Kiblat Kilat – Putus Rantai

Setelah kemarin kehilangan helm, sekitar dua atau tiga hari berikutnya saya keputusan rantai (maksudnya, rantai motor putus). Padahal rantai baru aja diganti sekitar dua bulan. Kenapa bisa cepat putus? Kalau dirunut, seperti ini. Saya mendapat info bahwa cara merawat rantai adalah diberi oli. Oli yang dimaksud di sini oli bekas alias “gemuk”. Tapi, saya mendapat info lain bahwa rantai itu jangan diberi “gemuk” karena justru akan mempercepat kerusakan. Maka, saya putuskan untuk tidak menggemuki rantai motor.

Ringkas cerita, motor masuk bengkel lagi. Mas Teknisi menganalisa bahwa rantai saya kurang digemuki. Lhadalah. Katanya kalo digemuki bikin rusak, tapi kenapa ini putus karena tidak digemuki? Sampai saya baru sadar hal sepele. Bahwa saya hanya menangkap setengah dari tips “jangan digemuki”.

Tips “jangan digemuki” ini ternyata unsurnya seperti kalimat tauhid. Diawali dengan peniadaan/ an-nafyu (tidak ada Tuhan), lalu dengan peng-itsbat-an (selain Allah). An-nafyu di sini analog dengan “jangan diberi gemuk!” sedang al-itsbat analog dengan “beri pelumas khusus rantai!”. An-nafy aja atau al-itsbat saja, tidak bisa disebut tauhid. Maka, keputusan saya untuk sekedar tidak menggemuki, tidak bisa disebut merawat rantai!

Lalu, hubungan antara “gemuk” dengan pelumas khusus rantai ialah hubungan substitutif. Dengan pelumas khusus rantai menempati prioritas utama. Kalau tidak punya pelumas khusus rantai, pakailah gemuk. Kalau anda memilih tidak memakai gemuk, diasumsikan Anda punya pelumas khusus.

Gimana, sudah cukupkah pelajaran mantiq kali ini?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s