#KiblatKilat | Ngontak-ngantuk Ketemu Khotbah

Sudah jamak diketahui, khotbah jumat terasosiasi dengan khotbah yang dipenuhi jamaah yang ngantuk. Tapi saya terus terang jarang sekali ngantuk pas khotbah jumat. Mungkin baru 1-2 kali. Satu yang saya inget, waktu itu pas OSPEK sehingga lelaaah dan kurang tidur. Saya sampai hampir terjatuh. Padahal, pembicaranya waktu itu level nasional sekelas Reza M. Syarief. Isi dan penyampaiannya, sebenarnya menggigit kalau saja saya tidak ngantuk. Tapi, soal ngantuk dan tidak ini ternyata alamiah-rasional saja. Bukan urusan magis seperti,”Telinga saya dikencingi setan. Jadi tiap denger khotbah tu pasti ngantuk.”

Saya yang ga ngantuk, karena memang sejak kecil dibiasakan untuk ndengerin khotbah jumat. Dan, saya selalu berusaha cari posisi duduk yang tetap membuat saya bisa melihat si khotib sehingga pikiran ini tidak terlalu melayang-layang. Atau, bisa juga karena bioritmik tubuh saya yang memang ga waktunya dhuhur2 ngantuk. Di kelas pun, saat yang lain ngantuk karena sudah siang, guru atau dosennya membosankan, saya tetap jarang mengantuk.

Saya berusaha menghormati guru dengan berusaha memperhatikan. Mendengarkan sungguh-sungguh seolah beliau hanya ngobrol dengan kita. Saya juga berusaha menyembunyikan kebosanan atau kadang-kadang ngantuk itu tadi. Di situ timbul masalah baru.

Karena energi saya sudah dihabiskan untuk menyembunyikan kebosanan, saya jadi tidak menangkap isi pelajaran. Jadi, sering saya mengangguk-angguk padahal saya juga ga mudheng šŸ˜€ Dan biasanya diakhiri komen temen,”Ajarin yang kemarin siang dong. Kan kemarin kamu merhatiin tuh.” Blaik!

Sedangkan saudara-saudara yang ngantuk, itu ternyata hanya perkara teknis public speaking dan bioritmis saja. Jumatan dilakukan saat jam makan siang yang juga menjadi jam ngantuk karyawan. Dari segi teknis public speaking, para jamaah alias audience ngantuk karena kurang mendapat rangsangan visual -karenanya saya berusaha bisa nonton si khotib-. Karena itu pula waktu kecil saya sering lihat banyak bapak yang justru baca selebaran tausiyah layaknya membaca koran. Untung kini fenomena itu menghilang.

Mungkin kita bisa meniru Diraja Malaysia yang menyiapkan viewer di berbagai sisi masjid sehingga para jamaah dapat mengikuti materi dari slide maupun nonton khotib meski dari serambi. Slide-slide nya pun sudah disiapkan depag setempat sehingga para khotib tinggal membacakan. Materi khotbah jumat kompak satu negara. Mungkin di sana terus ga ada buku “Kumpulan Khotbah Jumat Sepanjang Zaman” kali ya šŸ˜€

Pemerintah saya usulkan tiru saja langkah itu. Daripada mengirim intel sebagai jama’ah, mending menyusupkan intel sebagai khotib. Kita lihat, khotbah jumat itu wajib didengar. Ga boleh ada yang ngomong. Bahkan, dalam hadis pun mainan kerikil bisa membatalkan. Jadi, khotbah jumat sebenarnya bisa menjadi saran indoktrinasi nan luar biasa karena tidak ada jamaah yang mengacungkan tangan untuk interupsi atau sekedar tanya jawab.

Tapi, tidak mengantuk saja belum cukup. Contohnya saya. Saya jarang mengantuk, tapi juga jarang memperhatikan šŸ˜€ Karena baik isi maupun cara penyampaian khotbah tidak menarik. Saya masih bisa maklum kalau khotib hanya sibuk membaca teks sehingga terasa kering.

Tapi saya sudah susah memaklumi kalau dari segi isi, khotbah itu tidak mengandung unsur kebaruan. Sering, hanya mengulang-ulang buku yang sudah saya baca atau retorika dan dalil-dalilnya sudah bisa ditebak. Tapi syukurlah, hal ini jarang saya temui kalau saya sedang jumatan di masjid-masjid “intelek”.

Namun, saya kemudian berpikir. Jangan-jangan memang khotbah jumat itu tidak mengutamakan unsur kebaruan. Dia memang sengaja mengabarkan ulang apa yang sudah kita tahu tapi terlupa. Tidak semata-mata memberi tahu apa yang belum. Untuk selanjutnya, dia mendorong mengamalkan ilmu yang sudah diingat tadi. Kita didorong untuk tidak memperlakukan agama hanya sebagai ilmu. Tetapi pedoman praksis keseharian. Mungkin.

Jadi, untuk membereskan masalah khotbah ini butuh kesabaran. Perlu menanamkan kebiasaan sejak kecil, membangun masjid dan khotib dengan infrastruktur dan teknik public speaking yang memadai, mengatur bioritmik tubuh, atau memakai cara yang lebih simpel. “Mengundang” “Muhammad SAW” sebagai khotib. Khotib yang khotbahnya bagai komandan perang. Kita juga perlu “mengajak” para “sahabat nabi” untuk duduk di kanan kiri kita. Mereka para sahabat yang kala duduk mendengar khotbah Rasulullah, akan sangat tenang sehingga burung pun tak segan bertengger di atas sorban mereka.

 

Iklan

Satu pemikiran pada “#KiblatKilat | Ngontak-ngantuk Ketemu Khotbah

  1. kalau saya sih, tidur bisa dimana-mana, bahkan saat menjoki motorpun bisa tidur :D. Itu cuma saya. anggap saja kutbah jum’at itu sebagai siraman rohani tiap minggu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s