Menjadi Keren Secara Otomatis

Sepulang dari Jakarta kemarin, teh di sini terasa maniiis banget. Waktu di Jakarta memang minumnya teh tawar. Tapi ndak sering-sering amat. Cuma beberapa kali. Seringnya ya teh manis. Sekarang saya lebih suka minum teh tawar biar ga kemanisan. Kecuali teh pucuk harum. Manisnya pas.

Cuman yang jadi pelajaran adalah, betapa lidah aja cepet banget adaptasi. Lidah juga tahu bahwa saya mesti ngurangi yang manis-manis biar sehat.

Sebenernya kalo dibiasain lagi, lidah saya bisa kembali normal. Tapi saya enggan. Saya ingin mengontrol kebiasaan lidah ini agar tetap sehat. Kebiasaan tu powerful banget. Makanya, kalo kita ndak jadi pengendalinya, kitalah yang dikendaliin.

Kebiasaan juga kayak bisnis. Awalnya kita yang kerja untuk uang, tapi kalo dah tersistem, uangnya yang bekerja untuk kita. (berasa MLM banget). Atau mungkin seperti naik sepeda. Awalnya kita susah payah membiasakan koordinasi kaki, mata, tangan, dan indra keseimbangan. Setelah terbiasa? Merem dan lepas tangan pun bisa!

Kebiasaan (baik) awalnya memang susah dibentuk. Tapi kalo dah terbentuk, kitalah yang jadi makin keren secara otomatis. Ini bisa kita lihat pada atlet, seniman, dan pekerja profesional lainnya. Agus Noor, Raditya Dika, penyiar senior yang saya kenal, semua punya ritual masing-masing.

Awalnya, mereka yang membentuk ritual itu untuk mencapai derajat keunggulan tertinggi. Setelah itu, ritual yang mengantarkan mereka terus menyempurnakan diri dalam berkarya.

*sedang membikin ritual berkarya
*nyiapin sajen

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s