energi untuk urusan remeh temeh macam ini, kita bisa fokus pada urusan ramah tamah.

Kenapa saya bilang ini urusan remeh temeh? Lihat di sekeliling dan contoh di atas. Temen-temen nasrani tetap menghormati. Bahkan di keluarga sendiri, kita saling sadar diri.

Dari auranya, tampak keluarga Dion Cecep Supriadi ini menerapkan toleransi yang manis. Hm..Sudah kuduga.

Meledaknya isu itu jangan sampai kita melalaikan kita. Jangan sampai semua orang sudah menghormati kita, tapi kita sendiri tidak menghormati puasa.

Warung sudah tutup, tapi kita tetap membatalkan puasa dengan makan bangkai alias menggunjing.

Lokalisasi sudah libur, tapi kita tetap mencari pelacur-pelacur intelektual yang hanya menjajakan kepuasan wacana.

Ndak papa kalau kemarin-kemarin Anda asyik memperdebatkan hal ini. Ini membuktikan puasa ndak bikin Anda lemas. Anda tetap punya energi lebih untuk memperkeruh silaturahmi.

Iklan

10 pemikiran pada “Haruskah Kita Menghormati Pak Menag “Hormati yang TIDAK Puasa”?

  1. mantap bro ini tulisannya.. intinya jangan saling merasa mulia di antara yang lain sampe minta dihormati, toleransi yang terpenting..

    saya nasrani di kampus, malah kadang dicariin temen yang lagi tidak berpuasa, diajakin nemenin makan siang.. hehe :mrgreen:

  2. Ahahaha keren juga pembahasannya nih…
    Saya pernah dimarahi temen di kampus gara2 ga makan waktu ospek karena bulan puasa, dan badan saya lemes mau pingsan
    Akhirnya mereka maksa saya makan di depan mereka karena khawatir….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s