Bekerja sama-sama, sama-sama bekerja

Serial Maskulinisme

Bekerja sama-sama, sama-sama Bekerja

“Heal the world. Make it a better place.”

Bila ‘sex’ adalah jenis kelamin, gender adalah fungsi dan peran yang kita sematkan pada jenis kelamin itu. Pria kelaminnya, bekerja perannya. Wanita kelaminnya, memasak perannya. Penyematan “bekerja” pada kaum pria, itulah gender. Namun di Bali, ibu mengambil peran kerja. Itulah gender. Bisa berbeda. “Bekerja”nya wanita adalah gender. Pantas tidaknya tergantung konstruksi sosial-budaya setempat. “Melahirkan”nya wanita adalah kodrat.

Para feminis menyikapi perbedaan peran ini sebagai ketidakadilan. Maka, mereka memperjuangkan penyetaraan. Agar mampu berdiri sama tinggi duduk sama rendah. Ibaratkan kita sedang menimbang jeruk dan rambutan. Kita letakkan jeruk di ujung timbangan yang satu, rambutan di ujung lainnya. Kita ingin menyeimbangkan timbangan itu.

Sekarang katakanlah jeruk itu lebih berat. Feminis menyeimbangkannya dengan mengubah rambutan menjadi jeruk. Sebuah perjuangan yang melelahkan dan tak perlu. Wanita tak perlu membuktikan bahwa mereka bisa mengalahkan pria. Mereka sudah mengalahkan pria dalam banyak hal. Dalam karir misalnya, perhatian alamiah wanita terhadap detil dan ekspresi kasih sayang, telah menempatkan mereka pada peran-peran pemimpin dengan pria sebagai stafnya. Secara alamiah, tanpa membawa isu feminisme.

Feminis melihat ‘equality’ sebagai keadilan yang sama sebangun, sama rasa sama rata. Padahal, being equal tak selalu dengan being same. Langkah penyetaraan yang lebih tepat ialah meningkatkan bobot rambutan. Dalam arti, lelaki dan wanita telah memiliki peran masing-masing sesuai kodrat alamiah-biologis dan konstruksi sosial-antropologis. Maka, perberatlah bobot kontribusi sesuai tugas masing-masing. Bila Anda jeruk, perberatlah bobot jeruk dan sebaliknya. Bukan mengubah diri menjadi rambutan dan sebaliknya.

Bila Anda wanita dan berperan sebagai ibu, maka setarakan diri Anda dengan menjadi ibu yang benar-benar ibu. Ibu yang tidak waton mendidik tetapi mendidik nganggo waton. Jangan anggap kerja mendidik dan memasak itu hal yang rendah dan kurang intelek. Kita sebagai ibu sangat perlu mengupgrade diri akan ilmu psikologi anak, teknik memasak, dan manajemen keuangan.

Pastikan Anda menyentuh kebutuhan dasar – yang menjadi kekuatan sekaligus kelemahan- pria. Egonya. Cukup puji, katakan (secara verbal) bahwa dialah pahlawan Anda.  Ringkasnya, setarakan diri dengan meningkatkan kualitas mendidik, memasak, dan memenej Anda. Tak semua lelaki mampu melakukannya. Tak semua lelaki memiliki ketelatenan yang cukup.

Bila Anda pria dan berperan sebagai bapak, setarakan diri dengan menjadi bapak yang sungguh-sungguh bekerja, bekerja sungguh-sungguh. Jangan malas. Bila Anda ingin melihat istri Anda serius mendidik anak dan melayani Anda, seriuslah bekerja. Namun, buat apa kita terlalu sibuk mencari uang – yang kata Anda untuk anak istri – ternyata keluarga Anda kacau? Ingat, money can make you happy, but cannot buy happines.

Pastikan Anda memenuhi kebutuhan utama wanita, didengar. Cukup dengarkan sepenuhnya, jangan dipotong, jangan beri solusi bila tak diminta, dan tanggapi dengan kehangatan serta kestabilan emosi. Seimbangkanlah kontribusi Anda. Tak semua wanita mampu melakukannya. Tak semua wanita memiliki kearifan yang cukup. Itu tugas Anda, para lelaki.

Jadi, isu sebenarnya bukanlah bagaimana agar wanita mampu mengalahkan pria. Lalu apa? Kita lihat Nabi Adam dan Hawa. Mereka diturunkan ke bumi di dua tempat yang berjauhan. Berjuang bertaruh nyawa tuk bersatu kembali. Setelah bertemu, apa jadinya bila mereka menghabiskan waktu mereka tuk berebut peran,”Siapa yang berburu, siapa yang merawat rumah”?

Ingat, saat itu hanya ada dua manusia di kolong langit! Mereka harus bertahan hidup dari serangan alam liar sekaligus memperbanyak jumlah khalifah. Mereka terlalu sibuk ‘menaklukkan’ dan mengatur dunia sehingga berebut peran terlalu remeh baginya. Yang ada, mereka berstrategi. Mengkomunikasikan peran masing-masing dan menjadi terbaik di dalamnya. Karena sinergi dan saling memahami itulah Adam dan Hawa survive. Dan dengan itu pula kita juga akan survive hingga masa akan datang.

Penyetaraan gender mestinya bukan tentang wanita mengalahkan pria. Tetapi, tentang wanita dan pria bersatu melawan dunia.

Iklan

Satu pemikiran pada “Bekerja sama-sama, sama-sama bekerja

  1. Saya jadi kelingan. Meski bapak lebih jago dalam hal memasak, tetapi bukan lantas bapak yang masak setiap hari. meski masakan bapak lebih enak, tetapi bukan lantas ibu memasrahkan masak-memasak kepada bapak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s