Terima Panggilan

“Terima Panggilan”. Kalimat yang sering kita jumpa di papan iklan jasa servis komputer misalnya. Bagi para pemburu pekerjaan, panggilan tes adalah panggilan yang ditunggu-tunggu. Namun, di negeri tercinta ini dunia kerja begitu aneh. Perusahaan mengeluh mengapa tak ada calon karyawan sesuai kriteria. Para job seekers berheran mengapa tak kunjung terima panggilan. Padahal, sebenarnya ada banyak jalur menerima panggilan karir itu. Salah satunya, ECC UGM. Wadah antara pencari kerja dan perusahaan. Career Center, istilah kulonnya.

Lalu, apa sebenarnya yang membuat kita tak segera terima panggilan kerja? Mulai tidak tahu ada iven semacam ECC UGM, tidak tahu cara berpakai dan berjawab kala berwawancara, hingga salah paham tentang psikotes. Yang sering jadi kambing hitam adalah “Salah ambil jurusan”. Kuliah di bidangnya pun tak semangat, apalagi tuk berkarya. Tentang salah jurusan ini, NNKK pernah mengalor-ngiduli solusinya.

Semua berpangkal dari tak memahami diri. Tak pernah serius menginventarisasi potensi, minat, bakat, dan karakter serta ketrampilan diri. Berbuah kesalahan dalam menjual diri. Kesalahan dalam membuat “papan iklan terima panggilan” diri. Kita tak mampu menyajikan CV, penampilan, karakter dengan baik. Papan iklan yang menggambarkan siapa kita sebenarnya. Bila kita tak paham diri, bagaimana dengan perusahaan?

Masih ada faktor lainnya yang NNKK sebut dengan bersembunyi di balik Topeng Selective Jobseekers. Kita seolah gagah tidak mencoba lowongan kerja. Berdalih “Saya punya kriteria sendiri dalam memilih pekerjaan.” Kalimat itu tak salah. Benar. Yang perlu dicek adalah SIAPA yang mengata. Bila itu pencari kerja yang masih tak berpengalaman, tak berDAYA TAWAR, tentu tak wajar. Ianya terkena sindrom No Action Reasons Only (NARO).

Dengan paham diri, memang kita memiliki daftar kriteria seleksi. Tapi kita juga perlu berkaca. Sudahkah kita berdaya tawar? Layakkah kita menyeleksi? Maka, selain paham diri, perlu segera beraksi. Untuk apa? Mengumpulkan pengalaman yang tentu meningkatkan daya tawar. Kita bisa menganalogi dengan tahap berjodoh. Koleksi – Seleksi – Resepsi. KOLEKSI dulu pengalaman, ketrampilan, baru SELEKSI. Setelah punya DAYA TAWAR, baru kita layak mengklaim diri sebagai Selective Jobseekers. Terima saja panggilan yang ada. Baru kita boleh mereject panggilan yang tak sesuai prioritas kita.

Cukupkah faktor-faktor penolak panggilan itu? Belum. Selanjutnya NNKK bahas faktor yang sering terlupa di jaman nan makin hedonis seperti ini. Pernahkah kita tersadar, kita ingin menerima panggilan, tapi tingkah laku kita justru menolak panggilan? Maksud hati ingin menekan tombol hijau di handphone, tapi yang terpencet justru tombol merah. Itu semua karena mata hati kita memburam sehingga salah melihat tombol.

Kita ingin menerima panggilan bos, tapi kita selalu menolak panggilan Sang Pemilik Bos. Kita ingin terima panggilan, tapi kita me-reject panggilan Allah. Azan kita abaikan, solat pun terlambat. Padahal, tak jauh kan jarak GSP dengan Masjid Kampus UGM? Khawatir kehilangan peluang panggilan kerja? Pilih mana, dipanggil malaikat maut dalam keadaan iri dengki dengan pesaing? Atau saat hati kita tenang, tulus, ikhlas, bahkan mendoa kebaikan sesama pencari kerja yang notabene pesaing kita?

