November Rain

November Rain

Dengan durasi 8 menit 57 detik, November Rain menjadi lagu kedua terpanjang di album “Use Your Illusion I”. Axl Rose seperti kewalahan meringkas kenangannya akan hujan di bulan November menjadi rangkaian lirik yang singkat tapi mendalam. Axl Rose pernah memperdengarkan embrio lagu ini pada Traviis Guns di ’83. Keduanya yakin ini lagu dahsyat. Bedanya, Guns yakin lagu ini sudah selesai. Rose masih ingin mengembangkannya sehingga Traviis berulang kali bertanya,”Sudah selesai?” sampai sembilan tahun berikutnya.

Lirik November Rain seperti ceramah. Namun, kesederhanaan lirik itu mampu menceritakan pemahamannya yang ternyata tidak dangkal. Apalagi bila kita mau memberi makna lain. Penafsiran kita padanya mampu menjelaskan berbagai guncangan hidup. Tidak melulu soal roman picisan.

But lovers always come and lovers always go
And no one’s really sure who’s lettin’ go today
Walking away

Namun kekasih selalu datang dan pergi. Dan tiada yang yakin siapa yang rela melepaskan, atau tega meninggalkan. Seperti lelehan hujan.

***

Entah apa kehendak langit, senja dan November bersepakat menabur gerimis, di lukaku. Mendung merampas merah keemasan senja yang selalu kunanti. Menggantinya dengan kelabu, kabut, dan hembusan kenangan yang dinginnya menembus dada meski sudah kulapisi jas hujan.

Dengan Supra, aku melintasi jalan yang debunya telah dibilas dengan rintik yang ditumpahkan mega nan murung. Mungkin seperti itu kita. Air mata, membilas hati kita yang keruh. Hujan kala November, barangkali diutus untuk menyapu jalan. Membersihkan, sekaligus melicinkan agar kita melaju perlahan.

Seperti mencintaimu. Saat semua berkendara tergesa, aku ingin mencintaimu pelan-pelan.

Di November, senja memilih hujan tuk menemani perjalanan pulangku. Menuju tempat hati membasuh lelah, lidah merangkai canda, dan otak memimpikan langkah. Tempat yang kusebut rumah. Tapi hari ini, senja tak hanya mengirim gerimis tuk menemaniku. Ada seorang perempuan.

Saat di lampu merah, dia berhenti di kiriku. Memakai jaket merah yang menegaskan lekuk pinggang. Mungkin berguna menambah aeordinamika, pikirku. Skinny jeans biru yang dibuat luntur dan sobek. Heels coklat muda hampir senada dengan kakinya yang langsat. Tidak tampak pucat berkat merah yang menempel di kuku dan bibirnya. Mungkin kau bisa menebak sepeda motornya. Ya, matic warna merah.

Motor dan gaya tampilanku kurang lebih sama dengannya. Seksi versi lelaki. Maskulin.

“Halo mbak.”, mataku bersiap menerima kontak matanya.

“Eh, kaget e mas.”

Duhai, apakah terkejutnya wanita seperti ini selalu ditutup dengan senyuman yang memikat? Aku tersenyum kembali,”Gimana kuliahnya?”

“Emang aku masih kayak anak kuliahan ya?” Si Merah terkekeh.

“Iya. Di RSJ.” Aku mempertahankan senyum kecilku.

“Haha. Kurang ajar. Masnya kali.”

Aku lihat timer. Sudah hampir hijau. “Yuk, jalan.”

Si Merah juga bersiap. Aku menoleh kembali. “Mau balapan? Yang paling cepet sampe rumahku, aku traktir bakso lima mangkok!”

“Haha. Ya jelas menang Mas-lah. Aku kan ga tahu rumahnya Mas.” Giginya kekuningan. Mungkin penyuka teh, kopi, atau merokok.

“Ya ga apa-apa kan. Aku juga ga tahu namamu.”

