Uban

Dia sebenarnya masih muda

E-KTP belum punya

Tapi uban sudah menutupi pandangannya.

 

Uban itu  berakar di mulutnya yang,

tak pernah terbuka kecuali mutiara.

Sekali waktu dia tersenyum,

membuatnya seperti seorang pemuda

Yang membuat klepek-klepek selusin pemudi.

 

Tiap malam, jemarinya menuliskan takdir

Yang membuat para gadis berdesir

Tapi dia tak pernah ambil pikir.

Dia terus berjalan, sampai dari akarnya, uban terusir.

 

Ubannya rontok satu per tiga, satu per satu, tiga per satu.

Makin muda dari waktu ke waktu.

Oya, pori-pori yang ditinggalkan itu kini ditumbuhi rambut warna-warni

Seperti anak muda dari bangsa ayam alay, alaykumcalam.

 

Dia awalnya punya teman-teman lama yang kini melupakannya

Dia akhirnya punya teman-teman baru yang nanti menolaknya

 

Tahukah kamu, apa yang membuatnya begitu?

Dia bisa menerima perbedaan orang lain

Tapi menolak bahwa dirinya berbeda

 

Lalu kakek muda itu mati sebagai bocah tua yang nakal

Sebelum mati, ia sempat tengok kanan kiri

Ternyata ia tak berbeda, ada sejuta pemuda salah rambut sepertinya

Mungkin kamu salah satunya

 

Dia tersenyum dalam sekaratnya

Yang membuat malaikat waspada

Saat mencabut uban terakhir di giginya

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s