Tragedi Sahur

Tragedi Sahur

Bila Anda menduga tulisan ini akan berkisar kisah ketinggalan sahur, Anda benar. Tapi, bila Anda mengira tak ada pelajaran mengasyikkan dari itu, baca sampai selesai. Lalu, bila Anda menduga Anda bisa menduga-duga pelajaran baru apa yang akan Anda dapat hari ini, Anda salah duga! Seperti saya tak bisa menduga rasa nasi goreng buatan saya sendiri.

Ramadhan baru ada lima hari, kami sekeluarga sudah tak sahur dua kali berturut-turut. Hari ke lima ini dan sehari sebelumnya. Semua bermula dari penggantungan diri saya kepada ibu. Selama ini beliau yang bertugas memberes segalanya. Bangun paling awal, memasak, lalu membangunkan kami, dan tidur paling akhir.

Saya lupa (dulu pernah ingat) bila keadaan sudah berubah. Kakak pertama pindah ke rumah istri. Bahkan, sudah dua Ramadhan ini ia tak sahur karena memang tak menyukainya. Dia mengubah sahur menjadi makan larut malam tuk kemudian tidur hingga subuh. Kakak kedua saya sudah pindah ke rumah suaminya. Kakak ketiga jangan ditanya, meski ia perempuan, justru saya yang sering membangunkan sahur. Saya baru kembali ingat bahwa saya kini memegang posisi penting dalam ritual sahur di keluarga. Motivator sahur!

Kegagalan sahur pertama saya tak begitu menyesalinya. Saya tidur terlalu larut. Tapi tuk kegagalan yang kedua, membuat saya merasa seperti keledai (Dan tentu kelaparan!) sepanjang hari. Tadi malam saya tidur terlalu larut. Hingga sebenarnya sudah masuk waktu sahur. Saya masih ingat saya mulai tidur saat ada pengumuman dari masjid kampung sebelah,”Sakmenika sampun jam setengah tiga. Sauur … sauuur .sauuuur… ”. Itulah ironi hari ini. Ajakan sahur justru terdengar,”tiduuurr… tiduuur… tiduuuurr.” Sehingga saat terbangun, melihat jam, sadar ketinggalan sahur lagi, kepala saya (seolah) berubah menjadi kepala keledai!

Saya merasa begitu bodoh karena sebenarnya lima belas menit sebelum peringatan sahur itu dibunyikan, saya telah gelisah. Akankah saya tidur mengingat sebentar lagi waktu sahur? Tidakkah saya akan bertahan beberapa menit lagi tuk membangunkan ibu? Ya, saya hampir ingat tugas penting saya. Tapi saya mendadak tenang hingga tidur nyenyak karena mengira ibu saya telah bangun. Betapa tidak, dari kamarnya terdengar deritan dipan beberapa saat setelah peringatan sahur dikumandangkan. Saya berprasangka baik itu gerak-gerik ibu yang akan bangun tuk segera memasak yang enak untuk kami sekeluarga.

Itulah, yang namanya baik sangka belum tentu tepat sangka. Ternyata deritan itu ulah Bapak membetulkan sarung dan selimutnya. Sedang Ibu, masih nyenyak di alam sana. Inilah dampak negatif dari berpikir positif. Kita terlalu percaya semua akan berjalan baik-baik saja. Kita menjadi bergantung pada orang lain. Bukan lagi sebatas mengandalkan orang lain. Beda.

Saya juga baru (kembali) sadar durhaka kecil pada orang tua. Memperlakukannya seperti pembantu! Saya ini berkepala dua (maksud saya, usia saya) satu bulan lagi. Kenapa masih manja!? Maka, dari sini terlahir tekad tuk menumbuhkan rasa malu menjadi benalu. Saya harap Anda tak berprasangka positif saya akan berhasil begitu saja. Anda dan saya sendiri tentunya perlu mengecek tekad ini setiap saat.

Bila Anda tak meyakini nasehat tuk tidak mendewakan positive thinking, tak mengapa. Nasehat itu muncul saat perut dilanda kegalauan. Sudah jamak diketahui, logika tak jalan tanpa logistik. Yang jelas, di sepanjang kelaparan hari ini, terngiang-ngiang nasihat Mbah Habibie. “Percaya itu perlu, tapi (menge)cek lebih perlu!”

NB: sebenarnya saya masih ingin menuliskan pelajaran lain yang didapat akibat tragedi sahur ini. Tapi yah, saya terlalu lapar untuk menjelaskannya. Jadi, fokuskan saja pada,”Jangan mudah percaya!” Nasihat ini sulit dipercaya? Percayalah!

Iklan

2 pemikiran pada “Tragedi Sahur

  1. Lho Ramadhannya belakangan to Kang?
    Setiap teori apapun yang berlandaskan logika atau apapun jenis keilmuan, masih terbatas pada konteks ruang dan waktu yang paling tepat! termasuk soal positif thinking, percaya kpd orang lain, dan lain-lain……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s