Kota Mungkid sebagai Kota Kebudayaan

 Kab. Magelang sebagai Kota Budaya

Khazanah Jawa sangat penuh dengan simbol. Kaum Jawa mencari arti dibalik simbol, mencari simbol dibalik arti. Seperti macapat yang disebut dengan “sekar” alias “kembang”. Seolah bermakna bahwa hidup itu berkembang. Mulai dari lahir yang disimbolkan Mijil, lalu menjadi muda, enom alias Sinom untuk wanita dan Maskumambang untuk pria. Pria dan wanita pada fase kehidupan tertentu akan meluluh dalam Asmara-ndana. Peluluhan makhluk mulia ini akan melahirkan kebijaksanaan sehingga mampu membedakan mana gula, mana manisnya nDandang-gula. Mana sebab mana akibat, mana peristiwa mana hikmah, mana inti mana bumbu masalah.

Berlanjut pada Durma, yakni langkah munDUR tapi Maju. Pangkur, yakni lalu menyungkurkan diri. Bila ia pejabat, ia telah melakukan suksesi. Diikuti Gambuh yang penuh dengan nuansa kekosongan. Pikirannya kembali ke titik nol, (seolah) tak tahu apa-apa (Embuh). Lalu Megat-ruh yakni mampu membedakan mana ruhani nan suci dengan dorongan “tanah” yang menistakan. Dengan selalu mengikuti dorongan ruhani ini, jiwanya selalu dinanti-nanti para makhluk langit (Kinanthi). Ia telah (siap) “mati” sebelum mati. Bila sudah begini, tak masalah bila tubuhnya di-Pucung nanti.

Masih ada penafsiran lain tentang nama macapat tadi. Karena memang orang Jawa itu bisa ngalor ngidul ketemu kiblat dalam menafsirkan segala yang ada di jagad. Lalu, apa hubungannya dengan judul tulisan ini?

Pak Singgih menyatakan Kota Mungkid sebagai Ibu Kota Pemerintahan Daerah Kab. Magelang memang tidak didesain untuk keramaian. melainkan Kota Budaya. Nah, biasanya orang begitu mendengar “budaya” lantas terjebak pada PENINGGALAN budaya baik yang terlihat maupun tidak. Baik itu candi, pakaian tradisional, dsb. Padahal, budaya sendiri bermakna hasil cipta rasa karsa yang tentu selalu berkembang. Maka, deklarasi Kota Mungkid sebagai Kota Budaya mesti diiringi dengan kesadaran PEMBENTUKAN budaya.

Orang, wisatawan khususnya begitu melihat kota budaya bukan hanya dari tempat wisatanya. Tetapi dari perilaku aparatur pemerintah, warga sekitar, dan pola hidupnya. Bila orang-orang di Kota Mungkid malas tertib buang sampah misalnya. Maka, orang bisa mengecap Kota Mungkid sebagai Kota Budaya Jorok. Bila orang-orang di situ lamban, gelar lebih tepatnya ialah kota Budaya Lamban. Begitu juga sebaliknya.

Perspektif kekinian pada tafsir kota budaya inilah yang ingin saya tekankan. Supaya orang tidak terjebak pada budaya yang hanya terbatas pada masa lalu sehingga kini tidak melakukan apa-apa. Menganggap budaya itu sudah selesai dipahat. Padahal, proses itu terus berjalan.

Iklan

3 pemikiran pada “Kota Mungkid sebagai Kota Kebudayaan

  1. Mencari Arti itu katanya Artos. Apa hubungannya ya? Setau saya di Mungkid itu masih lumayan kental dengan “ngaret” terbukti di sekolahan belakang kantor kabupaten itu sering saya jumpai pada telat, mingkin karena Mungkid itu dekat dengan Karet kali ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s