Kemunduran yang Memajukan

Kemunduran yang Memajukan

Siapa bilang hidup harus selalu maju. Sesekali kita perlu mundur. Bahkan, ada mundur yang “wajib” dilakukan. Sebelum melangkah ke depan, kita perlu mundur selangkah dua langkah. Melihat lebih utuh apa yang ada di hadap kita. Seraya mengucap “Bismillah”. Kemunduran yang memajukan ini penting dilakukan. Akan lebih kecil kemungkinan terjebak pada kemajuan yang memundurkan.

Setelah mundur dan berbismillah ini, insya Allah akan lebih jelas sehingga tak salah arah. Tapi bila masih tetep burem meski Bismillah kita sudah sesuai tajwid dan tauhid, tetep maju saja. Berarti kabut itu menunggu didekati tuk kita terangi. Berarti radiasi lampu hidayah kita baru sekitar 30 cm saja. Begitu kita melangkah, 30 cm berikutnya akan kelihatan.

Kita juga perlu mewiridkan “ihdinash shirathal mustaqim” seraya menyadari bahwa jalan kehidupan itu tidak selalu lurus seperti rambutnya Pak Mustaqim. Kalaupun memang lurus seperti jari tahiyat kita, sangat mungkin ada lubang, kubangan, atau sekedar polisi (yang sedang) tidur.

“Wis pokoke Bismillah, mlaku!” kata temen saya bila menghadapi kegamangan langkah. Apabila kita terus menjaga kesadaran Al-Fatihah (Pembukaan) dari bismillah melewati ihdinash shirathal mustaqim lalu mengamininya, maka jalan akan terbuka hingga suatu saat kita akan menemukan “alhamdulillah”. Ada anugerah. Syukur-syukur yang mengamini bukan cuma kita. Tapi, ada jama’ah. Secara konsep sholat, langkah kita akan lebih ringan 27 kali. Sial-sialnya ya hanya 2,7 kali tergantung iman Anda sebagai imam.

Suatu saat mungkin Anda jadi makmum. Ya sama saja. Anda harus terus tetap sadar. Siap-siap mengoreksi bila imam khilaf. Bahkan, mungkin Anda yang ditunjuk imam tuk menggantikannya di tengah perjalanan.

Namun, di kehidupan ini jarang sekali kita murni jadi makmum. Kita tetap lebih berperan sebagai imam bagi kehidupan kita sendiri. Sebagaimana makmum punya banyak peluang mengambil keputusan. Tidak cuma waton ikut sholat.

Contoh, sebagai makmum (yang sadar), sebelum sholat kita perlu merapatkan barisan tanpa perlu menunggu komando imam –banyak imam yang lalai mengecek barisan sebelum sholat–. Kaki dengan kaki, bahu dengan bahu. Tak perlu memandang status sosial, usia, maupun aroma tubuh makmum sebelah. Bahkan, saat sholat pun kita perlu melangkah ke kiri, kanan, depan demi solidnya persatuan. Kita perlu memaklumi keterbatasan imam yang tak punya mata di belakang. Tak bisa dong setiap raka’at imam nengok belakang ngecek barisan.

Mungkin pula suatu hari kita hanya berdua dengan imam sehingga kita berposisi hampir sejajar dengannya. Tapi ada makmum baru, menarik kita ke belakang. Membuat kita jauh dengan imam. Kita mesti legawa menyesuaikan diri dengan yang baru ini. Ini pula contoh “kemunduran yang memajukan”

Nah, seperti biasa, tulisan saya bisa nggladrah ke mana-mana. Judul-judul tulisan saya itu sering hanya menggambarkan sebagian gagasan. Karena memang saya merasa masih kesulitan memilih judul yang tepat. Yang mampu menggambarkan keseluruhan tulisan.

Jadi, sebelum mundurnya terlalu jauh, kita akhiri saja sebentar lagi. Karena saya masih mendengar pembaca bertanya,”Gimana kalau ga nemu-nemu “alhamdulillahnya”?”. Ya sederhana. Itu tanda bagi kita tuk ber-Astaghfirullah

Iklan

Satu pemikiran pada “Kemunduran yang Memajukan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s