Orang Beriman Harusnya PeDe (Part 1)

Saya punya teman. Sebut saja Ahmad (jelas nama sebenarnya). Dia ini berpotensi tinggi menjadi ahli ceramah. Makanya, saya gatal memoles benih-benih kecemerlangannya. Suatu hari, saya diminta mencarikan penceramah. Yang masih muda, yang lucu tapi berbobot. Langsung saya teringat si Ahmad. Dia tidak pernah menolak tawaran saya. Tapi kali ini saya perlu membujuknya.

Saya menghubungi, dia menyanggupi dengan senang hati. Sampai dia bertanya,”Di mana tempatnya?” Saya menyebut sebuah hotel mewah di Jogja. Reaksi pertamanya,”Masya Allah? Beneran?”

“Lha kenapa to?” Saya kira dia ingin menjaga sikap zuhud, tawadhu, atau apapun sebutannya. Yang membuat dirinya menjaga diri dari segala kemewahan. Saya sudah menyiapkan jawaban,”Kemewahan pun perlu dicerahkan.” Ternyata bukan itu alasannya.

“Aku.. ga pede.” dia berkata lirih,”aku ga terbiasa di tempat seperti itu. Tahu sendiri ‘kan, ke mal aja bisa dibilang ga pernah.”

“Walah Mad. Kamu kan orang beriman. Orang beriman kan mestinya PD. Bawa nama Allah kemana-mana. PA. Percaya Allah lebih tepatnya.”

“Shadaqta, akhi.”

Saya tersenyum. Dari nadanya, saya tahu percaya dirinya telah kembali.”Lagian kan kamu sering sholat fajar. Kan udah memiliki lebih dari dunia seisinya. Berarti hotel itu juga punyamu dong.”

“Haha. Bener. Itu ‘kan apa yang aku bilang ke kamu kemarin.”

“Iya dong. Aku murid yang baik. Eh, berarti yang punya diskotek deket kosku, juga kamu dong.”

Kami tertawa berderai.

Hari-H datang. Saya mengantarnya ke tempat-T. Di hotel-H tepatnya. Sejak masuk parkiran, saya menyadari, state of mindnya tidak menunjukkan tanda-tanda PD tinggi. Ini bahaya.

Sampailah kami di lobi. Sesaat sebelum masuk saya menepuk pundaknya,”Hotel semewah ini, masih kalah sama mushola mungil tempat kau ngajar TPA, Mad. Kamu hebat ya, Mad.”

Ahmad tersenyum,”Allah yang Maha Hebat.” Lalu dengan percaya diri dia melangkah masuk. Mendahului saya. Menebar senyum pada front office, office boy, dan bule yang mungkin menganggapnya teroris. Itulah jadinya kalau Allah menancapkan iman. Jiwanya menjadi kokoh.

Saya teringat sesuatu. “Eh Mad!” Dia sudah siap memasuki lift. Dia menengok. “Kan aku belum ngasih tahu ruangannya di mana.”

Iklan

2 pemikiran pada “Orang Beriman Harusnya PeDe (Part 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s