6 Langkah Menghadapi Kritik

Saat saya Open Mic di UMM beberapa waktu lalu, saya ketemu dengan Pendekar Tidar yang bermedan laga di UMM. Mas Kukuh. Tahu karena saya lagi seneng-senengnya Stand Up Comedy, beliau menimpali dengan , “Jadi, sekarang udah jarang ngeblog ya?” #jleb. Tapi yang di #jleb bukan perasaan saya karena saya tidak sesensi itu. Tulisan tentang menghadapi kritik ini juga bukan dibuat karena “kritikan” tanpa sadar Mas Kukuh. Tulisan ini sudah dibuat berbulan lampau. Jadi, yang di#jleb itu otak saya yang seolah amnesia bahwa saya punya blog :D. So, without further ado, berikut empat dari enam langkah tersebut.

6 Langkah Menghadapi Kritik
“Hanya yang berkarya, yang dikritik.”

2 Langkah pertama: Pendinginan

1. Ubah Cara Pandang

Ubah cara pandang kita terhadap kritik. Kita tak nyaman dikritik karena menganggap itu aib, memalukan, dan merendahkan. Maka, ubahlah cara pandang kita menjadi lebih positif. Lihatlah, yang dikritik hanyalah mereka yang berkarya, berani mengambil keputusan, dan yang bertindak. Tentu ada yang dikritik karena ketiadaan karya, keraguannya, dan kepasifannya. Tetapi lebih sering kita dikritik karena kita telah bertindak. Meski itu dianggap belum sempurna – yang karnanya mengundang kritik.

Selain itu, kita perlu mengubah terhadap orang yang memberi kritik. Kesalahan bermula dengan menganggapnya sebagai lawan. Dari sinilah lahir dendam. Lahir pula godaan untuk lebih asyik mencari strategi balas dendam dibanding menyelesaikan kerja-kerja kebaikan – yang menjadi sasaran kritik – kita. Padahal, bila kita bersegera melanjutkan perjuangan, kritikus akan diam dengan sendirinya. Bila kita hanya sibuk melawan – dengan cara kekanakan – , perang takkan pernah usai, kerja kita terbengkalai.
Maka, ingatlah, dikritik itu membanggakan. Dikritik itu diperhatikan, dikritik itu disayangi. So, WELCOME CRITICS. Sambutlah kritik!

2. Ubah Posisi Pandang

Kita menjadi gusar, tak jernih, dan cenderung melakukan perlawanan bila dikritik. Itu karena kita melihat pengkritik sebagai musuh yang berhadapan face to face dengan kita. Cara penyampaian pengkritik yang sering tak beretika membuat kita merasa terpojok. Namun, sikap kita akan berbeda bila kita mengubah posisi pandang.

2 Langkah Kedua: Pengolahan
3. Analisa Akurasi
Setelah kita mampu memahami apa yang menjadi kritik di balik tutur katanya, kita perlu menganalisa. Benarkah yang ia kritikkan?

4. Analisa Relevansi

Setelah benar, analisa apakah kekurangan itu relevan terhadap tujuan kita. Misal, kita dikritik karena masakan kita kurang pedas. Ternyata benar kurang pedas. Tapi, apakah kurang pedas itu relevan kalau tujuan kita memang memasak yang manis-manis?

2 Langkah terakhir

5. Respon hangat

Berbeda dengan dua tahap pertama yang cenderung menuntut kita bersikap dingin sedingin-dinginnya, kali ini kita perlu memberikan respon sehangat mungkin.  Itu dari segi “bagaimana” penyampaiannya yang lebih ke rasa. Dari segi “apa” yang disampaikan, rasio kita bisa memberi jawaban setelah melakukan analisa sebelumnya.

6. Kembali berkarya

Setelah kita analisa, kita bisa menemukan respon tepat. Ada kritik yang terjawab dengan didiamkan dan ada yang perlu klarifikasi. Yang jelas, setelah fokus kita terganggu sementara karena kritik, kita harus kembali berkarya. Kita harus kembali berkarya. Alasannya, emm tidak perlu saya sampaikan. Tak perlu banyak alasan tuk kembali berkarya.

Silakan dikritik

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s