Bila Vampir Mencuri Pahala

Meskipun saya ini Vampir, saya tahu. Menjamu orang yang berpuasa akan membuat kita mendapat pahala yang sama dengan orang tadi. Oleh karena itu, saya senang membelikan teman-teman saya yang manusia (kebetulan Islam) makanan untuk berbuka.

Menurut Vampir seperti saya, ini adalah peluang pahala yang luar biasa. Menraktir orang puasa = mendapat pahalanya. Dengan mudah kita bisa meng-copy paste pahalanya. Saya sendiri jarang puasa. Tak puasa pun saya susah dapet darah segar, apalagi puasa? Bisa-bisa saya jadi Vampir anemia.

Dalam usaha salin tempel pahala ini, saya memakai prinsip investasi: “Jangan taruh semua telurmu dalam satu keranjang.” Karenanya, investasi saya menyebar. Meminjam istilah Muhammadiyah, saya invest di amal usaha yang nampak profitable maupun bisnis recehan. Pada orang yang berpuasa wajib maupun sunnah. Pada yang nampak soleh ataupun begajulan.

Ya, saya akan tetap menraktirnya meskipun dari tampangnya kelihatan bahwa pahala puasanya sedikit. Saya juga tidak lebih bersemangat bila yang saya traktir itu anak soleh. Yang berjenggot belum tentu pahalanya lebih banyak.

Dari pengalaman membangun (dan membangkrutkan) beberapa bisnis pribadi saya paham. Perusahaan yang tadinya nampak menjanjikan bisa jadi mengecewakan. Entah karena konflik internal, intrik-intrik lawannya, atau dia sudah jumawa sebagai pemimpin pasar.

Siapa yang menyangka Ericsson sang pionir handphone bakal kukut gasik? Siapa kira Nokia produsen handphone sejuta umat tergerus Blackberry yang dulunya elitis? Siapa menduga BB yang konsumennya kaum eksekutif itu kalah dengan Android, SO gratis yang tadinya dicibir orang?

Dengan kata lain, sesoleh-solehnya orang, bila tidak dirahmati Tuhan, bisa jadi bejat juga. Baik bejat moral, maupun bejat tauhid. Ya, dari hasil curi dengar infotainment malaikat, ternyata banyak orang yang menyembunyikan kebejatan tauhidnya di balik ibadah-ibadahnya. Saat dia merasa layak masuk surga karena amalnya, bukan rahmat Gusti Allah, di situlah keikhlasannya membusuk.

Soal ikhlas ini memang susah-susah gampang. Bahkan, dalam surat Al-Ikhlas sendiri pun tidak ada kata-kata “ikhlas”. Termasuk soal menjamu orang berpuasa tadi. Saya bisa saja senyum penuh kharisma saat membelikan mereka minuman pembatal puasa. Tapi bila kamu melihat sisi gelap saya, senyum saya tidak secemerlang itu.

Senyum saya senyum setan. (Ya iyalah saya Vampir). Saya dengan ringan membatin,”Haha. Minumlah! Pahalamu buat aku juga sekarang!” Saat menyerahkan makanan, saya bahagia. Seolah bisa merebut pahalanya hanya modal beberapa rupiah. Bayangkan hadirin. Lelahnya dia puasa seharian bisa saya samai hanya dengan beberapa menit menraktirnya!

Waduh, jahat banget kamu Vampir! Kamu berarti mencuri pahalanya kan!?

Silakan dianggap begitu. Tapi saya masih tenang-tenang saja. Tindakan saya ini belum jelas hukumannya. Mencuri ayam sudah jelas hukumannya; digebuk massa. Hukuman mencuri uang rakyat juga jelas; jelas-jelas ndak bikin kapok. Lha kalau mencuri pahala?

Lagian saya kan ndak mencuri. Pahala dia masih utuh kok. Saya cuman menyalinnya.

Termasuk maghrib ini. Dedi puasa. Dia anggota tim saya yang paling soleh. Ditandai dengan jenggotnya yang panjang dan celana panjangnya yang pendek. Saya baru sampai ke kantor untuk mengecek kerjaan. Begitu saya ingat dia puasa, saya langsung balik kanan. Urung masuk kantor. Saya keluar membeli minuman segar untuk dia berbuka. Saya ingin menyalin pahalanya.

Tapi untunglah, urusan salin tempel pahala puasa ini tidak seasyik yang saya bayangkan. Kenapa?

Bisa saja pahalanya sama. Namun, kita mesti ingat bahwa tujuan ibadah bukan hanya pahala. Dia juga mendidik karakter. Pendidikan watak inilah yang tidak saya dapatkan. Si Dedi makin lihai mengendalikan diri. Sementara saya, justru menyuburkan watak oportunis. Ming pengen penake thok.

Watak oportunis ini berbahaya pula bila diterapkan dalam aktivitas seks. Mulai dari ogah foreplay hingga prinsip “Pengen enake, emoh anake.” Ngeri to? Maka, benih-benih oportunis ini mesti kita aborsi sejak dini. Berbuatlah kebaikan meskipun itu ndak ada untungnya.

Akhirul kalam, perlu 500 tahun hidup agar saya paham. Bahwa pahala bisa jadi diadakan bukan untuk memotivasi. Tapi untuk mengikis jiwa-jiwa oportunis yang bikin amal kita bau amis.

Iklan

4 pemikiran pada “Bila Vampir Mencuri Pahala

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s