Pemuda Melawan Kakek-kakek. Kakeknya yang Menang. Kok Bisa?

Saya sedang mengobrol dengan kawan saya. Dia berkeluh kesah. padahal, menurut saya, dialah pemuda harapan bangsa; kuat badannya, cerdas pikirannya, sudah wisuda. Kurang apa?

“Aku belum dapet-dapet kerjaan nih bro. Ada lowongan ga?”

Enggak.

Lalu dia mencurahkan segala masalahnya. Alasan-alasan mengapa dia belum dapat kerja. Mulai dari persaingan yang tidak fair, banyak perusahaan yang maunya udah berpengalaman, diundang interview tapi gajinya kecil, jauh dari orang tua, tidak sesuai passion, dan lainnya.Tapi yang saya tangkap, bukan itu masalah sebenarnya.

“Masa iya aku jadi office boy? Malu sama ijazah!”

Saya hanya mengangguk. Tidak semua anggukan adalah tanda persetujuan.

Lalu, dari kejauhan saya melihat ada pedagang wedang ronde yang bakal lewat. Gerobaknya berjalan begitu pelan. Kapan sampainya? Pikir saya.

Saya terpaksa mendengar keluhan-keluhannya lagi. Hingga akhirnya, ada suara mangkok dipukul. Ting ting ting!

Demi menghentikan keluhannya dan memulai kebahagiaan saya sendiri, saya bilang,”Eh, wedang ronde yuk.”

“Aku ga begitu suka.”

Akhirnya saya mengucapkan kalimat penawaran yang tak bisa ditolak,”Aku traktir deh.”

“Dua mangkok deh kalo gitu!”

Dari teras kos, saya berjalan mendekati pedagang ronde. Kini saya tahu kenapa gerobaknya berjalan begitu lambat. Kaki-kaki pendorongnya tak lagi kuat. Kayu-kayu ringkih itu didorong kakek-kakek pendek yang jam 10 malam terus berjuang dengan sisa-sisa tenaga.

“Yang satu ga pake kolang-kaling ya Pak.” Kolang-kaling bukan favorit saya.

Setelah menunggu, saya heran, Kok punya saya tetep ada kolang-kalingnya sih? Mungkin kakeknya ga denger.

“Pinten Pak?”

si kakek diam. Ternyata memang pendengarannya minimalis.

Saat saya menyerahkan uang 20 ribu, si Kakek yang mulai bungkuk itu makin membongkokkan badannya. Demi melihat nominal uang dengan lebih jelas.

Dalam hati saya salut. Sudah tua masih semangat kerja. Menjaga kemandirian. Pantang dikasihani. Jadi ingat waktu di Singapura. Di sana, para jompo ‘memaksa’ diri terus bekerja meski sudah mapan. Kerja apa saja. Cleaning service, jual tisu (waktu itu dia pakai kursi roda dan susah bicara. Kaya kena stroke) dan wajah jompo penjaga harga diri itu tetap ceria.

Mengingat hal-hal seperti itu, membuat saya makin semangat kerja. Masa sih yang muda malah males?

Saat si Kakek berjalan pergi, kawan saya komentar. “kasihan ya. udah tua masih kerja. Anaknya ke mana?”

Saya hanya menatapnya.

Iklan

Satu pemikiran pada “Pemuda Melawan Kakek-kakek. Kakeknya yang Menang. Kok Bisa?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s