Wanita Cantik dan Buku

Saya pernah meninggalkan kunjungan rutin ke perpustakaan dan toko buku. Saya sedang ingin melesatkan kemampuan sosial. Maka, saya pilih tempat yang lebih sociable. Saat saya kembali mengunjungi gudang ilmu itu, ada perubahan. Sejak kapan ada wanita cantik di sini? Kenapa tak hanya buku yang makin cantik, tapi juga pembacanya?

Berdasar statistik, ternyata jumlah pengunjung perpustakaan wanita meningkat. Seorang sosiolog mengatakan, wanita kini ingin tercitra lebih cerdas. Maka, selain ke pusat belanja, kini banyak wanita yang mengunjungi pusat studi. Wanita juga mengubah majalah langganan mereka. Tidak hanya majalah gosip, masak, dan fashion. Jangan kaget bila wanita kini menggemari Readers Digest, Intisari, atau malah PCplus.

Tapi, ada juga yang sekedar setor muka di tempat bernuansa keilmuan tersebut. Cirinya, pura-pura mengambil buku tebal. Meletakkan di meja, tapi tetap yang dibaca majalah gosip. Cara berpakaian pun diubah. Kaca mata menjadi asesoris wajib. Blocknote mengisi tas mereka menemani foundation dan perona bibir. Tidak ketinggalan cara bertutur. Lebih tertata dan berjeda. Tak lupa untuk mengutip kata-kata tokoh terkenal dan istilah rumit yang mereka pahami ala kadarnya dari buku yang tidak selesai dibacanya.

Stereotipe wanita cantik pasti telmi akan segera layu. Harusnya.

Lalu, bagaimana dengan mereka wanita yang tak cantik lalu mengandalkan kecerdasan sebagai pesonanya? Hmm.. Mungkin bisa pake strategi ini… Eh, kayaknya ga cocok. Emm… Begini. Kalau mereka memang wanita cerdas, tentu sudah bisa menemukan exit strategy dari semua ini kan?

Bila ini terus terjadi, wanita cantik semakin cerdas. Wanita cerdas semakin cantik. Terdengar menguntungkan untuk kaum pria, bukan? Harusnya. Namun, kita mesti siap. Dengan makin cerdasnya wanita, mereka akan semakin meningkatkan standar dalam memilih pasangan. Para pria yang malas meningkatkan kualitas diri, jelas akan terlempar dari persaingan. Tersisalah kumpulan pria lajang yang lalu memutuskan menjadi gay. #Eh…

Jangan harap wanita menurunkan standarnya hanya agar segera mendapat suami. Banyak yang lebih memilih menjadi perawan tua daripada menikah dengan pria tak bermutu. Wanita seperti ini, jelas lebih memilih beradu kecerdasan dengan sesamanya. Karenanya, tersisalah kumpulan wanita lajang yang lalu memutuskan menjadi lesbian. #Eh…

Kembali lagi ke wanita cantik. Bagi para pria yang hobi ke toko buku dan perpustakaan, beruntunglah. Mata Anda jadi lebih segar. Dekati mereka, ajak kenalan. Siapa tahu salah satunya menjadi jodoh Anda. Kecuali, wanita itu menjawab,”Maaf, saya ga suka cowok.” #Eh…

Masih ada jalan lain. Yang lebih sejuk, berkah, dan berdampak panjang. Kalau Anda memilih jalan ini, Anda mesti siap menjaga mata dari wanita cantik di depan Anda itu. Tempuhlah jalan keberkahan. Lalu biarkan dia menjadi bidadari Anda di surga nanti. Kecuali, bila di surga nanti bidadari itu menjawab,”Maaf, saya ga suka cowok.”

Iklan

4 pemikiran pada “Wanita Cantik dan Buku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s