Merdeka dalam Berpuasa

Biasanya, relasi sebab akibatnya begini: Puasa mengakibatkan kemerdekaan. Proklamasi konon terlaksana dalam nuansa puasa. Puasa, meletupkan energi lebih untuk meraih kemerdekaan. Baik badan maupun jiwa. Sekarang, gimana kalau dibalik? Merdeka dulu baru puasa.

Kita perlu merdeka sebelum berpuasa. Niat misalnya. Ada yang berpuasa sekedar ikut-ikutan. Ada yang berpuasa karena diperintah. Kita mesti merdeka dari niat seperti ini. Ada juga sebaliknya. Lingkungannya justru mendorong agar dia tidak berpuasa. “Kamu puasa? Cupu!” Maka, agar diterima pergaulan, dia tidak jadi berpuasa.

Kita perlu merdeka dalam berpuasa. Pekerjaan misalnya. Ada yang karena tuntutan pekerjaan, meninggalkan puasa. Entah karena dirinya tidak kuat, atau dipaksa majikan maupun kebijakan perusahaan. Memang ada rukhsoh. Tapi mari kita lihat dalam tataran makro: ini merupakan potret keterjajahan kita oleh kapitalisme.

Dijajah perusahaan bukanlah hal baru. Kita sering menyebut dijajah negara, yakni Belanda. Padahal, kita hanya diinvasi perusahaan dagang bernama V.O.C.

Jadi ternyata, sebelum berpuasa pun kita harus punya modal mental merdeka. Merdeka dari pandangan orang, mata pencaharian, dan semua belenggu yang menahan kita dari berpuasa.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s