Seperti yang pernah ditutur Ust. Yusuf Mansur. Si Fulan, hampir setiap hari mengirim lamaran kerja. Tak kunjung terima panggilan. Tapi ia, selalu terima panggilan Allah. Ia penuhi azan, ia penuhi panggilan orang tua. Ia tak segan meminta maaf pada orang tuanya karena ridho Allah ada pada ridho orang tua. Ia salurkan panggilan-panggilan kerja itu pada teman-temannya yang membutuh. Ia jadi sumber info lowongan kerja. Tak takut tersaingi. Ia lakukan terus-menerus. Sampai tanpa ia sadari, kerja kecil itu justru menjadi kerja seriusnya. Ya, ia menjadi “makelar” kerja, seperti ECC UGM. Si Fulan, dari sekedar asal terima panggilan itu, justru menjadi pemberi panggilan. Itu karena ia selalu Terima Panggilan. Panggilan siapa? Anda sudah tahu jawabanNya.

Iklan

14 pemikiran pada “Terima Panggilan

  1. Saya setuju dengan anda mengenai keseriusan menekuni bidang yang kita suka,, sebenernya meskipun salah jurusan kalau kita bersyukur dan mencintai pekerjaan itu, saya rasa itu tidak lagi sebagai alasan orang tidak pernah sungguh dalam pekerjaannya dan pastinya bukan kita mencari pekerjaan, tapi kerjaan yang akan mencari kita. alias dapat panggilan kerja. 🙂

  2. setuju sm pak bondan ttg tulisannya,
    senernya in i mengenai pemahaman poitensi diri dan melihat peluang, bukan begitu pak bond??
    dr point2 yg pak bondan kemukakan td,
    1. Qt tdk tahu bahwa ada wadah macam ECC UGM sbg perantara (hhe, sy jg baru tw skrg)
    2.Qt yg ga paham apa sih kekuatan bargaining Qt? so kyknya perlu jg deh pak bondan bwt tulisan ttg meningkatkan daya bargaining diri, memahami potensi diri, etc.
    3. harusnya setiap orang pandai melihat peluang kerja yg bisa diambil ya, ada juga yg uda tau ada peluang namun tidak mau mengambilnya, ya itu td, mungkin selective abisss…
    4. seringkali orang melupakan kekuatan yg tak terlihat, kek kekuatan doa. right? kek yg dikemukan di ceritaY ust Yusuf Mansur td…

    harapannya setiap orang mampu mengetrahui potensi dirinya, lalu dinaikkan kualitasnya adar berdaya tawar tinggi, trus pandai memanfaatkan peluang, jgn lupa utk melibatkan ALLAH dalma setiap aktivitass yg dijalaninya..

  3. Setuju sm pak bondan ttg tulisannya,
    sebenernya ini mengenai pemahaman potensi diri dan melihat peluang, bukan begitu pak bond??
    dr point2 yg pak bondan kemukakan td,
    1. Qt tdk tahu bahwa ada wadah macam ECC UGM sbg perantara (hhe, sy jg baru tw skrg)
    2.Qt yg ga paham apa sih kekuatan bargaining Qt? so kyknya perlu jg deh pak bondan bwt tulisan ttg meningkatkan daya bargaining diri, memahami potensi diri, etc.
    3. harusnya setiap orang pandai melihat peluang kerja yg bisa diambil ya, ada juga yg uda tau ada peluang namun tidak mau mengambilnya, ya itu td, mungkin selective abisss…
    4. seringkali orang melupakan kekuatan yg tak terlihat, kek kekuatan doa. right? kek yg dikemukan di ceritaY ust Yusuf Mansur td…

    harapannya setiap orang mampu mengetrahui potensi dirinya, lalu dinaikkan kualitasnya agar berdaya tawar tinggi, trus pandai memanfaatkan peluang, jgn lupa utk melibatkan ALLAH dalam setiap aktivitas yg dijalaninya

  4. sebenarnya yang diperlukan dalam hidup ini adalah keseimbangan antara habluminallah, habluminannas, dan hablumminafsi… Jika ketiganya sudah kita atur porsinya dengan baik maka niscaya ‘kesuksesan’ akan datang… keep spirit my bro!!!!

  5. wah ada yang manggil “pak. bondan” tadi.. saya kok kurang setuju,.. kan pak bondan itu identik dengan “maknyus” nya itu, hehe.. piss :Y

    kalo menurut ku sih terima panggilan apa tidak terima panggilan itu ter gantung kepada kita sendiri sih.. (panggilan terjadi karena ada kontak)..

    kalo konteksnya kesuksesan, semua orang di dunia ini mendapatkan hak dan porsi yang sama atas kesuksesan, tergantung Tuhan mengizinkan apa tidak..
    maka yakinkan kepada Tuhan bahwa kita berhak..

    oia pahami juga prinsip kacamata kuda dalam pengembangan karir dan aktualisasi diri,..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s