Leadership Notes Series – Tuntutan

Jadi pemimpin itu bakal banyak menghadapi tuntutan. Para pendahulu menuntut kita sama seperti mereka. Seolah lupa bahwa kita dan mereka berbeda. Teman sejawat menuntut kita jadi sosok yang sempurna. Mengkritik begiti beginu. Seolah lupa kinerja mereka sendiri gimana. Seolah lupa mereka sendiri bagian dari masalah itu. Para adik menuntut ini itu. Begitu dipenuhi, mana tanggung jawabnya. Orang luar, akan menuntut tuk jaga citra. Seolah lupa, mereka sendiri yang membuat fitnah.

Jadi pemimpin akan menghadapi tuntutan. Pertama, tuntutan tentang kredibilitasnya sendiri. Jama’ah organisasi pergerakan, secara tak sadar akan menuntut pemimpinnya kenyang dengan pengalaman di lapangan. Bukan di belakang meja. Baru ia percaya. Pemimpin organisasi keilmuan, akan dituntut memiliki pesona pemahaman teknis. Tak sekedar manajerial. Baru ia diangguk-angguki anak buahnya.

Tapi pemimpin yang bersedia dipimpin Allah akan enjoy saja menghadapi itu semua. Dia akan mempertajam visinya. Lalu mengajak pendahulu, rekan sejawat, adik-adiknya, dan lingkungan sekitarnya tuk sama-sama melihat visinya. Visinya itu akan terejawantah dalam pola pikir, tutur laku, dan berbagai keputusan briliannya. Sehingga para sesepuh akan manggut-manggut. “O begitu to tujuanmu. Berbeda dengan kami dulu. dan itu bagus kok. Pantes kamu bertindak seperti itu karena memang visimu begitu. Kami DUKUNG SEPENUHnya.”

Pemimpin yang dipimpin Allah, akan menganggap kritikan sebagai jamu. sehingga ia malah berterima kasih atas jamu yang diberikan. Ia juga memaklumi, bahwa ada orang yang bisanya baru sekedar mengkritik. Resiko ia memahami orang lain ialah, hatinya kan terlegakan. Hati lega, kinerja bikin bangga. Ia bisa merangkul semua.

Pempimpin yang dipimpin Allah, akan lebih dewasa dalam membimbing adik-adiknya. Apalagi ia pernah di posisi si adik. Itu akan lebih membuatnya bijak dalam melihat berbagai curhat.

Pemimpin yang dipimpin Allah, akan terus meningkatkan kualitas diri. Bukannya sibuk mengacungkan jemari ke sana-sini. Dengan sendirinya citranya kan terjaga. Bukan karena orang lain menuntutnya jaga citra. Tapi karena Sang Pemimpinnya, Tuhannya, menginginkannya meningkatkan kualitas diri. Tuhannya, juga telah memberinya fasilitas di setiap duduk antara dua sujud, “Warfa’ni……Tinggikan derajatku”

Jadi jelas, resiko mengambil Allah sebagai pemimpin, ialah kualitas kita malah semakin meningkat di balik segala tuntutan itu. Itu semua diawali dari kesadaran bahwa setiap pemimpin, akan dituntut kepemimpinannya di dunia dan akhirat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s