Bertanya “Mengapa” Tiga Kali

Bertanya Mengapa Tiga Kali

The question is always “why”. – Kevin Mitnick, a computer security living legend

Saat rapat online tanggal 16 kemarin, ada salah seorang peserta rapat menulis seperti ini,”Banyak masalah gagal terselesaikan bukan karena tidak adanya solusi. Tetapi tidak tepatnya perumusan masalah.”  Pernyataannya mengingatkan saya pada apa yang saya sampaikan ke adik-adik rohis sewaktu mentoring beberapa waktu lalu. Yakni, tentang bertanya “mengapa” sebanyak tiga kali.

Pertanyaan “mengapa” ini sangat berguna untuk mendefinisikan masalah. Dengan bertanya MENGAPA kita makin akurat APA masalah sebenarnya. Pada waktu itu Anwari, salah seorang pengurus Forisma, mengusulkan diadakannya tadarus antara guru agama – pengurus minimal seminggu sekali. Mari kita terapkan teknik 3x mengapa ini.

“Mengapa” pertama – Mengapa diadakan tadarus?

Jawab: Karena musola nampak sepi.

Faktor “Apa” pertama – Meramaikan masjid

“Mengapa” kedua – Mengapa musola sepi?

Jawab: Karena tidak ada kegiatan Rohis

Faktor “Apa” kedua – Memperbanyak kegiatan Rohis. Dari sini mulai kelihatan perubahan “APA”. Tadinya ingin meramaikan masjid, menjadi memperbanyak kegiatan Rohis. Beda sekali meramaikan masjid dengan memperbanyak kegiatan Rohis. Bisa saja memperbanyak kegiatan Rohis tanpa harus meramaikan masjid. Seperti biasanya pengajian di SMA sering diadakan di aula. Bukan di masjid karena daya tampung masjid kurang.

“Mengapa” ketiga – Mengapa kegiatan Rohis kurang?

Jawab: Karena menurut pemahaman pengurus, program kerja Rohis ya masih berfokus pada peringatan hari besar agama.

Faktor “Apa” ketiga – Meluruskan pemahaman pengurus tentang program kerja Forisma. Nah, sudah jelas kita makin akurat dalam mendefinisikan masalah. Ternyata masalahnya bukan musola yang sepi. Tetapi masih kurang mendalamnya pemahaman anggota Rohis. Jadi, langkah yang lebih tepat adalah meluruskan pemahaman. Bukan langsung mengadakan tadarus.

Bila pengurus sudah paham bahwa program kerja Rohis tidak hanya saat peringatan hari besar agama, inisiatif mereka akan muncul. “Oh, ternyata bukan Cuma pas hari besar agama aja to. Ya udah yuk bikin tadarus, rihlah, bla bla bla.”

Memang sih, bagi yang terbiasa langsung memikirkan teknis-kongkret-implementasi solusi, pendefinisian masalah ini akan terasa merepotkan. Tapi, sebanding dengan efektivitas solusi itu sendiri. analisis akurat, menghasilkan implementasi nan efektif pula.

Sering, kita hanya memerlukan solusi sederhana. Seperti contoh lain. Astronot AS mengeluh tidak bisa menulis memakai pulpen biasa di luar angkasa karena tiadanya gravitasi. Maka teknolog menciptakan pulpen khusus yang berbiaya tinggi. Sedang pihak Rusia menyelesaikannya dengan cara sederhana. Memakai pensil!

Nah, bagi para praktisi-implementor, teknik ini cocok untuk melatih analisis. Kalau mau ingin lebih rumit lagi, pikirkan rekursifitas ini. “Mengapa kita bertanya “mengapa”?” Tiga kali pula. Mengapa tidak bertanya “bagaimana” atau “di mana” atau “siapa”, dsb?

Iklan

4 pemikiran pada “Bertanya “Mengapa” Tiga Kali

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s