Sabar Prorgresif

Sabar Progresif

“Dan jika ada di antara kamu seratus orang (penyabar), niscaya mereka akan mengalahkan seribu orang kafir.” (Sitaan Perang: 65). – Allah, Sang Maha Sabar

Sabar tak hanya tentang kemampuan menghadapi musibah. Ia juga kemampuan kita untuk melakukan ketaatan dan tidak melakukan kemaksiatan. Dari tafsir para ulama itulah, kita tahu bahwa sabar erat kaitannya dengan ini; daya tahan terhadap tarikan negatif. Pada musibah, tarikan negatifnya adalah sedih dan putus asa. Sabar terhadap kemaksiatan, berarti tahan terhadap tarikan tuk berbuat maksiat itu sendiri. Pada ketaatan, tarikan negatifnya ialah godaan untuk berhenti dan mundur dari jalan keunggulan. Pada tiga hal inilah kita tahu bahwa sebenarnya sabar memiliki sisi yang membuat kita terus melaju. Inilah sabar progresif. Inilah sabar para ksatria, para movers.

Bagi kita yang cenderung berwatak nrimo ing pandum, adalah mudah tuk mengapilkasikan sabar pada peristiwa pertama. Menghadapi musibah. Inilah apa yang sering orang sebut dengan adversity quotient. Kita sangat memerlukannya, tetapi bila tidak berhati-hati, fungsi ini akan menjadi bumerang. Anda bisa saja tahan dengan kemiskinan, tetapi sekaligus tidak ada keinginan untuk menjadi orang mampu. Ibarat mobil, kita terlalu betah mengerem sehingga kita tetap saja menjadi pihak yang dikasihani, lemah, perlu didorong. Padahal, Allah lebih suka mukmin yang kuat, kan?

Buktikan saja, Allah banyak mencontohkan kesabaran dalam Al-Quran, pada kisah-kisah peperangan dan ujian. Tidak hanya musibah. Karena memang dalam kondisi perjuangan, sabar lebih teruji. Bagi Anda yang pernah berkelahi, Anda akan pernah merasakan tarikan negatif ini. Takut, ingin mundur, bahkan pada tahap tertentu Anda ingin menangis meminta perlindungan orang tua. Seperti anak kecil. Kegiatan perploncoan melahirkan efek yang sama. Karena sebenarnya, keberanian adalah buah kesabaran. Ulama mengatakan,”Keberanian ialah sabar yang sesaat.”. Juga, ingatlah sabda nabi bahwa “Pintu surga itu ada di bawah kilatan pedang.” Nabi bukan mengajak kita untuk merekayasa perang agar meraih surga. Melainkan secara gamblang memahamkan kita bahwa, surga itu sangat dekat dengan orang-orang yang berani, orang-orang sabar.

Maka, kita perlu melengkapi fungsi kesabaran. Orang-orang yang bertekad kuat, tak mudah menyerah, tekun, sebenarnya penjelmaan orang-orang sabar progresif. Mereka tahan godaan untuk menyerah. Mereka enggan istirahat sebelum waktunya. Mereka menahan agar tidak cepat puas. Pun, merekalah orang-orang ceria. Ringan melawan tarikan kesedihan.

Orang-orang sabar biasanya rajin dan disiplin. Tidak membiarkan dirinya dikendalikan mood, tetapi merekalah yang mengendalikan mood. Kaum shabirin memiliki tirakat tersendiri. Mereka terbiasa menempa diri dengan tidak melakukan hal yang mereka suka  dan melakukan hal yang tidak mereka suka.

Dari pembiasaan diri itulah akan tiba saatnya para shabirin mudah saja melakukan hal yang tidak sesuai mood tetapi perlu dilakukan. Tidak membeli yang sekedar diinginkan, tetapi dibutuhkan. Itu contoh sederhananya. Mereka, menerima efek samping kesabaran: pengendalian diri. Tidak melakukan yang menghambat, menyegerakan hal-hal peletup keunggulan.

Lalu, apakah kekuatan sabar progresif? Cita-cita. Dengan memiliki cita-cita, tujuan, target yang jelas orang-orang sabar lebih terdorong tuk tidak berhenti sebelum waktunya. Maka, orang sabar terlatih untuk fokus dan konsisten. Menyelesaikan apa yang ia mulai. Kekuatan visi akan Sang “Ahad”lah yang membuat Bilal tahan siksaan. Kejelasan obsesi tentang surgalah yang membuat sahabat segera membuang kurma lalu terjun ke medan perang.

Tidak berprinsip “yang penting cepat kelar” saat ujian, itu sabar progresif. Tidak facebookan tanpa tujuan sebelum selesai tugas, juga demikian. Kesabaran adalah daya tahan. Betapa banyak orang yang awalnya beriman, gemilang, tetapi wafat dalam keadaan su’ul khatimah. Kesabaran memastikan kita tetap baik hingga akhir.

Kesabaran, membuat kelelahan lelah dan luluh mengejar kita. Sabar, menjadikan ketakutan takut menghadapi kita. Kesabaran, menyebabkan kemarahan marah, kesedihan berduka, dan kemalasan enggan  bila mendekati kita.

Kesabaran, ada pada pukulan pertama yang mengakibatkan kekebalan pada serangan berikutnya. Maka, pastikan kesabaran pertama kita ikuti dengan sabar kedua dan seterusnya. Bersabarlah dalam bersikap sabar.

Akhir kata, belum cukup dikatakan sabar bila baru menghadapi musibah ataupun tantangan. Sabar, baru layak disematkan bila kita juga segera berjuang menyelesaikannya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s