Membobol Penjara Rutinitas

“Duh, kesiangan!” Saya melompat dari kasur, berlari menuju kamar mandi. Dengan nyawa yang belum utuh, saya membuka baju lalu sadar, yang saya masuki adalah kamar kakak saya!

Ok, skip.

Meski sudah jam 10, air terasa sangat dingin. Saat pertama kali mengguyurkan air ke kepala, otak saya beku. Waktu berhenti. Tiba-tiba saya menjelajahi ruang-ruang memori kegiatan saya akhir-akhir ini. Terlihat otak saya kembali mencair dari cermin yang ada di balik pintu kamar mandi. Sekembalinya dari perjalanan sepersekian detik itu, saya menyadari satu hal. Di cermin itu ada tulisan yang jelas,”RUTINITAS”.

Rutinitas adalah prosedur yang teratur, tidak berubah-ubah. Repetisi adalah pengulangan. Ritual adalah repetisi (baca: pengulangan) rutinitas.

Mandi adalah rutinitas kita sebelum keluar rumah. Entah untuk sekolah, kerja, atau main. Yang rutin juga kita tinggalkan di hari libur. Mungkin sekedar ditunda, sampai badan kita risih, atau orang tua kita yang risih.

Rutinitas bisa mengubah kegiatan makan menjadi sekedar mengisi perut. Makan yang seperti ini hanya membawa kita sederajat dengan apa yang keluar dari perut.  Bahkan, bekerja adalah rutinitas. Bangun di jam yang sama, berangkat melalui rute yang sama, makan siang dengan menu yang mirip, lalu mengeluhkan hal yang sama di sore hari.

Dalam skala lebih besar, bisa kita jumpai. Orang-orang yang jiwanya teralienasi dari akar kehidupan. Kita terasing dari lingkungan, terasing dari diri sendiri seperti yang dikatakan Karl Marx. Rutinitas membunuh sisi humanis kita. Mengubah kita menjadi robot pekerja yang mekanis. (Padahal, robot kini mulai humanis).

Rutinitas bukan hal yang buruk. Darinya lahir penyiar-penyiar tangguh yang rutin melatih vokal, adlibing, ekspresi, dan air personality. Stand up comedian juga memiliki routine tersendiri yang memperbesar peluang tawa. Para pendekar menyerap ketangguhan mereka juga dengan rutinitas olah jurus setiap hari. Blogger yang mengubah dunia juga muncul karena rutin update blog.

Mereka dengan teratur mengulang-ulang latihan tertentu yang membuahkan kualitas. Mereka menjadi juara karena memiliki kekuatan pengulangan. Repetisi. Seperti yang sering dikatakan, “Repetition is a mother of skills.

Lalu, apa yang membedakan, antara saya yang merasa terpenjara dengan rutinitas, dengan mereka?

SPIRIT.

Tanpa ada “roh”, setiap ritual (repetisi rutinitas) yang mestinya membawa kita pada puncak keunggulan, hanya akan berubah menjadi serangkaian aksi banal; tradisi yang kehilangan esensi.

Kita perlu sesekali melabrak rutinitas, menghapus repetisi, dan dengan sendirinya menghapus ritual. Dengan tenang, kita perlu berusaha memahami untuk apa rutinitas kita ini. Kita tentu tidak ingin saat malaikat siap menjemput, kita justru bertanya-tanya,”Sebenarnya apa yang sudah saya lakukan selama ini?”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s