Berontak, Merayu, dan Tertawa

Berontak, Merayu, Tertawa

Kelak anakku bertanya padaku,”Masa muda, habis buat apa, bro?”. Aku berpikir sejenak sambil menatap anakku menuangkan segelas Amer. Asap kretek asli Indonesia mengepul. Menjadi tanda gerbong kalimat segera lewat.

“Berontak, merayu, tertawa.”

Aku selalu berontak, Nak. Pada yang mengaku cendekiawan Islam tapi berhenti membaca Al-Quran. Melawan umara’ yang mengacuhkan keteladanan Umar. Saat masih mahasiswa, bapakmu ini tak pernah berdamai dengan dosen. Aku memprotes kawanku yang begitu saja tunduk pada thaghut­-thaghut berjubah. Dan tak kalah penting, aku mendemo tukang jamu yang lewat depan kosku. Kenapa kurang cantik? Ternyata dia lelaki. Aku aja yang menganggap tukang jamu itu harus perempuan. Pernah sih ada yang cantik, tapi sudah bersuami. Berikutnya, ada yang cantik, lajang, tapi aku sudah pindah kos.

“Lalu soal merayu?”

Hemm.. Aku dulu benci pria yang mempermainkan wanita, Nak. Mungkin karena di keluarga bapak lebih banyak perempuan, bapak terbiasa menghormati wanita. Bapak pernah bergaul di lingkungan ikhwan yang kuharap, bisa menghargai kaum wanita. Eh, tapi Nak. Mereka sama saja. Tentu hanya sedikit yang begitu. Tapi sudah cukup untuk menghapus respekku ke mereka.

“Kenapa tidak jadi teladan, bro?”

Haha. Tentu aku berpikir begitu. Tapi kebutuhan berada di dekat wanita lebih besar. Mungkin karena di rumah terbiasa ada cewek. Itu jadi pisau bermata dua. Aku terdorong menghormati mereka, sekaligus tanpa sadar kumiliki kartu as yang membuat mereka selalu rela di dekatku.

“Berarti bapak mempermainkan mereka, dong? Bukannya bapak benci pria macam itu?”

Iya, Nak. Itu tak kusadari, Nak. Tahu-tahu cap heart breaker dilekatkan begitu saja. Bapak jadi sosok yang bapak benci. Itulah pelajarannya, Nak. Hati-hati dalam membenci. Kamu justru bisa jadi sosok yang kau benci.

“Kalo soal tertawa?”

“Haha. Isi dulu gelasku, Nak.”

Tawa. Hemm.. tawa. Aku selalu tertawa usai berontak, ataupun merayu. Tawa lepas karena berhasil. Sering juga karena terpaksa menertawai kegagalan. Mencandai kekalahan di podium, atau di ranjang. Tawa itu nyawa. Sering aku terbahak hingga mataku pejam. Tuk kemudian membuka mata dengan perspektif hidup yang berbeda. Hidup yang, waktu itu, dua pertiganya hanya kuisi dengan pemberontakan dan rayuan.

“Ga kepikir dosa, bro?”

Aku berwudlu, Nak. Itu penghapus dosa, kan? Saat kubasuh mulut, aku minta ampun seampun-ampunnya atas segala sepik-sepik iblis yang mendesis. Eh tapi begitu basuh muka, aku sudah mendo’a aneh lagi. Semoga wajahku makin mempesona. Haha.

Begitulah aku, Nak. Bahkan saat penyucian diri, aku berbuat dosa.

“Iya, bro. Tuhan ngasih kecenderungan besar tuk berbuat dosa. Tapi itu diimbangi ke-Maha-Ampun-an Allah, kan.”

Iya. Kita tak pernah benar-benar suci. Ada saja setitik dosa. Karna Tuhan Maha Ampun. Atau karena Tuhan takut tersaingi kesucianNya?

29 Jan 13

Iklan

2 pemikiran pada “Berontak, Merayu, dan Tertawa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s