Matanya tersenyum kaget sekaligus tertarik. Dia tak menduga jawabanku.

Kami melaju. Selama tiga puluh enam detik ke depan, lampu lalu lintas menyala hijau. Kuharap lampu hijau dari si Merah menyala jauh lebih lama. Di jalan yang baru dilebarkan ini, kami berdua berjalan lambat, tapi chemistry terbangun cepat.

“Namaku Reno, kamu?”

“Syahrini.” Lalu dia tertawa. Tawa yang membahana. Aku hanya tersenyum. Dia sudah berkendara di jalur candaku. “Aku Raul Lemos.” . Dan tawanya semakin cetar.

Gerimis menjadi hujan, hujan menjelma deras. Orang asing menjadi kenalan, kenalan menjelma teman kencan.

Hujan semakin deras. Kami berteduh. Beruntung, ada kedai kopi di dekat tempat kami berhenti. Kuajak saja Syahrini ke sana.

“Ngopi-ngopi bentar yuk. Daripada kedinginan di sini. Mumpung belum rame. Nanti makin banyak yang berteduh, pasti makin banyak yang mampir ke situ.”

Syahrini masih menimbang-nimbang.

“Kayaknya hujannya masih lama, lho.” Aku menambah alasan tuk meyakinkan.

“Emm..Boleh, Raul.”

Kugenggam pergelangannya saat melewati kubangan di trotoar. “Tapi kamu yang bayar ya. Kan Syahrini lagi banyak job.” Dia kembali terkekeh.

Saat memesan menu, aku menduga dia memesan Capuccino. Sesuai wajahnya yang ceria.

“Kopi hitam. Tanpa gula.” pesan Syahrini mantap. Tebakanku meleset. Beberapa menit berikutnya kami masih saling lempar canda dan goda.

“Devi.”

“Apa?”

“Nama asliku Devi.” Wahai, nama, suara, senyum. Semuanya cantik.

“Oiya Dev. Minggu kemarin hari pahlawan ‘kan. Kebayang ga, kalau jaman dulu tu udah ada facebook?”

Devi mengernyit.

“Ga bakal ada deh, nama jalan, jalan Jendral Sudirman, jalan Pattimura.”

“Terus?”

“Adanya tuh, jalan Jendral Sudirman Sayang Dia Selalu Setia Selamanya.”

Devi terbahak. Aku menikmati tawanya. Sekaligus melirik ke beberapa pengunjung lain. Beberapa wanita melirik ke arah kami. Ada tatapan iri. Kenapa lawan bicaranya tak sehumoris diriku. Haha. Sedang para lelaki itu mungkin heran. Kenapa ada wanita cantik yang mau dengan pria sejayus diriku. Haha.

Tak terasa aku berhasil memancingnya membuka seteguk kegetiran di hidupnya. Saat aku menyusuri matanya,

When I see your eyes I can see a love restrained.

Perjalanan kami menyusuri masa lalu penuh luka terganggu dering BlackBerry Curve-nya. Lalu kudengar dia ber –oke-oke-oke, siap-siap-siap. Kadang bernada manja. Mungkin ada tawaran pekerjaan.

Kopi hitam dan espresso sudah tinggal setengah isi. Hujan menempelkan senja di sana-sini. Di pohon peneduh, di air yang berkecipak tiap roda mobil melindasnya. Air itu rela saja ditindas lalu dilempar, tapi tidak pejalan kaki yang bajunya sudah ditempeli aroma hujan. Aroma yang di udara telah bercampur dengan bau khas kuah bakso, dan rindu itu.

“Maaf ya. Dari Ibu bos. Hehe.”

Hujan agak mereda saat pertanyaanku perlahan menggiring Devi ke masa lalunya. Kombinasi senja, hujan, dan cara bicaraku membuainya tuk membuka diri. Lebih dalam lagi.

“Duh, kok jadi curhat.”

“Curhat saja.”

“Nanti aku nangis.”

“Nangis saja.”

