Nasehat

Nasihat

Berbicara nasihat, paling tidak ada tiga hal yang perlu kita amati. Apa, bagaimana, dan siapa. “Siapa” memberi nasihat “apa” dengan cara “bagaimana”. ”Apa” memiliki hak patuh tertinggi. Tak peduli siapa yang menyampaikan, bagaimana caranya, asalkan nasihat itu benar, itulah yang kita patuhi.

“Ambillah hikmah meski ia dari anjing berlumur nanah.” “Jangan lihat siapa yang mengatakan, tapi apa yang dikatakannya.” Dua ungkapan tadi sudah melegitimasi faktor apa. Lalu, ungkapan,”Kritik itu bagai obat. Pahit tapi menyembuhkan.” Menggamblangkan pada kita bahwa nasihat tak selalu disampaikan dengan nada-nada merdu. Kritik, hinaan, cibiran, adalah “rasa” lain dari nasihat.

Tapi memang ironis. Si “Apa” ini memang sering kita alpakan. Sering kita alami sendiri kalimat, “Sebenarnya, kalau kamu menyampaikan kritikmu dengan cara halus, aku akan mematuhinya.” Bukti bahwa ketidaksukaan kita pada “bagaimana” nasihat itu disampaikan, menjadi tabir diri tuk mematuhi faktor “apa”. Bukan karena kita tidak tahu faktor apa sebenarnya benar. Kita menyadari kebenarannya. Hanya memang begitulah perasaan manusia. Ia bagai penjaga pintu yang hanya peduli pada tamu-tamu yang datang lewat pintu yang disukainya. Tak peduli tamu itu membawa berkah atau musibah baginya.

Hak patuh terendah dimiliki “Siapa”. Tapi secara de facto kita tahu sendiri bahwa Siapa lebih kita dengar. Siapa ini menjadi kuat karena apa dan bagaimana. Tapi setelah kuat, Siapa ini bisa mengalahkan bagaimana dan apa.

Contoh, Anda akan dipatuhi anak buah karena dari segi apa, nasihat anda masuk akal. Nasihat Anda yang rasional membuat dia PERCAYA pada Anda. Dari segi bagaimana, saran Anda sangat sesuai kondisi hatinya. Cara Anda bertutur yang tak melukainya, membuat dia SUKA. Begitu berulang-ulang hingga Percaya dan Suka itu bereaksi menjadi KULTUS. KULTUS inilah yang menimbulkan kepatuhan.

PENGKULTUSAN “siapa” inilah yang mengaburkan ternasehat (orang yang dinasihati) dari kebenaran “apa” dan keindahan “bagaimana” nasehat Anda. Ia sudah percaya penuh tanpa penolakan. Jama’ah Lia Eden tetap “beriman” meski nubuwah Lia tentang bencana di Jakarta salah total. Mereka menganggapnya sebagai ujian keimanan. Kita juga bisa memaklumi kegalakan Ayah karena kita tetap percaya itu dilakukan untuk kebaikan kita.

Demi menghindari hal ini, Abu Bakar dan Umar telah memberi teladan.”Aku khalifah, tapi bila khilaf, jangan kalian patuhi.” Ini untuk mengembalikan akal sehat muslimin yang terbuai kekaguman pada pemimpin mereka. Kedua khalifah tadi telah memindahkan  faktor “siapa”. Dari mematuhi mereka apapun perintahnya, menjadi mematuhi Allah apapun perintahnya. Untunglah itu berhasil. Bila tidak, para Khalifah mungkin mangkel pada kawulanya. Seperti mangkelnya kita pada adik kita yang terus membuntuti meski sudah kita larang. “Dibilang jangan ikut kok masih ikut-ikut!”

Hanya Allah-lah yang paling layak kita jadikan “siapa” dalam penerimaan nasihat. Hanya Allah-lah yang integral antara unsur siapa, apa dan bagaimana. Kalau Allah yang memberi nasihat, pasti benar meski tak masuk akal. Pasti tepat caranya meski tak kita suka.

Namun, nasehat Allah yang pasti tepat ini, bisa kita salah pahami. Ibaratnya, tulisan sudah benar, tapi kita salah baca. Mengapa salah baca? Karena kita masih mempersilakan “siapa” yang lain untuk masuk. Termasuk kita mempersilakan kultus pada kiai atau ustadz yang tak lepas dari kesalahan. Lebih-lebih, bila kita sering memilih nafsu diri menjadi “siapa”. Tidak ketinggalan, akal juga sering kita tempatkan menjadi Tuhan.

Maka kita perlu mempreteli hijab-hijab “siapa” ini. Bersyukurlah Allah memberi instrumennya. Allah telah meniupkan Ruhnya pada jasad kita. Ruh inilah “yang tahu”. Tahu dengan tepat 100% apa nasehat Allah untuk kita. ia tak pernah dusta. Penangkapan pesan ilahiahnya tak tercemari nafsu.

Nah, sekarang saya sedang memberi Anda nasihat. Jangan sampai nasehat yang saya maksudkan untuk menjernihkan ini justru mengeruhkan, menjadi hijab. Jangan ditelan mentah-mentah. Nasehat ibarat papan petunjuk jalan, bukan jalan itu sendiri. Jangan asyik menatap petunjuk jalan. Jalanilah petunjuknya. Pakailah bashirah!

Lalu, bagaimana cara kongkretnya? Haduh, bukankah sudah cukup jelas. “Di dalam manusia itu ada bashirah (yang tahu)”. Masak ga tahu?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s