Christian Sardi dan Lukman Sugiono

Ramadhan kali ini seru. Lukman Sardi, yang namanya cukup islami dan menjadi pemeran KH Ahmad Dahlan di film Sang Pencerah, berpindah Kristen. Sebaliknya, Christian Sugiono justru menjadi mualaf. Dan rasa-rasanya, tak perlu kita paksa dia untuk mengubah nama menjadi Muslimin Sugiono.

Berita tentang murtad dan mualafnya selebritis memang selalu menghebohkan kita. Ya,wongIslam memang gumunan. Dan sebelum Anda muring-muring, saya ingin bertanya satu hal:

Apa yang Anda rasakan saat melakukan hal yang Anda cintai?

Anda lupa waktu, semangat tak habis-habis, meski ada halangan Anda tidak mudah nglokro. Anda rela melakukan apapun untuk melakukannya. Tak terbayang satu hari pun tanpa hal yang Anda cintai itu.

Anda yang gandrung musik akan sakaw bila sehari tidak mendengar lagu-lagu kesayangan. Anda yang gila perhatian akan tiap pagi ke Indomaret demi diucapi “selamat pagi” lalu ditawari pulsa kemudian diharapkan,”berbelanja kembali”.

Inikah bidadari yang akan menyapa kita di surga?

Anda yang tergila-gila Harry Potter bisa membaca novel setebal itu sekali baca. Dan mengulang-ulangnya di kemudian hari. Tapi, bagaimana Anda bisa mencintai sesuatu?

Seperti Roma, ada banyak jalan menuju cinta. Dan salah satu jalannya adalah MANFAAT.

Anda mencintainya karena merasakan manfaat darinya. Rupanya yang wajahwan membuat Anda merasakan manfaat berupa rasa bahagia dengan sedikit degup di dada.

Pembawaannya yang cekatan bermanfaat bagi Anda yang lamban. Status sosialnya yang tinggi bermanfaat untuk menaikkan pride. Dirinya yang susah didapat juga bermanfaat. Membuat Anda jauh lebih bangga kala berhasil menaklukkannya.

Inilah kunci keberhasilan para pedagang, politisi, termasuk juru dakwah; menjual manfaat.

Demi membuat Anda rajin ibadah, mereka getol mengisahkan keajaiban penuh manfaat dari sedekah, tahajud, dan ngaji. Hingga sampai pada pertanyaan; “Bila dhuha tak membuat Anda kaya, tahajud tak membuat doa Anda mustajab, ngaji tak membuat Anda pinter, masihkah Anda melakukannya?

Musisi sejati akan tetap bernyanyi meski lagunya tak membuat ia masuk tivi. Guru mumpuni akan tetap mengajar walau tidak ada yang membayar. Pemilik gelar master dalam dunia sholat khusyu akan tetap dhuha meski dia sudah kaya raya, dan menyatu dengan Tuhannya.

Karena memang, bila Anda sudah mencintai, Anda tak lagi peduli. Anda abai pada manfaat, Anda hanya merasakan nikmat.

Bagi yang telah merasakan khusyu, dia akan tetap senang sholat. Dia tidak minta apa-apa, hanya karena dia sudah merasakan nikmatnya, dia tetap saja melakukan.

Ada juga yang sedekah hanya karena senang. Tak peduli nanti rejekinya akan diganti atau tidak.

Ada yang menulis dan terus menulis karena cinta. Tak peduli ada yang baca atau tidak.

Itulah energi cinta.

Cinta membuat kita tidak peduli pada yang tak sejati. Cinta membuat kita cuek pada hadiah-hadiah, iming-iming, dan riuh-rendah pembenci.

Cinta memampukan Anda abai pada urusan-urusan tetek bengek. Mengurusi tetek yang sudah bengek hanya akan membuat Anda loyo.

Padahal, cinta mestinya membuat keyakinan Anda ereksi tanpa henti. Anda takkan bergetar keyakinannya melihat Lukman Sardi dan Asmirandah memilih jalan yang berbeda.

Anda juga tak lantas sombong Christian Sugiono, Neil Armstrong, dan Will Smith mlebuIslam (tenang, dua terakhir hanya hoax). Wong Anda sudah cinta, mantep, dan fokus.

Cuman yang jadi pertanyaan; Kalau Allah mencabut rasa nikmat di solat-solat Anda, masihkah Anda sholat? Kalau Allah membuat Anda tak lagi naksir istri, apa Anda minta ganti?

Apapun pilihan Anda, pilihlah dengan komitmen. Bukan ikut-ikutan. Apalagi soal agama. Saya tidak bisa membayangkan bila Lukman Sardi dan Christian Sugiono bertemu lalu kerengan.

“Man, antum gimana sih, ana abis nonton Sang Pencerah jadi pengen pindah Islam. Ane pengen ikut antum. Di Indonesia artis jadi muallaf konon bikin makin moncer. Lah antum malah jadi Kristen.”

“Ya sama bro. Gue pengen ganteng. Udah sholat jumat dan wudlu tetep ga mempan. Akhirnya gue nonton iklan sang pencerah wajah elu. Gue pikir kalo jadi Kristen gue bakal jadi ganteng, kaya, dan leluasa makan Indomie.”

***

Intinya, Anda tidak akan lebay soal murtad-mualafnya selebriti. Anda lebih peduli pada murtad-mualaf Anda sendiri.

Ya, detik ini Anda mungkin “murtad”, “Keluar” dari Islam karena hobi membully jomblo padahal banyak juga ulama yang menganut paham piyambakan sampai wafat.(Apa hubungannya sama murtad?)

Tapi detik berikutnya Anda sudah “mualaf”, alias “di dalam” koridor Islam lagi menyediakan wi-fi dan wife untuk mereka yang sedang iktikaf. (Oh, ini hubungannya sama murtad…. Eh, berhubungan ga sih?)

Apapun itu, pilihlah satu kondisi dalam satu waktu. Jangan jadi murtad tapi mualaf. Jangan “keluar” tapi “di dalam”.

 

Oya, dapet salam dari mbak-mbak Indomaret:
Terima kasih.. Silakan mampir NNKK kembali

Iklan

4 pemikiran pada “Christian Sardi dan Lukman Sugiono

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s