Relativitas Sebuah Fakta Kehidupan

kemarin judulnya “Masih Bingung Dijuduli Apa”. Tapi sekarang sudah ada judul. Matur nuwun Mas nanang.
Bila kamu seorang selebritis, kamu bisa memantau gosip-gosip tentangmu di infotainment. Keuntungannya, kau bisa segera sadar bahwa ada pihak yang salah paham tentangmu. Lalu kau bisa dengan kalem mengadakan konferensi pers atau sekedar mendatangi pihak yang salah paham. Tapi kau ini manusia biasa. Tak ada wartawan yang sudi menelisik kehidupanmu. Terlalu remeh hidupmu baginya.

Tapi sebiasa-biasanya kamu, setidak populernya kamu, pasti pernah ada orang yang salah paham dengan kamu, kan? Kau ingin tahu apa yang sebenarnya pendapat orang tentangmu. Kau ingin tahu seperti apa kamu di mata mereka. Kau ingin mendengar apa yang mereka gosipkan tentangmu.

Lalu bayangkan saja bila kau dikaruniai kesaktian. Mampukan mendengar orang-orang yang sedang mbatin kamu. Mendengar gunjingan-gunjingan mereka secara realtime di telingamu. Kau akan terkejut saat kau duduk santai tiba-tiba terdengar suara temanmu sedang membicarakanmu. Kau mendengarnya dengan jelas, meski mereka berbisik. Meski mereka tak di hadapanmu.

Mungkin kamu merasa senang. Bisa mendengar salah paham mereka terhadapmu tetapi tetap berkepala dingin. Lalu kau bisa dengan bijak mengambil langkah klarifikasi. Sehalus mungkin sehingga mereka tak salah paham lagi. Mereka tak lagi membuang waktunya tuk sekedar menggosipkan sosok tak penting sepertimu.

Tapi kenyataannya, tidak semudah itu. Yang ada, hatimu akan bergejolak begitu mendengar itu semua. Dipahami dengan baik ialah kebutuhan dasar tiap manusia. Maka, setiap kesalahpahaman () akan dirinya pasti menimbulkan ketidaknyamanan dan ketidakamanan.

Sekali dua kali mungkin kau senang dan tenang mampu mendengar yang biasanya tak terdengar itu. Tapi lama kelamaan, alih-alih tenang dan tidak reaktif, kau akan segera pasang kuda-kuda tuk berkata,”Aku tidak seperti itu!” Kau akan memilih tuk tidak tahu kesalahpahaman mereka. Seperti dulu.

Karena sungguh, tahu bahwa kau disalahpahami akan membuatmu lelah. Kau akan lelah menahan dorongan untuk mengklarifikasi. Yang kedua, kelelahanmu juga bersumber dari keterkejutanmu. Kau terkejut bahwa ternyata orang-orang kepercayaanmu, bahkan KELUARGAMU sendiri menggunjingkanmu!

Bila musuhmu menggunjingmu, wajar saja. Bila orang kepercayaanmu kau dengar sendiri justru menuduhmu yang tidak-tidak, barulah jiwamu terguncang. Terlebih bila kakak adikmu, atau ayah ibumu sendiri yang melakukannya. Kau jadi tahu bahwa mereka yang kau kasihi ternyata tidak mempercayaimu. Mereka yang tak kau curigai justru sangat curiga padamu. Kau mendengar sendiri mereka yang kau titipi rahasia, justru membocorkan rahasiamu. Efeknya, kau tak lagi percaya pada orang-orang terdekatmu. Tak ada rasa saling percaya dalam keluarga, itulah neraka dunia.

Sekedar info, kamu bisa memperoleh ‘kesaktian’ yang kuceritakan ini dengan sangat-sangat menjaga lisan dan telingamu dari mengucap maupun mendengar ghibah. Tapi kau harus siap tuk tetap sangat tenang dengar semua gonjang-gunjing. Bila tidak, hidupmu akan dikelami dengan tiadanya rasa percaya pada orang lain termasuk ibumu. Maka, bersyukurlah kamu yang tak selalu mendengar gunjingan orang padamu. Ketidaktahuanmu akan salah paham orang lain itu, akan membuatmu lebih tenang. Lebih fokus pada pembaikan dirimu. Tidak sibuk ralat sana-sini. Maka, jagalah lisan dan telingamu. Tanpa mengharap kesaktian tertentu.

Iklan

3 pemikiran pada “Relativitas Sebuah Fakta Kehidupan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s