Ngalor Ngidul Ketemu Kritik – Seni Menghadapi Kritik (dan Pujian)

Menghadapi Kritik dan Puji

Setiap orang bodoh bisa mengkritik, menuduh, dan mengeluh; semua orang bodoh melakukan hal itu.” – Benjamin Franklin

Sebelum masuk ke What are the right ways, kita cermati what are NOT the right ways.

TERBURU-BURU MEMBELA DIRI. Langsung panik dan membela diri. Menyerang balik dengan mencari kesalahan pengkritik. Yang lebih tepat ialah, be vulnerable! Jadilah rentan untuk diserang –kali ini saja-! Lihatlah di film maupun di pertarungan nyata. Mana yang lebih ahli, petarung yang menurunkan perlindungannya, berkata,”Ayo sini kamu! Pukul aku!” atau yang ketakutan lantas meningkatkan perlindungannya?

TERBURU-BURU BIJAK! Ia dengan tergesa mengambil sikap,”Akan kujawab kritik dengan tindakan! Akan KUBUKTIKAN bahwa aku tidak seperti yang ia kritik!”. Terkesan heroik memang, tetapi itu bisa menjadi bumerang.

Contoh, Anda dikritik,”Kamu terlalu gemuk!” lalu, Anda dengan segera MEMBUKTIKAN PADA PENGKRITIK bahwa Anda tidak gemuk. Anda menjawab dengan tindakan, yakni diet. Tapi di akhir episode, Andalah yang merugi karena kritik itu tak tepat. Anda, ternyata, tak mengapa bila gemuk. Karena ternyata, Anda memang ingin menjadi atlet sumo! Memang benar, cara terbijak menjawab kritik ialah dengan tindakan, tapi tindakan yang seperti apa? Yang membuat kita menari karena tetabuhan orang lain? Kritik itu untuk memacu kita sampai pada tujuan, maka pilihlah kritik agar jangan sampai melencengkan kita dari tujuan. Kritisilah kritik. Bagaimanakah mengkritisi kritik itu?

Bersikaplah cool, dingin, sedingin-dinginnya. Emosi sangat mudah tergejolak karenanya, maka sikap dingin akan mampu meredamnya. Membuat kita tidak reaktif.

Perintahkanlah telinga Anda untuk mengembalikan kritik pada bentuk aslinya. Gelombang suara. Ya, sekedar suara. Tanpa muatan emosi apa-apa. Perintahkan telinga Anda untuk berkata,”Ah, ini hanya gelombang suara biasa.” Hakikatnya, kritik itu sama seperti gelombang suara yang berasal dari bunyi piring, kertas, kendaraan, pintu, dan semuanya. Atau, bila kritik itu berupa tulisan, pahamkan mata Anda bahwa mereka hanya tulisan. Tanpa makna apa-apa.

Perintahkan hati Anda untuk mengganti sumber pengakuan. Kritik memiliki pengaruh kuat bila hati menggantungkan pengakuan/ validasi dari orang lain. Semakin Anda bergantung pada sikap orang lain tuk menentukan sedih bahagia Anda, semakin mudah kritik mengontrol Anda. Tolok ukur besar tidaknya kebergantungan pada sikap orang lain ialah kebiasaan ini; pamer. Pamer adalah efek dari keinginan untuk MEMBUKTIKAN dan meminta PENGAKUAN pada orang lain. Gantilah sumber pengakuan kehebatan Anda dari orang lain menjadi Pencipta orang lain itu.

Jelaskan pada hati Anda, bahwa kritik itu membanggakan! Sebenarnya yang membuat mental orang down bukanlah kritik itu sendiri, melainkan pride, ego, rasa harga diri, kehormatan, kebanggaannya yang terserang. Maka, ubahlah sikap hati Anda. Kritik itu membanggakan. Karena hanya orang-orang yang memiliki karyalah yang dikritik. Andalah orang yang telah bertindak itu. Andalah sang pengkarya. Memang ada orang yang dikritik karena tak berkarya apa-apa. Tapi, saya yakin Anda bukan golongan itu. Anda, sekeyakinan saya, sudah berkarya, hanya saja masih ada yang mengkritik. Dan itu, sekali lagi, membanggakan.

Setelah memerintahkan alat indra; sarana input informasi, memerintahkan hati; pemberi warna informasi, selanjutnya kita perintahkan akal; pengolah informasi. (Perhatikan, kritik itu hanya informasi, tak lebih!) Jangan pernah mengiyakan atau menidakkan kritik sebelum Anda secara objektif menilainya. Pastikan, Anda tidak memberi penilaian apa-apa sebelum alat indra dan hati melakukan tugasnya masing-masing. Anda tidak akan objektif tanpanya.

Mintalah waktu, menyendirilah, mendinginlah. Lalu, segeralah respon. Kelambanan respon atas kritik hanya akan menimbulkan kritik baru. Saya juga yakin logika Anda sudah mampu melahirkan respon yang tepat. Hanya, emosi negatif masih mengganggu sehingga Anda tak mampu menunjukkannya. Itulah guna mendingin dan mengambil jarak sejenak.

Pada tahap ini, bersikaplah hangat, sehangat-hangatnya. Saya yakin sikap Anda sudah benar bila melakukan tiga perintah tadi. Maka, kemaslah dengan kehangatan. Bila Anda berhasil, mereka yang mengkritik akan berbalik memuji Anda.

Omong-omong tentang pujian, prinsip menghadapinya sama. Lakukan “pendinginan” lalu “penghangatan”. Mengapa pujian perlu “didinginkan”? Karena, ia sebenarnya serigala berbulu domba di dunia pengembangan diri. Ia, bisa menjadi alat motivasi. Tetapi bila kita tergantung pada pujian ORANG LAIN, kita akan berakhir tragis menjadi orang yang tak punya prinsip. Kita bisa juga terlena karenanya. Maka, dinginkanlah, kembalikanlah pada pemilik pujian, Allahul Hamid.

Iklan

3 pemikiran pada “Ngalor Ngidul Ketemu Kritik – Seni Menghadapi Kritik (dan Pujian)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s