Kakek dan Cucu-cucunya

Kakek itu mengulang cerita perjuangannya. Tentang kemampuannya menari di bawah desing peluru saat melawan Belanda dulu. Tapi, dia justru dikejutkan dengan respon cucu perempuan pertamanya itu.

“Inilah kehebatan orang dulu. Kebal peluru.” Si cucu yang nampak mungil itu tersenyum kecil. Seolah lolos dari peluru tak berarti apapun dibanding apa yang akan ia ceritakan. Dia menatap lembut kakeknya,”Inilah kehebatan cucumu, Kek. Lulus UN.”

Kakek itu terdiam. Pasti ada hal yang tak bisa dilakukan cucu-cucunya. Setelah berpikir sebentar, dia ke dapur. Mencari cucunya yang sudah menikah. “Inilah kehebatan kakekmu,” dengan sedikit tersipu dia membanggakan diri,”tahan godaan untuk selingkuh.”

“Haha. Berarti kuwarisi kesetiaan itu dari kakek. Dan warisan itu sudah bertumbuh. Aku tak hanya tidak selingkuh. Tapi selalu jatuh cinta pada orang yang sama setiap detiknya. Banyak yang tidak selingkuh, tapi juga tidak mencintai pasangannya ‘kan. Padahal, seperti kakek tahu. Jaman sekarang, pintu selingkuh ada di mana-mana. Tak terkunci.”

Dengan senyum lebar ia meninggalkan kakeknya. Dia lalu berjingkat menuju kamarnya. Sang istri, dengan aroma cinta yang memenuhi rumah kecil itu, telah menunggu untuk dicumbu.

Kakek itu gelisah. Senja semakin matang seperti usianya. Sebelum malam, ia berharap ada kebanggaan yang bisa ia wariskan pada cucu-cucunya. Tapi potongan 76 tahun hidupnya tak ada yang layak ia berikan. Kemudian dia tersenyum. “Kali ini pasti cucuku tak bisa membantah. Kenapa aku lupa hal yang sering dikatakan kawan-kawanku, saat membanggakan umurnya?”

Si Kakek mencari cucu yang lainnya lagi.

“Hei cu. Kali ini kau takkan bisa mengalahkan kakek.” Tak ada jawaban. Dia mengulang panggilannya,”Hei cu!” Lalu datang cucu pertamanya. “Bukan kamu yang aku maksud. Panggil adikmu.” Datang cucu perempuannya. “Duh, bukan dia. Adikmu yang satunya!”  Dia berjalan ke kamar cucu yang paling kecil. Ketergesaan membuat kakek semakin terengah.

“Hei cu. Inilah kehebatan orang tua. Pernah muda. Kamu belum pernah tua ‘kan.” Cucu yang sedang memainkan XBOX ONE itu sambil lalu menjawab,”Buat apa kakek menua. Bila aku tetap lebih dewasa?”

Dan kakek itu jatuh terduduk. Dia heran. Mengapa dia memiliki cucu-cucu yang hebat? Mengapa dia tidak memiliki kesempatan mewariskan kisah yang layak dibanggakan anak turunnya? Dosa apa dia? Atau, kebaikan apa yg pernah dia lakukan hingga Tuhan memberikan cucu yang sedemikian?

Dia mengingat-ingat amalnya. Dia pelupa. Tapi tak kesulitan mengingat kebaikannya. Mungkin karena terlalu sedikit.

Dia lupa. Bahwa kebaikan dirinya bukan untuk diingat dirinya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s