3 Cara Ubah Harapan Jadi Kasunyatan (No 1: Parkinson’s Law)

Jangan pernah merendahkan kekuatan ekspektasi. Ekspektasilah yang membuatmu membaca blog post ini. Kamu berharap mampu mengubah harapanmu menjadi nyata.

Dengan kekuatan 7 cara ini, jangan kaget bila harapanmu jadi nyata. Bahkan, sebelum kau menyadarinya.

Cara ini begitu sederhana; kamu mewujudkan harapan dengan kekuatan harapan itu sendiri. Bingung? Read on!

1. Parkinson’s Law for personal productiviy

Mau tahu gimana caranya nyelesain kerjaan dan wujudkan kenyataan dua atau bahkan tiga kali lebih cepat? Pahami pernyataan Coyote Parkinson di bawah ini.

Work expands to fill the time available for its completion.

Kerjaan akan meningkat untuk mengisi waktu tenggat.

Sebenernya kerjaanmu cuma butuh 30 menit. Tapi ternyata molor jadi satu jam. Ga produktif. Padahal, impianmu bakal lebih cepat jadi nyata kalau kamu cepat, tapi tetap berkualitas.

Kenapa kita butuh 1 jam untuk nyelesain kerjaan? Karena memang kitanya sendiri yang nyediain mangkok waktu sebesar itu.

Coba deh susun daftar kerjaan atau harapanmu. Beri waktu yang cukup untuk mengerjakannya. Lalu, potong setengahnya.

Perlakukan deadline yang sempit itu dengan sesakral mungkin. Cek jam. Pahami waktumu makin sempit. Munculkan spirit balapan.

Kamu akan terkejut, ternyata kamu bisa melakukan lebih, dalam waktu yang kurang.

Seperti blogpost ini. Sebelumnya saya tak pernah pakai deadline untuk blogpost pribadi. Saya set waktu,”err.. kayaknya harus 1 jam deh.”

Lalu, saya potong setengahnya. Saya yakin blogpost ini akan selesai dalam 30 menit tanpa mengurangi poin-poin penting yang akan saya sampaikan. (ternyata berhasil. Lebih cepat 6 menit!)

 

Pengalaman lain, sebulan kemarin. Saya dan beberapa kawan pengkarya saling menantang. Bikin sekian karya dalam waktu 25 hari. Walhasil, sampai hari ke 23 saya ndak bikin apa-apa. “Ah, masih ada besok.”

Penghambat lainnya adalah perfeksionis yang salah tempat. Saya ga mau bikin video kalo ga x,y,z. Akhirnya malah ga bikin sampai waktu hampir habis.

Ini pas banget dengan quote Parkinson.

Kalau kamu nunggu sampai menit terakhir, kerjaanmu (meski deadline nya sebulan) cuma perlu semenit untuk selesai.

Apalagi, bila kamu memakai cara cerdas. Menyelesaikan kerjaan dengan pinjam tangan. Hukum Parkinson ini bisa diterapkan ke orang lain yang ingin kamu delegasikan kerjaan.

2. Parkinson’s Law + Comparison

Kalau kerjaan A butuh 3 bulan, bilang aja,”3 minggu ya.”

Ya ya ya. Ini kesannya kita jadi kaya atasan yang nyebelin. Saya pernah ngalami jadi kuli coding yang nerima deadline dari klien. Di sisi lain, saya juga pernah jadi mandor yang ngasih deadline. Ternyata, ini win-win solution.

Syaratnya, si mandor ndak sembarangan motong kuota waktu. Setelah motong pun, dia harus mbantu biar si kuli mampu kerja lebih cepat. Bukan cuek bebek hidung pesek.

Kalau si kuli tetep ga bisa, bilang,”Kalau kerjaanmu bagus, boleh deh nambah 1-2 minggu.”

Maka, akan terlihat lebih menenangkan si kuli. Tadinya cuma punya 3 minggu jadi punya 5 minggu.

