Batak VS Jawa . No SARA. baca dulu :)

lagi latihan bikin cerita. Harap maklum masih jelek 🙂

Batak Jawa Sama-sama Indonesia, sama-sama . . . .

“Pak, kalau mau perpanjang, harus bawa kartu ya?”,tanyaku pada pak pustakawan. Ia mirip sekali dengan kepala SD ku dulu. Pak Giharjo. Jadi kali ini, sebut saja ia Pak Jo. Pak Jo itu, berperawakan kurus, berkulit kuning dengan beberapa kerutan di siku dan wajah tanda usianya. Kumisnya serasi dengan kacamata. Tak bisa kukira-kira perbandingan tingginya karena terakhir bertemu sewaktu SD dulu. Delapan tahun lalu.

Aku kembali ke ruang baca yang sedang cukup ramai dan berantakan. Aku tak membawa kartu anggota meski dulu saat masih SMA selalu kusimpan dalam dompetku. Beberapa waktu lalu kulakukan perampingan isi dompet. Kukeluarkan kartu-kartu nama, keanggotaan, dan lainnya yang sudah jarang terguna.

Selain itu, aku tak berencana ke perpus kota. Spontan saja. Resikonya, aku belum bisa meminjam buku saat itu juga. Aku harus kembali lagi esok pagi. Tapi, kalau dipikir-pikir, cukup memalaskan bolak-balik Magelang di liburan macam ini. Hasratku juga telah terbakar tuk segera mengunyah buku incaranku. Membacanya dengan posisi yang nyaman, tiduran. Maka, kubulatkan tekad untuk bernegosiasi dengan “Pak Jo”. Semoga saja aku bisa memperpanjang keanggotaan meski tak membawa kartu yang lama. Pengorbanan tidak ringan agar bisa membaca sambil tiduran dengan segera.

Tapi, bukankah itu berarti aku membujuk Pak Jo tuk melanggar aturan? Aku ini Komandan Komisi Disiplin! Aku pun seorang muslim yang dilatih taat syari’at. Termasuk puasa Ramadhan yang kujalani tanpa sahur siang itu. Tak pantas tentu aku melanggar aturan. Apalagi mengajak orang. Amar munkar namanya.

Namun, beginilah. Di sini penegak aturan pun tak peduli dengan apa yang mesti ditegakkannya. Lebih-lebih pelanggaran ringan macam ini. Namun, jangan buru-buru mengambinghitamkan setan tuk tiap pelanggaran yang kita lakukan. Sudah jadi rahasia umum bahwa tuk melakukan “dosa” macam ini, tak perlu godaan setan. Itu sudah kebi(n)asaan.

Akhirnya aku berjalan kembali ke ruang peminjaman. Mungkin lebih tepat disebut “tempat” peminjaman. Tata letaknya mirip tempat penitipan jaket di swalayan. Meja, komputer penelusuran di samping kanan, dan loker di sisi kiri. Semuanya bernuansa coklat. Ada sekitar 10 kartu anggota ditata di sana. Mengingatkanku pada kartu penitipan.

Cukup kaget diriku kala tak kulihat Pak Jo sedang situ. Hanya ada ibu-ibu galak yang setiap aku ke sana, kuusahakan terhindar dari pelayanannya. Kali ini aku harus menghadapinya. Begitulah, saat rencana tak sesuai realita, kita harus tangkas. Mundur sejenak atau segera berimprovisasi cerdas. Kuncinya, tetap tenang. “Aku harus siap menaklukkan ibu galak ini di meja perundingan sekalipun!”tekadku lebay.

Lalu, dengan tenang kuhampiri pos ibu-ibu tadi. Kusampaikan kembali keinginanku dalam urusan panjang memanjang ini. Dengan makin tenang tentunya. Kau bisa melihatnya dari tempo bicara dan ekspresiku. Lalu syubhat itu, terjadilah –mengapa tak jadi kusebut dosa, akan kuceritakan kemudian –. Keanggotaanku berhasil terperpanjang. Memang bukan Pak Jo oknumnya, tapi ibu-ibu galak tadi.

Kusinyalir ia bersuku Batak. Tak begitu tinggi dan masih paruh baya. Aku tak tahu namanya, yang kudengar hanya logatnya yang sangat keBatakan. Wajahnya juga bergaris batak. Sedang aku, entah berwajah njawani atau tidak, yang jelas memiliki nama dan logat yang identik dengan jawa. Terlahir dari rahim orang Jawa, besar di Jawa. Sudah memenuhi syarat menjadi orang Jawa menurutku. Jadilah adegan Batak melayani Jawa. Lalu, seperti apa negosiasi antara dua suku terbesar di dunia ini?

Aku sudah berkali-kali melihatnya membentak orang. Aku sudah menyiapkan telinga dan hati. Juga jangan lupa, sekitar dua minggu sebelumnya aku sudah membentak-bentak orang. Sekelompok orang malah. Terlebih itu temanku sendiri. Memang itu yang perlu kulakukan tuk pembinaan mental rekan-rekan Komdis. Jadi, aku sedikit banyak sudah tahu celah psikologis pembentak dan terbentak.

“Bukannya tadi sudah tanya ke Bapak-bapak yang tadi!” sambutnya dengan nada tinggi seperti biasa. Aku tahu ini hanya mekanisme pertahanannya. Lebih tepatnya, itu hanya logatnya. Aku yakin kalau kita tetap teguh, tidak keder, tembok juteknya akan runtuh hanya dalam beberapa detik. Itulah yang terjadi.

