Mbak Nirah

Mbak Nirah

“Anto kapan mainnya, Nduk?”,tanya ibu. Yang orang-orang tahu, ibu berusia 50 tahun. Tapi bila kau membaca akta lahir dan KTPnya, ibu harusnya baru lahir 46 tahun lalu. Di rumah yang sama. Ia terpaksa menuakan diri tuk lamaran PNS waktu itu. Pekerjaan yang kini telah ditanggalkannya  4 tahun karena sakitnya.

Tingginya sekitar 150 cm. Beratnya aku tak tahu pasti karena ibu makin kurus. Ibu tercatat pernah opname karena darah tinggi. Dokter juga menyatakan, masih ada dua penyakit dalam lainnya. Tapi, bukan komplikasi itu yang membuatnya pensiun dini.

Kursi yang diduduki ibu tiap menonton televisi sebenarnya kursi tua. Hanya kayunya memang masih bagus. Tinggi kaki kursi itu sekitar dua jengkal. Kayunya dicat hitam berukiran khas Jepara dengan bantalan merah menyala. Nampak kontras dengan kulit ibu yang kuning bersih. Ibu tetap nyaman di situ meski bantalannya mulai mengendur dan mengelabu.

Setiap Senin-Jumat pukul 19.00 tepat, ibu akan memakai daster lalu duduk di kursi itu. Tak pernah terlambat, tak pernah terawal. Bila jam dinding ruang keluarga rusak, ibulah yang akan segera cerewet meminta Mas Nono, tukang kebun ibu, tuk memanjat dinding.  Membetulkannya atau sekedar mengganti baterai. Mas Nono yang bertugas menemaninya saat aku tak di rumah ibu. Kuamati sejak peristiwa itu lelaki yang mirip Mastur ini makin humoris. Ia satu-satunya orang yang bisa membuat ibu tertawa hingga menangis.

Lalu, Ibu akan berkali-kali mengganti channel TV. Mencari terus sinetron berjudul,”Jono Metropolitan 2”. Di sinetron itu ia akan melihat anaknya beradu akting dengan artis-artis ibu kota. Itu yang membuatnya bangga. Sekaligus yang membuatnya gila.

“Ibu bener-bener jengkel dengan Yu Juwari tadi. Bisa-bisanya dia percaya gosip Anto kena narkoba!”,ucapnya hampir tiap malam. Dengan nada laiknya ibu-ibu jengkel. Tapi dari ekspresinya terlihat upayanya menahan diri. Marah-marah memang bukan tabiatnya. Yang sering membuatku mengelus dada adalah ibu tak pernah ingat Yu Juwari terakhir ia temui 5 tahun lalu.

“Nduk, kamu ga percaya to Mas Anto ditangkap gara-gara membunuh lonte? Gak mungkin  Anto main perempuan. Apalagi perempuan murahan. Dia kan dulu murid kesayangan Pak Wiyono!”,kejengkelannya di lain malam. Pak Wiyono itu Kiai kampung. Dan yang ibu sebut pelacur itu sebenarnya bukan pelacur. Ia petugas hotel naas. Menjadi korban mabuk Mas Anto.

Keluarga korban dulu pernah hampir mengamuk di sini. Wajar. Aku sebenarnya iba pada keluarga korban. Siapa yang tak kasihan melihat keluarga kehilangan tulang punggungnya. Namun, mereka tak jadi meluapkan dendam. Mereka justru kasihan melihat kondisi ibu saat itu. Mereka pasti tambah melas melihat kondisi ibu sekarang.

Sebenarnya warga kampung lainnya sama sepertiku, ingin berada di dekat ibu. Sebagaimana ibu dulu selalu dekat dengan mereka. Menjadi dilematis kala ibu justru mengamuk bila dijenguk. Warga harus memendam dorongan kebaikan mereka dalam-dalam. Kau tentu lebih tahu, lebih sakit mana memendam dendam dengan mengubur iba.

“Wis, kayane iki sinetronnya si Anto.”jempolnya tak lagi berlompatan di remote control. Nafasnya mulai kembali teratur. Punggungnya disandarkan. Menata rambut berombaknya yang mulai banyak beruban. Kadang dibiarkannya terurai hingga pundak, kadang diikatnya bila sedang kegerahan. Lenguhan sapi, kerik jangkrik, dan kungkongan kodok berebut dengar dengan acara TV.

Tak lama ibu kan bersedekap. Tangan kiri menggenggam telapak kanannya sambil melakukan pijatan kecil ke pangkal jempol. Lalu tiba-tiba ibu agak membungkuk. Kepalanya mendekat ke layar TV pemberian mas Anto. Matanya memicing dan dahinya berkerut. Seolah TV sedang menayangkan adegan yang tak begitu dipahaminya. Atau, ia menduga-duga apa cerita berikutnya.

“Mas Anto aktingnya makin bagus yo, Nduk.”,katanya sumringah pada. Padahal, tak ada sama sekali wajah mas Anto di iklan itu.

***

Mas Anto sempat sangat terkenal sebagai bintang film dan sinteron. Perantauannya ke Jakarta dimulai dari ajakan Paman Ruli. Ibu sebenarnya berat hati melepas putra satu-satunya itu. Ibu lebih ingin Mas Anto menyelesaikan kuliahnya di pertanian. Ratusan hektar lahan telah ibu siapkan.

