Wanita Cantik dan Buku 2

Pernyataan bahwa semakin hari, makin banyak wanita cantik menyambangi toko buku, semakin benar adanya. Minggu terakhir Juni kemarin, saya membuktikannya secara tak sengaja. Tiba-tiba saya terdampar di pelataran gramedia yang menjelma lautan buku saat itu. Anda bisa memunguti puing-puing buku yang seolah dihanyutkan saja di pantai Gramedia ini. Anda akan terapung dari satu rak ke rak yang lain. Menunggangi aliran ombak kata-kata yang mendebur deras tuk kemudian tenggelam ke dunia yang Anda buat sendiri. Begitu juga saya. Saya membaca, tapi seolah terpejam. Terhisap aliran makna hingga saat kesadaran saya kembali, tahu-tahu saya dikepung wanita cantik. Ah, sial.

Ini bahaya. Selama ini saya berhasil menjaga pesona kata-kata tetap lebih memukau daripada segala kecantikan rupa yang pernah diciptakan Tuhan (meski wanita kemudian terpukau pada siapa yang mampu merangkai pesona kata-kata itu). Saat membaca, lalu lewat wanita cantik, mata saya memang teralihkan. Tapi bila parasnya tak segera memancarkan pesona lebih dari buku yang saya pegang, hilanglah dia dari dunia saya. Masalahnya sekarang, wanita-wanita itu tidak hanya lewat. Tapi ada di dekat. Parahnya, mereka juga membaca buku, lalu mendiskusikannya dengan teman di sebelahnya. Godaan Tuhan mana yang engkau dustakan!?

Ini pilihan sulit. Jelas, daya tarik mereka lebih kuat dibanding buku diskonan ini sehingga sah-sah saja membiarkan makhluk-makhluk itu bereksistensi di dunia saya. Namun, menikmati keelokan mereka dengan buku masih dalam dekapan? Itu pengkhianatan pada cinta pertama saya!

Saya memandang ke sekeliling. Berpindah area sama saja. Lautan buku ini telah menjadi tempat berenang ikan-ikan yang begitu rupawan. Sebagian besar telah menggandeng apa yang sering disebut orang pasangan. Beberapa mengajak kawan. Lainnya, mengawasi keturunan. Sebagian kecil sendirian, tapi tak rupawan.

Saya kembali menatap wanita-wanita ini. Ada satu yang menatap kembali tapi saya memilih yang paling dekat lalu berkata,”Su.. suka baca juga?”. Dia terkejut,”Eh. Oh.. iya.” Saya lalu diam setelah beberapa kali bertukar kata. Wanita yang saya sapa pelan-pelan pergi. Diikuti yang lainnya. Fiuhh.. lega juga. Strategi saya berhasil. Salah satu cara membuat wanita di toko buku mengasingkan diri ialah dengan memperkenalkan diri dengan tampak grogi. Kondisi pikiran mereka tidak siap untuk bersosialisasi. Tunggu sampai mereka duduk-duduk menikmati kopi atau sekedar antri. Saya lalu terpikir. Mungkin ada orang yang mendekati kita hanya agar kita menjauhi.

Sebentar. Ini kenapa masih ada wanita di daerah kekuasaan saya? Menatapku pula. Meski tampak ragu, akhirnya dia memberanikan diri bertanya,”Mas yang di foto ini ya?”

“Eh, iya.” Saya tak menyangka buku itu ada di rak ini.

Dia menyebutkan namanya. Baru sekejap saya berpikir,”Jangan-jangan perkenalan ini adalah strategi pengusiran?” Kami keburu sepakat untuk berekspedisi bersama ke dasar samudra makna. Mencecap pesona tanpa perlu mengkhianati cinta pertama saya yang juga cinta pertamanya.

Iklan

3 pemikiran pada “Wanita Cantik dan Buku 2

  1. Salam kenal mas 🙂

    Di page ‘kenali saya’ sudah banyak sapaan. Saya ingin beda. Maka disinilah saya. Diantara wanita cantik dan buku. Dan ya….saya tidak masuk kategori cantik, tapi saya menyukai buku (^_^)

    Tulisannya bener2 inspiratif & cerdas… makasih sudah di follow.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s