“Iya, bu. Makanya saya ingin tanya lagi, ngecek apa aja syaratnya.”

“Ya, kalau saya sih ga bawa kartu ga apa-apa sebenarnya.”,lanjutnya memberi penjelasan. Tentu ia sampaikan dengan bahasa tubuh yang berbeda 180 derajat dari menit sebelumnya. Suaranya mendadak lirih, pandangannya ke bawah, dan sedikit membungkuk.

Dari sini aku makin PD karena menemukan celah. Senyum licik kemenangan sempat terukir di wajah. Sekian detik saja. Harus segera kupasang kembali tampang elegan khas priyayi. Inilah unsur penting dalam negosiasi khas orang Jawa, permainan ekspresi!

“Ya udah, berarti bisa sekarang kan?”, sambil kusiapkan foto berwarna dan uang tiga ribu rupiah. Perhatikan kalimat tadi. Asertif. Ada penekanan perintah untuk “bisa” dan dilakukan “sekarang”. Pemilihan kata harus tepat untuk mempengaruhi bawah sadar lawan bicara kita.

Dari situ kau harusnya tahu mengapa aku mengubah fatwa dari “dosa” menjadi “syubhat”. Karena menurut “umara’” yang satu, tindakanku ilegal, sedang kata umara’ Batak ini, legal-legal saja. tak jelas halal-haramnya. Yah, aku sendiri tak mendapat penjelasan aturan bakunya. Menurut pemerintah. Bukan menurut petugas pemerintah.

Sambil menunggu, aku makin menguatkan penilaianku pada Nyonya Batak. Ia memang hanya tampak galak. Ia sebenarnya tak tegaan. Bagiku, galaknya itu juga menunjang tugas negaranya. Mulia, bukan? Apa jadinya bila semua pustakawan di sini menjunjung ewuh pekewuh. Takkan ada yang berani menegur pengunjung yang mencoba membawa tas ke dalam ruang baca. Takkan ada yang berani mendiamkan (membuat diam) pengunjung yang terlalu ramai. Itu semua, menurut pengamatanku selama ini, menjadi tugas Nyonya Batak. Ia tampaknya tak menyesal berperan menjadi sosok yang ditakuti. Tak jadi soal menurutku karena nyatanya, tuk menegakkan kebaikan pun kita perlu sosok angker. Manusia itu perlu ditakut-takuti!

Lihat lagi sensitifitas Nyonya Batak saat ada pengunjung yang terkena denda. Dendanya cukup tinggi bagiku karena yang terdenda ialah siswa SMA. Mungkin uang sakunya terbatas. Nyonya Batak memberi diskon lebih dari 50 % (mungkinkah malaikat juga memberi diskon dosa atas “kebaikan” Nyonya ini?). Harusnya Rp 12.000,00, siswi tadi hanya membayar lima ribu saja! Kembali Nyonya Batak menunjukkan kejawaannya. Tak enak hati. Mungkin hasil pergaulannya selama ini.

Aku prihatin sebenarnya –entah aku langsung teringat Pak Presiden karena kata “prihatin”- aku sangat berharap Nyonya Batak tetap teguh memerankan diri sebagai penegak disiplin. Tak perlu galak, yang penting disiplin. Karena pengunjung perpus ini berdasar statistik yang terpampang, sebagian besar pelajar. Perpus sendiri tentu tempat belajar. Harapannya, perpustakaan tak hanya menjadi tempat belajar kognitif, tetapi juga afektif dan psikomotorik –aku juga tak tahu apa artinya–. Perpustakaan perlu mengajarkan kedisiplinan.

Yang perlu digarisbawahi, menjadi perpus yang “ketat” bukan berarti menjadi perpus yang angker. Bukan perpus yang mengharuskan kamu diam membisu meski sedang membaca cerita lucu. Tapi yang melatih pengunjung tuk disiplin mulai dari urusan sederhana macam menulis buku tamu, mengembalikan tepat waktu, membayar denda tepat bea, dan menjaga kerapihan buku. Atau, sekedar menata kembali kursi yang menjadi panas karena pantatmu terlalu lama di sana. Sebenarnya, saya ingin dididik seperti itu.

Aku berharap ditunjukkan pasal-pasal tentang aturan perpanjangan. Aku mengingin pengajuanku ditolak bila itu memang pelanggaran. Aku ingin aturan ini tetap tegak. Maka, tunjukkan yang mana aturan yang benar. Sungguh, aku menyukaimu karena kelonggaranmu, tapi aku kan sangat menghormatimu, Nyonya Batak, bila kau tegakkan aturan, setegak alismu itu.

Akhir cerita, tak bijak kita langsung memasang cap “galak” di dahi orang-orang Batak. Padahal, itu hanya cara bicara yang standar di sana. Terlalu positive thinking juga bila orang Jawa dianggap lebih halus, jauh dari galak. Meski begitu, ada satu kesamaan antara Batak dan Jawa. Sama-sama bangsa Indonesia. Dan karena itu, sama-sama suka …. melanggar aturan! Ah, semoga yang terakhir ini hanya su’udzon ku saja.

NB: harap maklum kalau jadi cerita, di perpus saya meminjam buku “Berguru Kepada Sastrawan Dunia” Isinya ya gimana berlatih mencerita dari hal-hal sederhana macam ini. 😀 Sambil menunggu peminjaman tadi itu pula, saya terpacu tuk mengisahkan Nyonya Batak 😀

Iklan

4 pemikiran pada “Batak VS Jawa . No SARA. baca dulu :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s