Tapi paman yang jadi produser di ibu kota tak henti membujuknya. Paman menganggap Mas Anto dianugerahi bakat dan tampang aktor besar. Mas Anto menyadarinya sejak dulu. Mbak Nira melihat perubahan polah Mas Anto. Mas Anto yang biasanya tak banyak permintaan, menjadi pemuda paling rewel yang pernah ia lihat.

Mas Anto berusaha menenangkan ibunya dengan berjanji hanya merantau 2 tahun saja. Sekedar mencicipi rasa jadi artis, katanya. Toh yang mengajak adalah pamannya sendiri. Maka ibu, setelah meminta petunjuk Mbah Wongso, akhirnya mengabulkan keinginan Mas Anto. Tak lupa berpesan agar tidak kecantol gadis Jakarta.

“Di sini sudah ada calonmu, Nak. Ya ta, Nduk?”,sambil melirik ke arahku membuatku tersipu.

Seperti yang diharapkan, karir Mas Anto berjalan mulus. Sangat mulus malah. Ibu makin bangga dengan putranya. Apalagi bila Ibu Lurah ikut memuji-muji akting Mas Anto di acara rutin LKMD. Para bakul di pasar juga pasti menanyai ibu kabar Mas Anto.

“Putrane jan, makin pinter akting ya.”komentar pedagang suatu hari. “Ah, biasa saja.”jawab ibu. Padahal, ia tak bisa menutupi rasa bangganya. Tapi kadang ibu justru terlihat memikirkan sesuatu bila  Mas Anto dipuji.

Yang kutahu ibu sebenarnya justru khawatir Mas Anto lupa daratan. Suatu ba’da maghrib, saat aku bantu beres-beres tuk acara rapat RT di rumahnya, kudengar ibu bergumam sangat khusyu.

Tak bisa kudengar jelas do’a apa saja yang dipanjatkan ibu. Aku hanya mendengar nama Mas Anto sering disebut. Dan di akhir doa, namaku juga akan disebut. Do’a agar berjodoh, katanya begitu tahu aku mengamatinya . Do’a yang dulu membuat hatiku bergemuruh. Terbanjiri kenangan dengan Mas Anto sejak kecil.

Lalu, ibu akan meniup-niup sekantung tanah dari Mbah Wongso. Kata ibu, tanah itu berkhasiat membuat Mas Anto ingat kampung halamannya. Mengingatkan Mas Anto bahwa dia akan kembali menjadi tanah sehingga harus berhati dalam melangkah. Tapi dengan kondisi sekarang, aku ganti mendoakan ibu yang tetap fasih mendoakan mas Anto dan aku hingga kini. Bedanya, wajahku tak lagi merona karena doa jodoh itu. Aku justru makin melas dengan kepolosan ibu. Sedangkan pada Mbah Wongso, aku makin tak percaya!

Benarlah, di puncak karirnya berbagai masalah membelitnya. Berbagai kasusnya itu bukan gosip. Kata Paman Ruli, tak hanya majalah gosip, koran nasional pun memuatnya. Aku tak tahu. Di sini kami hanya bisa mengikuti perkembangannya lewat televisi.

Paman ikut merasa bersalah tak mampu menjaga Mas Anto. Ia tunjukkan dengan kunjungan rutinnya empat bulan sekali. Membawa makanan, pakaian, dan barang-barang khas orang kota serta sejumlah uang.

“Ini kiriman Anto ya?”,tanya ibu girang. “Iya, mbak”, paman mengiyakan setengah hati. Paman lebih memilih rasa berdosanya makin mengangah. Selama ini ibu tidak tahu semuanya pemberian adiknya. Bukan putranya.

***

“Ibu baru saja nonton Mas Anto nduk. Lawan maine ayu-ayu. Tapi kamu ndak usah cemburu. Mas Anto itu setia. Lebaran nanti katanya mau pulang. Tenang saja nduk, ibu yakin dia juga akan ngelamar kamu.”katanya sumringah di suatu siang.

Lagi-lagi aku harus berkaca-kaca bila mendengar ibu seperti ini. Aku berusaha tersenyum, lalu menjawab,”Inggih bu”. Singkat saja. Aku harus segera berpaling dari hadapan ibu. Tak ingin ketahuan menangis. Meski ketahuan pun, ibu akan segera lupa sebenarnya.

Celakanya ibu kadang mengikutiku. “Piye kabar ibumu? Oya, kamu barusan dari mana to?”, tanyanya pada suatu Kamis sore.

Mendengarnya dadaku makin serasa akan meledak. Menahan tangis dan pikiran selama ini. Di dadaku menggema kalimat-kalimat yang tak mampu kulahirkan,”Bu, haruskah aku jawab bahwa aku sudah dua tahun berumah tangga? Haruskah kuceritakan kutunda kehamilanku agar ibu tak tambah gila melihat perutku membuncit? Setengah mati kutenangkan suami – yang membuat pelipisku bengkak — dan keluarganya atas keputusanku ini. Lalu, kuatkah ibu mendengar jawaban, bahwa aku baru saja nyekar ke makam Mas Anto?”

TAMAT

Iklan

7 pemikiran pada “Mbak Nirah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s