Macet di Sunmor yang Menghibur

Macet di Sunmor yang Menghibur

Saya tak terburu pulang setelah semalam menginap di studio game milik teman. Sengaja saya lewat sunmor dengan resiko macet. Karena saya memang sedang santai, macet tak begitu masalah. Malah, bisa jadi berkah.

Gambar

Jadilah saya satu-satunya orang yang menyambut macet dengan senyum. Tidak seperti dua orang mahasiswi yang menggerutu tak sabar ingin cepat sampai kos. Memamerkan hasil belanja mereka. Saya bebas memandang sekeliling. Tidak tiba-tiba menunduk karena ketahuan melirik wanita lain seperti mas-mas bertubuh tinggi itu. Juga tidak mengkhawatirkan isi dompet. Seperti ibu-ibu gemuk yang melipat wajahnya karena kalah dengan rengekan anaknya yang berhasil membawa pulang mainan mahal.

Dalam macet ini, sekitar lima menit waktu yang diperlukan untuk menempuh jarak kurang dari seratus meter. Dari perempatan Sagan sampai depan FEB. Sampai sini, ternyata ada orang lain yang gembira menghadapi segala keruwetan ini. Lihatlah. Pemuda jangkung dengan celana jins butut berlubang di lutut. Sweater putih, tepatnya putih tua dengan noda tanah di bagian pinggangnya. Dia yang mengatur lalu lintas. Polisi gagah berseragam bersih tak perlu turun tangan untuk kemacetan seremeh ini.

Lihatlah si Jangkung itu. Siapa yang peduli padanya saat dia hanya memiliki emper toko untuk tidur. Tapi saat ini, bapak-bapak dengan mobil mewah mematuhinya. Juga dengan rombongan muda-mudi bertubuh lebih bersih-ringkih, tapi lebih berpendidikan. Mengikut saja dengan komando si Jangkung. Tidak menyoal betapa algoritma menguar kemacetannya kacau balau. Lesson learnt. Untuk berkuasa, dipatuhi, atau sekedar mengasah leadership, kita tak perlu pendidikan tinggi maupun harta melimpah. Cukup cari posisi yang memungkinkan kita membuat keputusan nan berdampak.

Jika melihat ekspresi mbak-mbak yang motornya masih tertahan di samping si Jangkung, saya yakin. Si Jangkung lupa membersihkan ketiaknya sebelum mengangkat-angkat tangannya untuk memberi perintah, lalu menerima selembar rupiah.

Kini saya mulai bernapas lega.  Saya sudah sampai bundaran lembah UGM. Lalu lintas di sini lebih lengang. Bisa kita lihat cowok-cowok telah menata penampilannya. Berharap ada gadis yang melirik mereka, seperti mereka memandangi gadis-gadis itu tanpa henti. Wajar saja. Cara berpakaian dan berjalan mereka telah diatur agar menjadi pusat perhatian.

Pengunjung Sunmor tipe ini, bisa kita identifikasi dengan ciri berikut. Pakaiannya kadang terlalu formal, atau bahkan terlalu gaul untuk tempat sekasual Sunmor. Mereka lebih sering melirik pengunjung berpenampilan menarik ketimbang barang-barang yang dijajakan. Kalau melirik jualan pun, akan berpikir kembali untuk melirik dompet. Uang mereka telah habis untuk investasi penampilan.

Namun, ada juga pengunjung yang memang berniat mengerakkan roda ekonomi. Ada yang menjual, ada yang membeli. Mereka telah memutar uang ratusan juta di pasar mingguan ini.

Sebagian besar pedagang di Sunmor merupakan mahasiswa baik UGM maupun selainnya. Beragam motivasi mahasiswa ini berdagang. Salah satunya balas dendam. Uang mereka telah dikuras UGM. Maka, mereka berusaha mengeruk kembali. Tapi bila hanya mengandalkan dagang di hari Minggu, hanya pagi pula, tentu mereka harus memperbanyak jumlah hari Minggu dalam tiga empat tahun ke depan agar modal mereka cepat kembali.

Jadi begitulah. Asal kita mau tersenyum, apa yang nampaknya musibah bikin gerah, justru anugerah nan mencerahkan.

 

Iklan

4 pemikiran pada “Macet di Sunmor yang Menghibur

  1. Pernah ke sunmor seumur-umur satu kali…waktu touring di Ygy trs semalaman gak bisa tidur, lalu paginya diajak sama teman yang kebetulan mahasiswa FK UMY buat kesana…
    Suka dengan pasar tiban macam itu, tapi entah karena kurang tidur atau apa… lihat ruwet dan ramainya sunmor mendadak kepala pusing @__@

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s