Hati-hatilah pakai teknik ini. Biasanya kalau tahu ada tambahan waktu, semangat kuli jadi nglokro. Jadi saya biasanya ndak bilang dulu. Lihat dulu gimana dia kerja. Baru kalo sikonnya pas, saya bilang.

Dalam sikon kaya gini, ada cara lain biar lebih 4 kali lebih cepat. But, next time aja. Kali ini kita fokus ningkatin produktifitas dan wujudkan harapan dengan “Law of Expectation” only deh.

*sebutan kuli-mandor ini ga bermaksud rendahkan ‘kuli’ lho. Saya pernah alami keduanya. Ndak ada yang lebih mulia. Yang bikin mulia hanyalah taqwa kita. Haseeek.

3. Spesifik

“Aku tahu kamu programmer TOP yang bisa coding cepet.”

vs

“Aku tahu kamu programmer JOS yang bisa bikin 3 modul ini  dalam 8 jam sampe jam 5.”

4. Jadilah Harapan Itu

Manusia itu jagonya ngewujudin ekspektasi orang. Entah dorongan social pressure, dorongan biar survive, atau sekedar ingin dapat social status.

Contoh simpelnya gini.

Kalo lagi di sekolah, kumpul temen segeng, kita diharapkan berlaku asyik. Kamu yang pendiem bakal keluar sisi-sisi humorisnya. Minimal ketawa kalo ada yang bercanda.

Begitu disuruh kumpul acara keluarga, well… Awkward kan? Dan kita yang biasanya slengean pun biasanya jadi lebih formal.

Lebih luas lagi kamu bisa amati. Di lingkungan A, kamu dicap anak yang suka ingat mantan. Di lingkungan B, kamu dicap anak yang suka ingat Allah. Di lingkungan C, kamu dicap anak yang suka lupa ingatan. Pasti perilakumu beda.

Pengen eksperimen lagi?

Cap temenmu jadi anak yang A. Sedikit banyak dia bakal berlaku A.

Penerapannya gini:

Kamu berharap jadi pria menarik. Kaya apa sih pria menarik berpenampilan, bergerak, berbicara? Nah, be that person.

Kamu berharap jadi pengkarya yang produktif? Ya udah bayangin kira-kira penulis favoritmu yang mega produktif itu gimana kesehariannya? Apa dia nunda-nunda demi kesempurnaan yang berujung ga ngerjain sama sekali?

Pasti dah paham deh. Kadang kesempurnaan hanya alasan pemalas untuk menunda.

Kamu berpenampilan, berjalan seperti pemalas? Orang-orang di sekitarmu akan menganggapmu pemalas tak mutu.

Ya, poin ini mirip-mirip fake it till you make it.

 

Oya, manfaat lain dari potong deadline ala Parkinson tadi, kita jadi beneran produktif lho. Asal bener-bener pengen selesai dalam waktu yang lebih singkat. Asyiknya, kerjaan kita sering jadi lebih berkualitas. Kok bisa?

Balik ke premis tadi. Sebenernya kita sering buang-buang waktu. Atau sibuk tapi ga produktif. Nah, kalau ada tekanan waktu yang kita hormati, kita bakal lari lebih cepet dan ngebuang hal-hal yang ga perlu.

Dengan dorongan ingin produktif, ingin me-nyata-kan harapan, menyadari waktu kita sempit, kita hanya akan fokus pada yang penting dan ngaruh. (Hukum Paretto, next time aja)

Saya yang hobi bikin video ga kelamaan mikir konsep. Ga termakan virus perfeksionis yang salah tempat. Dengan deadline yang seolah ga masuk akal, saya jadi cari cara biar editing dan rendering kelamaan, dll dll.

Saya yang suka nulis jadi ga kelamaan cari inspirasi, cek email, facebook, atau membubuhkan kata-kata yang tak perlu.

Iklan

Satu pemikiran pada “3 Cara Ubah Harapan Jadi Kasunyatan (No 1: Parkinson’s Law)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s