“Malulah, banyak orang gini.”

“Tidak. Hanya ada aku dan kamu.”

“Kamu ga bisa lihat ya. Rame gini.”
Aku menggenggam jemarinya. “Bisa. Tapi aku memilih hanya melihatmu. Seperti kamu memilih hanya melihatku. Yang lain lenyap. Hanya aku,” mataku mengunci keyakinannya,”…dan kamu.”

Ia menunduk lalu mulai bercerita. Aku dengar hujan yang kembali deras, angin yang meraungkan dedaunan dengan pedih, bising obrolan di sekitar, dan awan yang menggantung muram.

Matanya mulai mendung. Sementara pada hujan deras di luar sana, aku berpesan.”Undanglah kilatmu, hujan. Pastikan ia menyengat rindu seseorang di sana.”

“Kamu kaget dia tiba-tiba tak mencintaimu lagi, tak seperti dulu lagi?” Devi mengangguk.

‘Cause nothin’ lasts forever
And we both know hearts can change

Matanya mulai menetes. Aku berusaha tak menatapnya. Pandangku terhenti di anak SMP yang makan bakso. Di dekat gerobak bakso samping kedai. Dia sedang mengiris-iris bakso tenis. Mencelupkannya ke kuah, mengolesinya dengan kecap manis tuk menghapus pedas di lidahnya. Mungkin seperti itu beban masa lalu dicerna. Dipotong, dicampur rasa yang menghilangkan lukanya, dilahap, diambil saripatinya, yang tak berguna, dibuang saja.

“Kamu dengerin gak sih?”

“Tentu.”

Berikutnya, aku mendengar kisah-kisah dikhianati. Kupandang matanya. Siapa tahu ia tak benar-benar dikhianati. Hanya perasaannya saja. Karena wahai, siapapun yang mencurahkan perasaannya, bisakah ia tak tempatkan diri sebagai yang paling benar?

Dalam hati aku menerka, mungkin bagi kekasihmu, kau terlalu bersinar. Sementara dengan sinarmu, kau lupa menghangatkan sisi paling butuh dicahayai pada pria. Dipuji sebagai pahlawan.

Apakah kau pernah memujinya? Devi menggeleng.

And it’s hard to hold a candle. In a cold November rain.

“… baru tiga minggu lalu dia mencampakkanku,..” sayup-sayup kudengar gelisahnya. Meski hujan mereda, badai di dadaku menggulung-terbangkan rindu memanggil hadirmu yang tuli. Titik-titik kenangan terbang terpilin mengelilingi pusaran yang menghisap luka.

Seperti hujan yang numpang lewat. Sederas-derasnya ia, toh hanya lewat. Kita bisa berteduh, membiarkannya pergi. Kita juga bisa menjauh, memilih jalan dengan langit terang di atasnya.

But lovers always come and lovers always go
An no one’s really sure who’s lettin’ go today
Walking away

“Jadi, gimana menurutmu solusinya?”

Aku berpikir. Bukan memikirkan jawabannya. Tapi bagaimana mengubah pertanyaan ini menjadi sebuah keuntungan.

“Well, nanti telpon aku aja ya. Udah mulai reda. Mendingan kita siap-siap pulang.” Sebuah modus yang rapi.

Hujan akhirnya benar-benar reda. Devi juga sudah lega. Dia bahkan sudah kubiarkan pulang lebih dulu. Tertarik tuk menghubungiku nanti. Aku tak peduli padanya. Aku hanya memikirkanmu sedari tadi. Dia pamit, menoleh padaku berkali-kali. Seolah ingin mengajakku pergi dari segala kenangan tentangmu. Tapi aku masih ingin di sini. Duduk di meja kenangan. Mengunyah semangkuk harapan yang kau sisakan.

Ditulis sebagai wajib posting Pendekar Tidar dan menyambut pentas GnR tanggal 15 Desember 2012.

Iklan

2 pemikiran pada “November Rain

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s