Sholat Pernah Menyenangkan. Dulu Waktu Masih Anak-anak.

Waktu kecil, saya suka sholat di dekat jendela. Karena di situ, saya bisa mengintip ke arah jembatan. Saya jadi tak khawatir ditinggal pergi teman-teman bermain saya yang berlarian di jembatan.

Mereka sudah saya ajak solat, tapi tidak mau. Huda, kawan saya, menjawab,”Ah, solat bikin ga bisa lari-lari!”. Seharusnya saya menjawab,”Ah, pikiranmu masih bisa lari-lari kok!”

Waktu itu kami belum memahami bagaimana bisa solat lebih nikmat daripada tidur apalagi dolanan. Sampai sekarang pun konsep itu masih seperti pikiran kami saat solat: mengawang-awang.

Waktu itu kami juga belum berpikir. Bahwa nanti akan tiba masa-masa jembatan bukanlah tempat bermain. Jembatan tidak lagi selebar lima langkah Fery, teman terbesar kami.

“Besok kita bakal lewat jembatan yang lebih tipis dari rambut dibelah tujuh!”, kata guru ngaji saya.

“Wah, ga bisa main Tom and Jerry dong mbah di jembatannya?”, tanya saya polos. Sambil membetulkan kancing baju koko yang lepas melulu.

Kuwi dudu panggon nggo dolanan!

Guru ngaji saya menjawab keras. Saya kaget sampai kancing saya kembali lepas.

Itu membuat saya gelisah. Kok tega-teganya Allah bikin jembatan yang mengerikan seperti itu. Bayangkan. Jembatannya tipis (bukan lagi sempit), di bawahnya langsung api neraka. Beda sekali dengan jembatan yang dibangun warga kampung. Lebar dan ada sungai jernih yang mengalir di bawahnya.

“Tapi, kalau kamu pengen bisa enak ngelewatin jembatan itu, ada caranya.”, guru saya melanjutkan dengan nada yang jauh lebih lembut.

“Kalau kamu rajin sholat, ngaji, kamu bisa lari nglewatin jembatan itu. Mau lompat-lompat dulu juga boleh.”

Sholat ya? Hmm…

Sejak kecil saya malas sholat. Tapi karena ingin bisa melewatin shirotol mustaqim sambil ketawa-ketiwi, ya saya lakukan saja. Sesuai pesan guru.

Lagian sholat juga ndak susah-susah amat ternyata. Kalau saya di dekat jendela, saya masih bisa melihat teman-teman saya bermain dengan riang. Waktu itu saya senang. Saat menghadap Allah, saya masih bisa mengamati kawan-kawan saya. Betapa menenangkan.

Sampai suatu hari mbak saya melihat tingkah saya. Sepulang dari masjid, dia langsung menegur,”Kalau sholat tu ndak boleh nolah-noleh!”

Saya diam saja. Keluguan anak kecil belum memungkinkan untuk membalas,”Kok mbak tahu saya tolah-toleh? Mbak juga nggak khusyu!”. Tapi intinya, sejak saat itu, solat semakin menyiksa.

Huft… Adakah kerjaan orang dewasa selain merenggut kebahagiaan anak kecil?

Iklan

5 pemikiran pada “Sholat Pernah Menyenangkan. Dulu Waktu Masih Anak-anak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s