Badai Kiblat – Arabisasi

Badai Kiblat – Arabisasi, Islamisasi, Labelisasi dalam Universalitas

Tulisan bertanda “Badai Kiblat” berarti tulisan yang masih dalam draf kasar. Maaf bila belum selesai, dan bila menimbulkan salah paham. Karena tulisan-tulisan yang belum saya edit ini sengaja tetap saya publish supaya tidak membusuk di laptop. Kritik saran tentu diterima :)–

Sebenarnya, sejak berabad lalu Indonesia telah dimasuki berbagai macam hal yang berbau Arab. Pakaian, perhiasan, arsitektur, istilah bahasa, adat, dan pemikiran. Katakanlah peristiwa itu sebagai Arabisasi. Masalahkah?

Isu arabisasi muncul kembali beberapa tahun lalu. Bila Arabisasi sekedar infiltrasi budaya, sebenarnya ia bisa dikatakan bukan masalah. Apalagi, bila ia dihadapkan dengan budaya Jawa. Sejarah telah membuktikan bahwa Jawa telah memiliki local genius yang membuatnya mampu beradaptasi. Namun, ternyata ada orang yang mengaku njawani tetapi pemikirannya tidak njawani. Ia seperti kebakaran jenggot ketika melihat mulai banyak wanita yang tadinya berkebaya, menjadi berjilbab rapat. Singkatnya, ia berpendapat bahwa wanita berjilbab berarti “melawan” budaya jawa. Hmm.. mungkin karena orang itu melihat jilbab sekedar budaya timur tengah.

Pemikiran tadi justru dianggap lucu oleh seorang budayawan Jawa. Ia mengatakan kalau pemikiran demikian menandakan bahwa ia tak paham budaya Jawa. Atau mungkin paham, tapi sekedar kulitnya saja. Ia menganggap budaya jawa sebatas ritual. Belum merasuk pada hakikat budaya. Sang budayawan tadi berkata,”Bukankah keadiluhungan Jawa justru karena ia mampu mengakomodasi berbagai budaya dan agama?” Maka, akan sangat aneh bila ada yang mengaku  njawani tapi muring-muring dengan berbagai perubahan dan pertentangan paham. Termasuk, kekhawatiran budaya Jawa akan tergilas oleh modernitas. Tidak! Jawa selalu bisa mengawal zaman. Dalam era modern kini dan nanti, budaya Jawa kan selalu ada meski dengan bentuk yang berbeda. Nut jaman kelakone

Lalu, bagaimana jika arabisasi ini dihadapkan dengan agama khususnya Islam? Goenawan Muhammad melihat

– Belum selesai, “badai”nya berhenti 😥

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s